Cambridge Analytica: Skandal yang Bikin Mark Zuckerberg Jantungan

Cambridge Analytica: Skandal yang Bikin Mark Zuckerberg Jantungan

Teknologi 263

Untuk pertama kalinya, bos Facebook itu duduk berhadap-hadapan dengan anggota Kongres AS. Mengenakan jas hitam, kemeja putih, dan dasi biru langit, orang yang dikenal selalu berpakaian sederhana itu tampak berbeda.

Shop with Me

Sandal tali desper 3cm GSL
IDR 35.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Zinc Zink Capsule Tiens Original Suplemen Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak Peninggi Penggemuk Badan Dewasa Anak Kecerdasan Otak Permanen ampuh Obat herbal Alami Termurah Isi 60 Kapsul
IDR 152.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
1 DUS / KARTON SO KLIN LIQUID DETERGENT SACHET
IDR 52.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Sprei kasur Bahan Polymicro
IDR 23.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Tapi, ketimbang seperti miliarder muda pemilik salah satu platform media sosial terbesar di dunia, ia lebih mirip terdakwa yang sedang menunggu vonis hakim. Raut wajahnya terlihat kikuk dan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan sekenanya.

Senator Dick Durbin membaca situasi tersebut, lalu mengajukan pertanyaan, “Apakah Anda berkenan memberitahukan kita semua di sini nama hotel tempat Anda menginap semalam?”

Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia menjawab, “Tidak.”

Seisi ruangan tertawa.

Pertanyaan Senator Dick Durbin seperti merangkum inti masalah yang dipersoalkan dalam lima jam sesi hearing itu. Mark Zuckerberg dan Facebook diduga bersekongkol dengan Cambridge Analytica, perusahaan konsultan asal Inggris dalam mengumpulkan data 87 juta profil Facebook secara ilegal.

Sejak saat itu, media ramai-ramai menulis kasus ini sebagai “Skandal Cambridge Analytica”. 

Siapa Cambridge Analytica?

Skandal Cambridge Analytica awalnya terkuak setelah seorang whistleblower bernama Christopher Wylie memberikan kesaksiannya di surat kabar The Observer dan New York Times bahwa perusahaan itu secara ilegal mengumpulkan data pribadi 50 juta lebih pengguna Facebook di AS pada 2014, lalu 30 juta pengguna lain pada 2016.

Wah, ngomong-ngomong tentang pelanggaran data pribadi kayak gini jadi inget kisahnya Edward Snowden, ya?

Embrio Cambridge Analytica pada awalnya adalah Global Science Research (GSR), perusahaan yang didirikan oleh seorang peneliti dari Universitas Cambridge, Aleksandr Kogan, dan kolega-koleganya.

Lingkup kerja GSR saat itu berfokus pada penelitian tentang kepribadian manusia dan kecenderungan politik seseorang dari profil Facebook. Untuk melakukan ini, GSR membuat sebuah aplikasi bernama "thisisyourdigitallife". 

Potensi GSR mulai dilirik oleh sebuah kontraktor militer dan keamanan ternama, SCL Group. Setelah beberapa pertemuan, GSR dan SCL Group sepakat membentuk sebuah perusahaan konsultan politik bernama Cambridge Analytica.

Alexander Nix ditunjuk menjadi CEO, sementara seorang politisi senior AS, Steve Bannon, ditunjuk menjadi Vice President. Relasi Steve Bannon dengan para elit politik AS ternyata berbuah manis.

Robert Mercer, miliarder dari Partai Republik, bersedia mendanai perusahaan baru itu sebesar 15 juta dolar AS. Sebuah bukti awal bahwa Cambridge Analytica bukan perusahaan konsultan politik biasa.

Apa yang Dilakukan Cambridge Analytica?

Kampanye Senator Ted Cruz dari Partai Republik jadi ujian pertama perusahaan baru ini. Dan benar saja, dengan kekuatan dari segi teknis dan jejaring relasinya, Cambridge Analytica meraih sukses besar.

Petualangan Cambridge Analytica berlanjut. Pada 2016, Cambridge Analytica direkrut Donald Trump untuk membantunya memenangkan pilpres melawan kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton. Sebuah laporan menyatakan Trump bersedia membayar jasa Cambridge Analytica sebesar 6,2 juta dolar AS.

Memenangkan pemilu di salah satu negara demokrasi terbesar di dunia tentu bukan hal yang mudah. Tapi, Cambridge Analytica punya hampir semua sumber daya yang dibutuhkan, mulai dari nomor handphone, kecenderungan politik, hingga bagaimana kecenderungan pengguna menyelesaikan masalah.

Dalam dunia marketing, hal ini disebut dengan “penargetan psikografis”, yakni penargetan audiens berdasarkan perilaku, prinsip atau nilai yang dianut, hingga gaya hidup. Hasilnya, Trump menang pada Pemilu AS tahun 2016.

Tapi, yang nggak disangka-sangka Cambridge Analytica adalah kemunculan Christopher Wylie si whistleblower. Dalam sesi hearing bersama Kongres AS tadi, Zuckerberg bilang kalo seandainya dia mengetahui persoalan ini sejak awal, udah pasti dia akan melarang aktivitas Cambridge Analytica di Facebook.

Meskipun bukan pelaku utama, tapi Zuckerberg dan Facebook dianggap lalai dalam melindungi data pribadi pengguna dan diwajibkan membayar ganti rugi sebesar 725 juta dolar AS.

Wah, gede banget! Semoga Mark Zuckerberg nggak kena serangan jantung, ya, ngeliat angkanya.

Ngomong-ngomong soal jantung, Ladies mau tau rahasia jantung sehat? Download Newfemme sekarang dan temukan jawabannya!