Deepfake Disalahgunakan, Taylor Swift Jadi Korban

Deepfake Disalahgunakan, Taylor Swift Jadi Korban

Teknologi 77

Tahun 2023 bisa dibilang jadi tahun-nya Taylor Swift. Taylor lagi mulai keliling dunia lewat Eras Tour yang bukan cuma meraih pujian banyak orang, tapi juga menjadi tur konser dengan pemasukan tertinggi sepanjang masa. 

Shop with Me

Botol Minum keren kustom
IDR 65.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Paket body serum & body lotion cloova
IDR 138.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Zinc Zink Capsule Tiens Original Suplemen Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak Peninggi Penggemuk Badan Dewasa Anak Kecerdasan Otak Permanen ampuh Obat herbal Alami Termurah Isi 60 Kapsul
IDR 152.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
T-shirt
IDR 150.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Saking monumentalnya, Eras Tour sampai dibikinin film dokumenter dengan judul yang sama, “Taylor Swift: The Eras Tour”.

Nggak berhenti di situ aja, di tahun yang sama majalah Time juga memberikan penghargaan bergengsi “Person of The Year” kepada penyanyi kelahiran Pennsylvania, AS itu.

Tapi, semua berubah saat Deepfake menyerang…

Taylor mesti menghadapi kejadian yang nggak mengenakkan sama sekali: jadi korban konten pornografi oleh orang-orang nggak bertanggung jawab.

Parah banget!

Canggih, Tapi Berbahaya

Bukan sekadar konten pornografi pada umumnya, korban Deepfake sama sekali nggak pernah terlibat apalagi jadi pemeran konten pornografi. Deepfake memungkinkan penggunanya memanipulasi foto atau video yang tampak seperti orang lain sedang melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Berbeda dengan aplikasi pengeditan gambar konvensional kayak Photoshop, Deepfake menggunakan algoritma kompleks sehingga hasilnya sangat sulit dibedakan dengan sumber asli. 

Lebih mengerikan lagi, pengguna Deepfake bisa siapa aja, nggak mesti orang-orang yang paham atau ahli mengolah gambar atau video. Cukup beberapa klik dan informasi palsu siap disebarkan.

Ladies pernah liat video orang yang fasih bahasa asing padahal orang itu aslinya nggak bisa sama sekali? Nah, kayak gitu contoh manipulasi Deepfake.

Kemampuan Deepfake menyebarkan informasi palsu dengan sangat meyakinkan dapat digunakan untuk tujuan-tujuan yang merugikan, termasuk penyebaran fitnah, manipulasi politik, dan pelecehan online, seperti yang dialami Taylor.

Akibat hal itu, Taylor bukan cuma harus menghadapi penyebaran informasi palsu yang merusak reputasinya, tapi juga menanggung beban psikologis karena privasinya bener-bener dilanggar.

Selain Taylor, penyalahgunaan Deepfake sudah memakan korban-korban lain di seluruh dunia, khususnya wanita.

Bisakah Dicegah?

Bisa, meski sulit. Alasannya, ketika kita memposting foto atau video di internet, semua orang dapat mengakses data itu untuk dimanipulasi menggunakan Deepfake. Menjamurnya platform-platform untuk berbagi foto dan video membuat penyebarannya jadi semakin sulit dikendalikan.

Belakangan, muncul teknologi “Anti-Deepfake” yang dapat mengidentifikasi dan menganalisis manipulasi Deepfake. Selain itu, teknologi ini juga dapat memberikan watermark untuk postingan dari sumber asli. 

Meskipun masih dalam tahap pengembangan, kehadiran Anti-Deepfake ini seenggaknya memberikan sedikit napas lega bagi kita-kita para pengguna media sosial.

Sembari nungguin Anti-Deepfake semakin matang dan regulasi buat mengatasi penyalahgunaan Deepfake semakin ketat, salah satu langkah pencegahan yang bisa kita bisa lakukan saat ini adalah membatasi dan memilah-milah postingan pribadi di media sosial yang sekiranya dapat disalahgunakan orang lain.

Ladies mau berbagi tanpa khawatir? Download Newfemme sekarang dan mulai berbagi dengan jutaan pengguna lain!