Orthorexia Nervosa: Obsesi terhadap Makanan Sehat

Orthorexia Nervosa: Obsesi terhadap Makanan Sehat

Kesehatan 162

Orthorexia nervosa ditandai dengan obsesi berlebih terhadap makanan sehat. Umumnya, gangguan makan berkaitan dengan kuantitas dari apa yang dikonsumsi, tetapi pada kondisi ini, justru lebih fokus pada kualitas makanannya. Penderita orthorexia nervosa mayoritas fokus pada persepsi terhadap makanan sehat daripada menurunkan berat badan atau keinginan untuk kurus.

Shop with Me

Poise Day Cream Lumwhite + SPF Tube 20 gr - Whitening Day Cream
IDR 18.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
O'Sweet Singapore | Ginger Hair Fall | Shampoo Anti Rontok Shampoo | Hair Tonic | Mempercepat Pertumbuhan Rambut
IDR 1.260.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
AZZURA CUSHION
IDR 90.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
kaos rib rumbai ruffle lengan panjang
IDR 50.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Tanda-Tanda

Biasanya, mereka sangat terpaku dengan “kebersihan” atau “cleanliness” makanan serta kebermanfaatannya. Mereka juga cenderung mengalami tekanan emosional atau penurunan harga diri ketika melanggar aturan makan sehatnya sendiri. Orthorexia nervosa tidak memiliki kriteria diagnostik resmi, tetapi penderitanya akan memiliki tanda dan gejala umum, seperti berikut ini:

  • Ketakutan intens terhadap makanan yang “tidak sehat” dan berusaha menghindarinya

  • Obsesi terhadap makanan sehat dan bergizi

  • Merasa cemas jika merasa telah menyimpang dari pola makan tertentu

  • Obsesi untuk membaca informasi nilai gizi dan daftar bahan makanan

  • Menghindari makan dalam jumlah besar, meskipun tidak ada intensi medis, agama, budaya, atau etika

  • Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk merencanakan, membeli, hingga menyiapkan makanan untuk menjadi sehat

  • Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memilih menu atau memikirkan bagaimana makanan tersebut disajikan

  • Memiliki pandangan yang tidak biasa dengan kebiasaan makan orang lain

  • Menghindari konsumsi makanan yang disiapkan orang lain

  • Membawa makanan sendiri ke acara-acara yang akan dihadiri karena menganggap makanan orang lain tidak akan memenuhi standar “sehat” menurutnya

  • Penurunan berat badan bahkan malnutrisi akibat pembatasan makanan ketat

Orang dengan orthorexia nervosa akan mengkotakkan makanan menjadi “bersih” dan “kotor”

Faktor Risiko

Tidak diketahui secara pasti penyebab terjadinya orthorexia nervosa, tetapi ada banyak faktor yang mungkin menyebabkannya. Mulai dari eating disorder di masa lalu, obsesif-kompulsif, perfeksionisme, pengetahuan gizi, pendapatan tinggi, akses terhadap makanan organik, campaign sosial media, bias berat badan, atau pengalaman bullying.

Selain faktor risiko di atas, mungkin promosi gaya hidup “clean eating” di media sosial berperan besar dalam perkembangan orthorexia nervosa. Pendukung pola makan “clean eating” akan gencar mempromosikan makanan utuh (whole foods) dan meminimalkan makanan olahan (processed food). Sayangnya, cara ini justru terkesan membedakan makanan, karena ada yang “bersih” dan “kotor”.

Dampak Negatif

Menariknya, kejadian orthorexia nervosa di masyarakat umum lebih tinggi pada kelompok tertentu, seperti mahasiswa jurusan kesehatan, petugas kesehatan, hingga mereka yang seorang vegan atau vegetarian. Konsisten untuk menjalankan pola makan yang sehat memang tujuan utama, tetapi obsesi terhadapnya justru menimbulkan dampak negatif, seperti:

  • Fisik: kekurangan gizi, malnutrisi, anemia, detak jantung melambat

  • Psikologis: frustasi, perasaan bersalah, benci diri sendiri, kekhawatiran ekstrem, jika mereka melanggar aturan makan sehatnya sendiri, dan berlanjut kepada penurunan produktivitas, aktivitas sosial, hingga kesenangan

  • Sosial: sulit melakukan interaksi sosial karena menganggap pilihan makan orang lain “tidak sehat” sementara pilihannya lebih baik

Meskipun tidak ada intensi untuk menurunkan berat badan, orang dengan orthorexia nervosa beresiko mengalami malnutrisi

Orthorexia nervosa ditandai dengan obsesi berlebih terhadap makanan sehat, di mana penderitanya lebih fokus pada kualitas makanan daripada kuantitas. Tanda-tandanya meliputi ketakutan terhadap makanan "tidak sehat", obsesi terhadap makanan bergizi, serta perilaku kompulsif terkait pemilihan dan konsumsi makanan. Salah satu faktor yang berperan terhadap perkembangan kondisi ini adalah promosi gaya hidup "clean eating".

Yuk, Download aplikasi Newfemme sekarang untuk mendapatkan tips dan info menarik lainnya!