Jerawat Hormon: Masalah Kulit Umum pada Wanita

Jerawat Hormon: Masalah Kulit Umum pada Wanita

Kesehatan 144

Jerawat hormon umumnya ditandai dengan munculnya benjolan di wajah, bahu, dada, dan punggung. Jenis jerawat ini terjadi karena kelenjar minyak kelebihan sebum. Apa itu sebum? Sebum adalah zat berminyak yang dihasilkan oleh kelenjar sebasea di lapisan tengah kulit. Kemunculannya berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, tetapi bisa sampai berbulan-bulan jika tidak diobati.

Shop with Me

LegoriS
IDR 35.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Sepatu Wanita Sneakers Sidney Roulfine S15 Korean Style
IDR 40.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
O'Sweet Singapore | Ginger Hair Fall | Shampoo Anti Rontok Shampoo | Hair Tonic | Mempercepat Pertumbuhan Rambut
IDR 1.260.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Bola basket
IDR 1.099.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Baik perempuan maupun laki-laki dapat memiliki jerawat hormon, tetapi umumnya dialami oleh wanita dewasa, wanita hamil, dan wanita menopause, dengan rentang usia 20 hingga 50 tahun.  Jerawat hormon biasanya muncul dari bagian folikel rambut, sehingga terkadang disalahartikan menjadi jerawat yang disebabkan oleh jamur (fungal acne). Keduanya memiliki perbedaan, yaitu:

  • Jerawat hormon: berkembang karena kelebihan sebum

  • Jerawat jamur: berkembang karena kelebihan jamur, menyebabkan komedo putih, terasa gatal, berwarna merah, iritasi, dan meradang

Sebagian besar wanita pasti pernah mengalami kemunculan jerawat hormon

Tanda-Tanda

Jerawat biasanya akan menyebabkan kerusakan jaringan kulit (lesi) yang kemudian meradang, berwarna merah, serta terasa nyeri atau perih. Lesi ini besar kemungkinannya muncul di pipi, tetapi juga bisa muncul di wajah, leher, punggung, bahu, dan dada. Kondisinya dapat memburuk ketika seseorang mengalami stress, terpapar polusi, lingkungan lembab, atau memencetnya. Bentuk jerawat hormon bervariasi:

  • Jerawat (pimples)

  • Komedo (blackheads)

  • Komedo putih (whiteheads)

  • Jaringan kulit menonjol berdiameter 2-5 mm (papula)

  • Jaringan kulit menonjol yang bernanah berdiameter 2-5 mm (pustula)

  • Jaringan kulit berisi cairan (cysts). 

Penyebab

Seperti namanya, jerawat hormon muncul ketika terjadinya peningkatan jumlah hormon yang menyebabkan diproduksinya lebih banyak minyak oleh kulit. Minyak ini kemudian berinteraksi dengan bakteri di pori-pori kulit, yang menjadi tempat tumbuhnya folikel rambut. Ketika itu terjadi, maka pori-pori akan tersumbat, dan kemudian muncul jerawat hormon. Tersumbatnya pori-pori tersebut bisa disebabkan oleh produksi sebum berlebih, sel kulit mati, dan pertumbuhan bakteri.

1. Penyebab yang Tidak Bisa Diatasi

Fluktuasi hormon pada wanita (menstruasi, kehamilan, menopause, setelah berhenti menggunakan alat kontrasepsi), pria yang melakukan pengobatan testosteron, riwayat keluarga, efek samping obat steroid, atau kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, seperti polycystic ovary syndrome (PCOS) dan kelebihan hormon androgen.

2. Penyebab yang Bisa Diatasi

Stress, kurang tidur, penggunaan produk perawatan rambut atau produk perawatan kulit yang tidak oil-free dan non-comedogenic

Jerawat muncul karena diproduksinya lebih banyak minyak saat terjadi peningkatan kadar hormon tubuh

Pengobatan

Mengidentifikasi apakah jerawat tersebut disebabkan oleh hormon atau bukan adalah dengan pemeriksaan fisik, sambil menggali terkait produk perawatan kulit yang digunakan, kebiasaan tidur, stress, konsumsi obat-obatan tertentu, serta perubahan kesehatan. Ada beberapa perawatan yang bisa dilakukan, seperti:

  • Komedo dan komedo putih: krim topikal (tretinoin)

  • Jerawat inflamasi: retinoid topikal dan/atau antibiotik topikal dan/atau benzoil peroksida

  • Jerawat sedang hingga parah: antibiotik dan/atau isotretinoin (retinoid)

  • Jerawat kistik: suntikan steroid (triamsinolon intralesi)

Pencegahan

Selain pengobatan di atas, tentunya kita dapat mengendalikan kemunculan jerawat hormon dengan cara rutin membersihkan kulit setiap hari, menerapkan kebiasaan makan yang sehat dan bergizi seimbang, mengelola stress dengan baik, tidur cukup dan berkualitas, serta menggunakan perawatan kulit yang tidak menyumbat pori-pori.

Jerawat hormon lebih banyak dialami oleh wanita dalam rentang usia tertentu, seperti hamil atau menopause. Jerawat ini tidak serta merta muncul begitu saja, tetapi dapat dicegah dengan cara menerapkan kebiasaan hidup yang baik, mulai dari penggunaan produk perawatan kulit bebas minyak dan komedo, rutin membersihkan kulit, pola makan sehat, pengelolaan stres yang baik, serta tidur yang cukup dan berkualitas. 

Yuk, Download aplikasi Newfemme sekarang untuk mendapatkan tips dan info menarik lainnya!