Musk dan Zuckerberg Siap Baku Hantam di Ring!

Musk dan Zuckerberg Siap Baku Hantam di Ring!

Teknologi 134

“Saya siap bertarung dengan dia di ring,” tulis Elon Musk di akun X pribadinya. 

Shop with Me

Mamypoko
IDR 80.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
1 Lusin Bedong T1 90 x 72 cm / Selimut Bayi Katun Flanel isi 12 pc
IDR 82.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Botol Minum Rainbow 1L
IDR 75.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Kaos Salur
IDR 119.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Tak lama kemudian, orang yang dimaksud Musk membalas di akun Instagram pribadinya, “Kirimkan lokasinya.” Orang itu adalah Mark Zuckerberg, CEO Meta. 

Gayung bersambut, Dana White, bos UFC (Ultimate Fighting Championship), mengatakan siap memfasilitasi pertarungan itu jika keduanya benar-benar serius.

“Pertarungan terbesar sepanjang masa adalah Floyd Mayweather Jr. melawan Conor McGregor, tapi menurut saya pertarungan Musk melawan Zuckerberg ini tiga kali lipatnya,” ucapnya.

Berawal dari Perang Sindir

Semua bermula pada 1 September 2016.

Hari masih pagi. SpaceX, perusahaan penerbangan luar angkasa milik Musk, tengah mempersiapkan pra-peluncuran roket Falcon 9 yang membawa satelit AMOS-6. Semua tim sudah berada dalam posisinya. Hitung mundur dimulai. Sampai tiba-tiba…

DUARRR!!

Falcon 9 meledak di pad-nya tanpa sempat meluncur. Juru bicara SpaceX, Phil Larson, dalam pernyataannya ke pers menjelaskan bahwa insiden itu disebabkan karena anomali di tangki oksigen Falcon 9 yang merembet ke mesin propeller.

Zuckerberg menyampaikan kekecewaannya, “Saya sangat kecewa karena insiden ini telah menghancurkan satelit kami yang dipersiapkan untuk menghubungkan banyak orang di benua Afrika.”

Zuckerberg berhak menyampaikan kekecewaannya tersebut lantaran satelit AMOS-6 yang dibawa Falcon 9 adalah satelit milik Facebook dan Eutelsat, perusahaan satelit asal Perancis. 

Setahun kemudian dalam sebuah sesi Facebook Live, audiens menanyakan pendapat Zuckerberg soal kecemasan Musk atas perkembangan AI. Zuckerberg menjawab bahwa dia, berbeda dengan Musk yang pesimis, justru melihat hal tersebut dalam kacamata yang positif.

Musk kemudian merespons pernyataan Zuckerberg, “Saya sudah bicara dengan dia soal ini. Pemahamannya tentang AI ternyata masih dangkal.”

Tidak berhenti sampai di situ, ketika Facebook tersandung skandal Cambridge Analytica pada 2018, Musk nggak menyia-nyiakan kesempatan ini buat ikut mempopulerkan campaign #DeleteFacebook. Makin panas, perang sindir itu merembet hingga lingkaran terdekat mereka.

Ketika Musk mengakuisisi Twitter (yang kemudian berganti nama menjadi X), Chris Cox, Chief of Product Meta, menyindir Musk yang dianggap membuat kebijakan-kebijakan kontroversial dan menyatakan persiapan peluncuran platform baru tandingan X.

Platform yang dimaksud Cox adalah Threads. Dibuat mirip seperti X, Threads langsung menuai serangan dari Musk. Musk bahkan menggugat Meta atas dugaan pelanggaran rahasia perusahaan dan pembajakan karyawan.

Zuckerberg balas menyerang dengan menunjukkan Musk melakukan sensor untuk kata “Threads”. Puncaknya, seperti yang Ladies baca di awal, Musk menantang Zuckerberg buat menyelesaikan perselisihan mereka di atas ring.

Selain sindir-menyindir yang bikin mereka jadi emosian gini, baik Musk maupun Zuckerberg sama-sama punya rekam jejak kurang baik yang juga sempet menyedot perhatian publik.

Berlanjut dengan Perang Skandal

Sebagian kalangan bilang kalo kritik Musk sebenernya valid karena Zuckerberg dan Meta emang terbukti melakukan pelanggaran privasi.

Organisasi Konsumen Eropa (BEUC), misalnya, menduga Meta melakukan pengumpulan data ilegal dari ratusan juta pengguna Facebook dan Instagram di Eropa buat menganalisis orientasi seksual, kondisi emosional, hingga kerentanan terhadap adiksi tanpa persetujuan pengguna.

Meta kemudian terbukti melanggar regulasi mengenai perlindungan data dan didenda sebesar 1,3 miliar dolar AS.

Dan, tentu yang jadi sorotan terbesar adalah skandal Cambridge Analytica. Skandal ini terkuak pada 2018 setelah surat kabar The Guardian dan New York Times memuat kesaksian seorang whistleblower yang mengatakan bahwa Cambridge Analytica mengumpulkan data 87 juta profil Facebook secara ilegal.

Diketahui kemudian bahwa data tersebut dikumpulkan untuk membuat pemodelan perilaku pengguna untuk pemodelan perilaku politik di Pemilu AS 2016 yang dimenangkan Donald Trump.

Gimana dengan Musk?

Musk juga sempat beberapa kali jadi headline karena skandal-skandalnya, salah satunya adalah dugaan pelecehan seksual.

Seorang awak kabin SpaceX pernah menceritakan tindak pelecehan seksual yang dilakukan Musk pada 2018. Korban bilang bahwa kejadian itu bermula ketika sang bos menyuruhnya masuk ke ruangannya. Sesampainya di dalam, tiba-tiba Musk melakukan tindakan tidak senonoh yang menurutnya telah mengarah pada pelecehan seksual.

Kasus ini menjadi sorotan karena Musk telah melanggar kode etik dan perlindungan terhadap hak-hak karyawan wanita, salah satunya terbebas dari pelecehan.

Kasus ini berakhir setelah Musk sepakat melakukan ganti rugi sejumlah uang dengan syarat korban berjanji tidak melanjutkan kasus ini ke pengadilan.

Selain itu, skandal lain yang juga cukup menggemparkan publik adalah akuisisi Musk atas X. Saat itu, tidak lama setelah pengakuisisian, Musk langsung memecat tak kurang dari 6 ribu karyawan.

Selain alasan efisiensi, aktivitas-aktivitas yang dianggap “tidak produktif” seperti tidur-tiduran, bermain di ruang santai, atau sekadar duduk-duduk di perpustakaan kantor jadi alasan Musk melakukan pemecatan. Sebagian karyawan yang dipecat bahkan mengaku terkejut karena aksesnya ke server internal langsung diputus tanpa pemberitahuan apapun.

Terus gimana kelanjutan dari ribut-ribut ini? Sampai sekarang, Zuckerberg dan Musk masih melanjutkan perseteruannya di dunia maya. Kalo keduanya nggak saling menurunkan egonya, bisa-bisa baku hantam di ring benar-benar terjadi.

Wah, wah... bisa repot kalo gini urusannya, ya, Ladies?

Mau tau update informasi terkini seputar dunia teknologi lainnya? Download Newfemme sekarang dan jadi yang paling up-to-date!