Benarkah Wanita Kalah di Bidang STEM? Ini Faktanya

Benarkah Wanita Kalah di Bidang STEM? Ini Faktanya

Gaya Hidup 309

Ladies pernah denger nama Margaret Hamilton? Dia adalah orang yang memimpin ratusan ribu ahli perangkat lunak NASA dalam misi pendaratan Apollo 11 ke bulan. Margaret pula yang pertama kali memperkenalkan istilah software engineering seperti kita kenal hari ini.

Shop with Me

Azzura Two Way Cake
IDR 27.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Sendok
IDR 3.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Jepitan Rambut Imut
IDR 50.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Toples Kaca Penyimpanan Makanan Bamboo Cover - YS-7061
IDR 61.600
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Atau Ladies pernah denger nama Katherine Johnson? Dia adalah matematikawan yang memastikan perjalanan roket Apollo 11 ke bulan dan kembali ke bumi berjalan dengan kalkulasi yang tepat.

Apa kesamaan keduanya? Yup, keduanya sama-sama wanita dan sama-sama bekerja di bidang STEM (Science, Technology, Engineering).

Margaret dan Katherine adalah dua dari sekian banyak wanita yang membuktikan bahwa wanita juga bisa berdaya (empowered) bahkan menjadi pemimpin dalam bidang apapun.

Tapi, sampai sekarang data menunjukkan bahwa masih terjadi ketimpangan dalam bidang STEM di tingkat global maupun nasional. 

Data dari The World Economic Forum menunjukkan persentase wanita yang bekerja di bidang STEM hanya sebesar 29,2% pada 2023. Di Indonesia sendiri, persentase wanita di bidang STEM hanya sebesar 27%.

Apa yang menghambat wanita untuk berkarier di bidang STEM?

1. Bias Lowongan Pekerjaan

Bias lowongan pekerjaan bidang STEM masih jadi masalah serius. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa iklan lowongan pekerjaan di bidang STEM masih diskriminatif terhadap wanita.  

Alasannya, algoritma iklan lebih mementingkan efektivitas biaya. Sementara, secara demografis, biaya iklan lowongan pekerjaan untuk perempuan berbiaya lebih mahal ketimbang pria. Praktis, iklan lowongan pekerjaan di bidang STEM lebih banyak ditampilkan kepada pria.

2. Bias Rekrutmen

Dari sisi rekrutmen pun, wanita mendapat perlakuan yang tidak adil ketimbang pria. Sebuah studi menunjukkan bahwa manajer atau HRD cenderung lebih menyukai kandidat pria ketimbang wanita. Salah satu alasannya karena pria dianggap lebih cepat beradaptasi dan lebih bisa diandalkan dalam situasi-situasi kritis.

Padahal, dalam kenyataannya, kemampuan dalam mengatasi konflik tidak memandang gender, melainkan lebih membutuhkan kemampuan individual dan sosial yang mumpuni. Maka, sebenarnya wanita juga berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam rekrutmen.

3. Stereotip Gender

Tidak bisa dipungkiri, stereotip gender masih jadi penghambat serius. Pria dianggap lebih mampu, kapabel, dan cocok bekerja di bidang STEM.

Hal ini tidak terlepas dari masyarakat yang masih beranggapan bahwa wanita lebih cocok bekerja di bidang-bidang yang bersifat mengayomi (nurturing), sementara pria dianggap lebih cocok di bidang-bidang pekerjaan yang lebih kaku.

Stereotip gender sudah dimulai sejak usia dini. Wanita sering kali diberi mainan yang mengarahkan mereka ke arah peran-peran yang lebih tradisional, seperti boneka dan dapur mini, sementara anak laki-laki didorong untuk eksplorasi dan pembelajaran yang lebih teknis, seperti mainan konstruksi dan robotik. 

4. Diskriminasi

Sekali pun berhasil menembus batas-batas stereotip gender, wanita masih harus mengalami diskriminasi di tempat kerja, misalnya dianggap tidak cocok ditempatkan sebagai atasan. 

Fakta menunjukkan, secara rata-rata karyawan wanita masih memiliki gaji lebih rendah ketimbang pria. Padahal, wanita juga berhak mendapatkan upah yang adil.

Belum lagi jika terjadi kesalahan dalam kinerja atau pengambilan keputusan, wanita mendapat penilaian lebih buruk ketimbang pria. Hal ini berdampak pada lebih rentannya wanita diputus hubungan kerjanya ketimbang pria. 

Dengan demikian, sebenarnya wanita tidak kalah dan tidak lebih inferior ketimbang laki-laki di bidang STEM. Margaret dan Katherine menjadi contoh nyata bahwa wanita mampu bersaing secara sehat, independen, dan berprestasi jika diberikan kesempatan yang setara.

Semoga kesetaraan gender di Indonesia dan di dunia bisa semakin baik ya, Ladies, biar nggak ada lagi diskriminasi dalam bidang pekerjaan apapun.

Ladies mau tau lebih banyak lagi tentang fakta-fakta wanita? Temukan semuanya di Newfemme, aplikasi yang paling memahami wanita!