Cemas Karena FOMO? Cobain JOMO!

Cemas Karena FOMO? Cobain JOMO!

Gaya Hidup 355

Ladies pernah sengaja nggak ikut ke acara teman, melewatkan tren-tren, dan nggak mau tau apa yang lagi banyak diomongin orang demi mendapat ketenangan batin?

Shop with Me

Toples Kaca Penyimpanan Makanan Bamboo Cover - YS-7061
IDR 61.600
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Zinc Zink Capsule Tiens Original Suplemen Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak Peninggi Penggemuk Badan Dewasa Anak Kecerdasan Otak Permanen ampuh Obat herbal Alami Termurah Isi 60 Kapsul
IDR 152.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Sweetshirt dress by H&M
IDR 200.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Serum The Ultimate Brightening Glowing NSY / Anti Acne / Anti Aging / Dark Spot Serum Terbaik Masa Kini Mencerahkan Wajah, Menghilangkan Flek, Mengkenyalkan Kulit, Menyamarkan Noda Bekas Jerawat, Memutihkan Wajah, Anti iritasi dan Dapat Digunakan 14 Thn
IDR 59.900
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Kalo pernah, Ladies berarti udah mempraktikkan Joy of Missing Out (JOMO) alias antitesis dari Fear of Missing Out (FOMO).

Apaan, tuh?

Apa itu JOMO?

Dari namanya aja udah bisa ditebak kalo JOMO bisa diartikan sebagai tindakan menghilang sementara waktu demi mendapat kebahagiaan.

Istilah JOMO pertama kali diperkenalkan oleh Anil Dash, seorang blogger asal AS. Dalam sebuah tulisan di blog-nya tertanggal 19 Juli 2012, Anil memberikan gambaran tentang apa yang ia maksud dengan JOMO. 

Ketika ia dimintakan saran oleh orang yang pindah ke New York City, ia biasanya memberitahu transportasi apa yang sebaiknya digunakan, tempat publik mana saja yang harus dikunjungi, dan lain-lain.

Namun, ketika dimintakan saran tentang acara-acara apa saja yang sebaiknya didatangi di kota “The Big Apple” itu, ia mengatakan bahwa sangat tidak apa-apa jika ada acara yang tidak didatangi, entah karena dompet sedang menipis, kehabisan tiket, atau ketinggalan bus.

Sangat lumrah pula, lanjutnya, dalam suatu acara tiba-tiba seseorang memutuskan pulang karena tidak mengenakan pakaian terbaik, mengenakan pakaian yang terlalu heboh, atau harus tidur cepat karena besok masuk kerja.

Atau sangat wajar apabila seseorang tidak keluar rumah karena ingin bermalas-malasan, membaca buku, menonton film, atau kegiatan-kegiatan lain. Dan di saat-saat itulah seseorang akan menyadari bahwa ternyata tidak mengapa jika ada acara atau tren yang terlewatkan. 

Anil melanjutkan, ketika seseorang bertambah tua, menghabiskan waktu bersama anak, seperti membacakan buku cerita kepada anak saja sudah cukup membuat bahagia.

Pada akhirnya, tutupnya, kebahagiaan akan tercapai jika seseorang sudah mengambil kendali penuh atas dirinya dan tidak lagi disetir oleh hal-hal lain di luar dirinya.

Langkah-Langkah Mencapai JOMO

Jika FOMO berpotensi memicu munculnya rasa cemas, stres, terganggunya kesehatan mental, hingga kehilangan kepuasan atas hidup, JOMO memicu dampak sebaliknya. Beberapa penelitian menemukan bahwa JOMO berdampak pada peningkatan fokus, pengendalian atas obsesi, dan pulihnya kesehatan mental seseorang.

Penelitian lain menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar menghabiskan waktu terlalu lama di dunia maya, melainkan berakar dari hasrat membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Makanya nggak heran kalo banyak orang yang udah nggak buka medsos tapi tetep terjangkit FOMO.

Di sisi lain, JOMO emang bikin Ladies jadi nggak ter-update berita atau isu terkini, nggak ter-update gosip pertemanan terbaru, dan update-update lain. Tapi, justru karena itulah Ladies merasa sudah cukup bahagia dengan apa yang ada. 

Apa aja yang harus Ladies lakukan buat mencapai JOMO?

1. Temukan Akar Masalahnya 

Seperti disebutkan tadi, menghilang dari medsos atau sering disebut detoksifikasi medsos nggak serta-merta menghilangkan kecemasan akibat FOMO. Pertama-tama, Ladies perlu menemukan akar kecemasan dalam diri Ladies. Kalo misalnya Ladies sering mengalami cemas karena badmood, Ladies perlu mengatasi badmood ini terlebih dahulu.

Selama Ladies merasa cemas kalo nggak mendapat gosip terbaru, selama itu pula Ladies akan merasa FOMO. Atau selama Ladies merasa harus mengikuti tren fashion, selama itu pula Ladies nggak akan puas dengan apa yang ada.

So, temukan dulu akar masalahnya sebelum bisa mencapai JOMO, ya!

2. Berani Berkata ‘Tidak’

Mulai dari sekarang, Ladies harus berani memutuskan mana saja yang prioritas dan tidak. Nggak ada salahnya, kok, kalo Ladies menolak ajakan teman buat bergosip, menolak ajakan kolega buat menghabiskan waktu di bar, atau menolak ajakan orang lain buat sekadar kumpul-kumpul. Dengan kata lain, Ladies harus mulai berani bersikap asertif.

Betul, ini bakal terasa berat kalo Ladies adalah seorang introvert dan ‘nggak enakan’. Maka, penting buat Ladies melakukannya perlahan-lahan secara konsisten sehingga Ladies akan terbiasa dan nggak lagi merasa ‘nggak enakan’.

3. Prioritaskan Diri Sendiri

Bukan, memprioritaskan diri sendiri bukan berarti egois. Sama sekali nggak ada yang salah dengan memilih menghabiskan waktu bermalas-malasan di rumah ketimbang ke acara kumpul-kumpul kolega. Bahkan, memprioritaskan diri sendiri akan berdampak positif pada meningkatnya self-esteem Ladies.

Pada akhirnya, kita semua akan menyadari kalo memprioritaskan diri sendiri untuk mencapai kebahagiaan nggak bisa tergantikan oleh apapun, seperti kata Anil Dash tadi.

Kebahagiaan emang kompleks dan nggak bisa cuma dicapai sekadar dengan mengaplikasikan JOMO, tapi setidaknya Ladies mulai mendapat perspektif lain bahwa Ladies bebas melakukan apapun untuk mencapai kebahagiaan selama nggak merugikan orang.

Selain JOMO, apa lagi yang bisa bikin kita tenang dan bahagia? Temukan jawabannya hanya di Newfemme!