Dating Apps Bikin Kita Makin Kesepian?

Dating Apps Bikin Kita Makin Kesepian?

Teknologi 100

Kesepian,” ucap mantan CEO Tinder, Renate Nyborg, “adalah ancaman terbesar setelah krisis iklim.”

Shop with Me

Kaos Salur
IDR 119.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Poise Facial Foam
IDR 15.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Eteris Spray #WFHedition | Spray Anti Nyamuk Alami | Aromaterapi (2 Pcs)
IDR 27.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Sabun Nuvo Cair Kemasan 60 ml
IDR 3.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Ucapan Renate Nyborg masuk akal. Siapa bisa hidup tanpa orang-orang terkasih? Tanpa orang-orang yang menyayangi kita? Tanpa mereka yang peduli dengan kita? 

Sayangnya, nggak semua orang punya hubungan yang sehat dan nggak semua orang berani memulai hubungan baru karena alasan-alasan tertentu.

Terutama untuk alasan kedua, dating apps hadir untuk membantu mereka mencari pasangan potensial. Tinder, misalnya, dibuat dengan fitur-fitur yang memudahkan penggunanya untuk mencari dan menemukan pasangan potensial sesuai kriteria. 

Pengguna Tinder cukup swipe left kalo profil orang lain dirasa kurang cocok dan swipe right kalo dirasa cocok. Tulisan “It’s a Match!” bakal muncul kalau keduanya swipe right, dan mereka bisa kenalan lebih jauh lewat fitur chat. 

Kayak main game, ya? 

Tapi, ladies tau nggak kalo ternyata justru gamifikasi itu yang bikin kita kesepian alih-alih bisa menjalin hubungan yang bermakna? 

Masalah Gamifikasi

Kayak namanya, gamifikasi adalah penggunaan konsep dan unsur-unsur yang umumnya ada di dalam game untuk menyelesaikan masalah. Gamifikasi jadi cara paling populer bagi banyak bisnis untuk memberikan kesan fun dan partisipatif pada konsumennya. 

Dalam kasus Tinder, gamifikasi ini terjadi ketika pengguna melakukan swiping dan menggunakan fitur-fitur berbayar seperti Boost, Rewind, dan Super Like. Semua fitur ini ditawarkan agar teks “It’s a Match!” muncul di layar pengguna. Dari sisi pengguna, teks ini memberikan validasi bahwa profilnya disukai.

Validasi muncul ketika Anda swipe right profil wanita cantik dan dia balik swipe right profil Anda. Anda lalu berkata dalam hati, ‘Wah ternyata wanita secantik ini tertarik dengan saya.' Begitulah, rasanya benar-benar seperti candu,” kata seorang laki-laki pengguna dating apps yang diwawancarai majalah Vanity Fair.

Hanya saja, berbeda dengan game yang menuntut pemainnya untuk sampai di level terakhir, tidak terbatasnya profil yang bisa di-swipe membuat dating apps layaknya game petualangan yang ending-nya nggak diketahui.

Sebelum tidur? Swiping. Abis makan? Swiping. Lagi nunggu ojek online? Swiping. Lagi nongkrong bareng temen? Swiping. Di kamar mandi? Swiping juga, dong!

Baca juga :

Cyberpunk: Gambaran Masa Depan Suram dengan Teknologi Super Canggih

 

Melimpahnya profil pengguna ini berdampak pada perasaan dijadikan opsi alih-alih prioritas. Makanya nggak heran kalo main dating apps mirip kayak main judi: kita nggak tau apakah orang yang match sama kita bener-bener tertarik, cuma iseng, nggak sengaja kepencet, atau bahkan predator seksual yang sedang berpura-pura.

Kabar buruknya, hormon dopamin di otak kita sulit membedakan maksud orang lain, tapi sangat menyukai aktivitas seperti judi yang memicu adiksi, persis kayak ucapan laki-laki tadi.

Epidemi Kesepian

Masih inget ucapan Renate Nyborg di awal artikel ini? Saking mengancamnya kesepian, dalam survey yang dilakukan pada 20 ribu orang di AS pada 2018, diperkirakan lebih dari separuhnya mengalami kesepian dengan skor tertinggi diderita generasi Z dan milenial.

Survey yang lebih baru pada 2023 menemukan fakta yang lebih mencengangkan lagi bahwa hampir seperempat orang dewasa di seluruh dunia mengalami kesepian dalam tingkat sedang hingga parah. Besarnya persentase populasi yang mengalami kesepian ini sampai-sampai memunculkan istilah epidemi kesepian (loneliness epidemic).

Ironisnya, saat orang-orang ingin mencari dan mendapatkan hubungan yang bermakna lewat dating apps, gamifikasi membuat kebanyakan orang justru semakin merasa kesepian karena dampak adiktif yang ditimbulkan.

Sampai saat ini, berinteraksi, bersosialisasi, dan mempertahankan hubungan positif di dunia nyata masih jadi satu-satunya cara untuk mengatasi kesepian.

Jangan takut, Newfemme siap bantu Ladies menciptakan hubungan yang bermakna!