Detoks Medsos Ternyata Cuma Mitos?

Detoks Medsos Ternyata Cuma Mitos?

Teknologi 59

Ladies pernah nggak memutuskan buat berhenti main media sosial (medsos) sementara waktu karena mulai ngerasa kecanduan, depresi, kesepian, dan akhirnya bikin hal-hal lain jadi berantakan?

Shop with Me

Jepitan Rambut Imut
IDR 50.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Botol Minum keren kustom
IDR 65.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Pomona
IDR 90.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
SPIRO Mixed Fiber Detox Tubuh
IDR 769.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Ladies nggak sendirian. Banyak pengguna media sosial yang melakukan hal serupa untuk mengeluarkan “racun-racun” yang udah terlanjur masuk ke kepala, atau biasa disebut dengan “detoksifikasi medsos”.

Tapi, apakah detoks medsos benar-benar bisa mengembalikan mood dan memulihkan kesehatan mental?

Apa yang Keliru?

Perasaan kecanduan ketika kita bermain medsos nggak bisa dilepaskan dari peran dopamin, hormon yang bekerja melalui mekanisme “reward system”. 

Gimana, tuh, maksudnya?

Jadi, pada 1950-an, dua peneliti dari Universitas McGill, Kanada, James Olds dan Peter Milner, melakukan eksperimen dengan mengimplan elektroda ke otak tikus. Tikus-tikus itu diberikan semacam tombol di depannya untuk merangsang otak mereka dengan aliran listrik setiap kali tombol ditekan.

Ternyata, tikus-tikus bereaksi positif dengan menekan tombol berkali-kali untuk mendapatkan aliran listrik ke otak mereka. Bahkan, ada satu tikus yang “kecanduan” menekan tombol sebanyak 7500 kali dalam rentang 12 jam.

Dalam eksperimen itu, mereka mencatat bahwa dopamin adalah hormon yang paling bertanggung jawab atas perasaan menyenangkan tikus-tikus ketika menekan tombol. Penelitian lain mendukung kesimpulan mereka bahwa tikus-tikus akan berhenti menekan tombol apabila diberikan obat yang menghalangi aktivitas dopamin.

Beberapa dekade setelahnya, para ilmuwan menemukan kemiripan pada otak manusia: dopamin akan aktif ketika kita melakukan aktivitas-aktivitas yang memicu perasaan menyenangkan, bahagia, atau sukacita, misalnya bermain medsos, menonton film, bermain game, mendengarkan podcast, dan lain-lain.

Sementara, kurangnya dopamin akan memicu perasaan murung, sedih, cemas, hingga depresi. Jadi nggak heran kalo kita bisa kecanduan main medsos kayak tikus-tikus dalam eksperimen tadi, ya?

Masalahnya, dopamin adalah bagian dari otak kita, bukan racun yang harus dihilangkan. Maka, istilah detoksifikasi medsos sebenarnya kurang tepat.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Kalo gitu, berhenti main medsos buat sementara waktu nggak ada pengaruhnya, dong? Eits, jangan salah paham, meskipun nggak menyelesaikan masalah seratus persen, bukan berarti nggak ada pengaruhnya sama sekali. 

Tapi, pertama-tama Ladies harus mengidentifikasi dulu akar masalahnya: apakah perasaan cemas, sedih, kesepian, atau depresi yang Ladies alami disebabkan oleh kecanduan main medsos atau justru sebaliknya? Tanpa mengidentifikasi akar masalah ini lebih dulu, Ladies berpotensi mengulangi pola yang sama. 

Dr. Anna Lembke, profesor psikiatri di Universitas Stanford, memberikan studi kasus dari pengalaman pribadinya. Dulu, ia sangat kecanduan membaca novel romansa hingga sedikit mengganggu keseimbangan waktunya. Ia kemudian memutuskan untuk “puasa” membaca novel romansa selama sebulan penuh. 

Tebak, apa yang terjadi?

Otaknya tetap tak bisa lepas dari novel romansa dan memaksanya mencuri-curi kesempatan untuk “berbuka puasa”. Setelah ditelusuri, ia baru sadar bahwa akar kecanduannya bukan pada novel romansa, melainkan lagu-lagu pop yang sebagian besar liriknya bercerita tentang romansa.

Sejak saat itu, ia berhenti mendengarkan lagu-lagu pop, dan kecanduannya akhirnya bisa teratasi.

Emang, sih, apapun yang berlebihan itu nggak baik, ya, Ladies? Jadi, sebisa mungkin upayakan hidup seimbang dengan meluangkan waktu bercengkerama dan bersosialisasi dengan teman, keluarga, pasangan, atau komunitas.

Ladies mau cari temen ngobrol? Download Newfemme sekarang dan langsung bergabung dengan komunitas wanita paling seru!