4 Pengaruh Dating Apps Terhadap Kesehatan Mental

4 Pengaruh Dating Apps Terhadap Kesehatan Mental

Kesehatan 350

1. Tekanan Psikologis

Siapa sih yang tidak tertekan ketika mendapat penolakan, benar bukan? Misalnya ketika sudah sama-sama terhubung, eh ternyata pesannya tidak dibalas, atau justru diabaikan saja. Pada akhirnya menyebabkan seseorang merasa tidak disukai dan tidak diminati, ujung-ujungnya mengalami tekanan emosional dan psikologis, belum lagi ketika dating apps berlanjut di kehidupan nyata. 

Shop with Me

Azzura Two Way Cake
IDR 27.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
One set crinkle
IDR 99.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Kondom Durex Invisible
IDR 45.000
Produk Baru NewFemme
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Wardah UV Shield Essential Sunscreen Gel SPF 30 PA +++ 40 ml
IDR 35.500
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Ada banyak pengalaman kencan pertama yang dianggap tidak menguntungkan serta canggung. Banyak orang merasa bahwa pertemuan langsung berbeda jauh jika dibandingkan dengan obrolan online, alias tidak sesuai ekspektasi. Ujung-ujungnya di-ghosting dan berakhir tidak menjalin hubungan apa-apa. 

Maka dari itu, orang yang menggunakan dating apps cenderung merasa lebih tertekan, cemas, atau depresi. Kejadian tersebut 3 kali lipat lebih tinggi daripada mereka yang bukan pengguna aplikasi. Lebih lanjut, semakin lama waktu yang dihabiskan untuk berselancar di aplikasi, maka semakin tinggi tekanan psikologisnya. Hal ini didukung karena banyak orang hanya ingin mendapatkan validasi eksternal.

Banyak orang punya ekspektasi terlalu tinggi ketika pertama kali bertemu teman kencan online

2. Kesepian dan Harga Diri yang Rendah

Ketika mendapatkan penolakan, banyak orang mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah ada masalah dengan fisiknya, keterampilan komunikasinya, atau kompatibilitasnya dengan calon kencan. Ketika sudah berulang kali mencoba menemukan yang tepat tetapi pada akhirnya tidak pernah berhasil, seseorang akan mulai merasa kesepian dan pada akhirnya mengalami putus asa.

3. Poor Body Image

Seperti pada kebanyakan dating apps, kita pertama kali akan diperlihatkan dengan foto seseorang. Jika penampilan dianggap menarik, barulah dilanjutkan koneksinya. Jadi demi menarik perhatian pengguna lain, terkadang apapun akan dilakukan agar terlihat lebih menarik. Itulah alasan mengapa dating apps kerap kali dikaitkan dengan poor body image atau citra tubuh yang buruk.

Pada beberapa kasus, ada orang yang sengaja menjalankan metode penurunan berat badan yang tidak sehat, misalnya dengan menggunakan obat pencahar, steroid anabolik agar terlihat menarik, atau diet ekstrem. Tapi di sisi lain, ada yang justru merasa aplikasi tersebut bermanfaat karena dapat membantu membentuk body image-nya sendiri.

4. Anonimitas dan Penipuan

Kembali pada fungsi awalnya, kencan yang terjadi melalui dating apps tidak berlandaskan atas kenal sama kenal, tidak juga berkenalan atas bantuan teman atau kerabat. Intinya, komunikasi atau pertemuan itu terjadi di antara dua orang yang saling tidak mengenal satu sama lain. Sayangnya, banyak orang memanfaatkan ini untuk melakukan penipuan.

Seseorang mungkin tidak memberikan fakta yang sebenarnya. Misalnya dengan menggunakan foto orang lain, tidak menyebutkan usia sebenarnya, berbohong terkait profesi, hingga niat mereka yang sebenarnya (misalnya berniat jahat dan tidak tulus). Ketika kebohongan itu terungkap, lagi-lagi timbul masalah kepercayaan, perubahan suasana hati, dan meragukan diri sendiri. 

Gunakan dating apps dengan bijak agar terhindar dari penipuan

Jadi, penggunaan dating apps mungkin akan berdampak pada kesehatan mental. Mulai dari tekanan psikologis karena tak kunjung mendapatkan kecocokan atau ditolak terus-menerus, poor body image karena menganggap diri tidak menarik, kesepian dan harga diri yang rendah, hingga kemungkinan penipuan. Menggunakan dating apps sebenarnya boleh-boleh saja, asalkan Ladies dapat menggunakannya secara bijak ya.