Kenapa Kita  Bisa

Kenapa Kita Bisa "Kalap" Pas Belanja?

Gaya Hidup 151

Belanja dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi banyak orang, namun, terkadang kita merasa "kalap belanja" dan mengeluarkan lebih banyak uang daripada yang semestinya. Mengapa hal ini terjadi, dan apakah belanja online atau offline lebih cenderung membuat kita boros? Mari kita eksplorasi fenomena ini lebih lanjut!

Shop with Me

Fortiboost Immuno Sirup 60mL - Syrup Jaga Daya Tahan Tubuh
IDR 48.500
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Kemeja anak laki laki import baju kemeja anak cowok impor fashion - ABU-BIRU
IDR 75.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Iron Patch Xmas Deer Christmas
IDR 6.900
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
ACCESSORIES ANAK : RICO - PAKET suspender + bow tie - dasi kupu anak
IDR 39.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Mengapa Kita "Kalap Belanja"?

1. Stres dan Emosi

Saat mengalami stres atau emosi tertentu, beberapa orang mencari pelarian dalam belanja. Pembelian barang-barang baru dapat memberikan rasa senang atau kebahagiaan sesaat, meskipun mungkin hanya bersifat sementara.

2. Promosi dan Diskon

Penawaran promosi dan diskon seringkali menjadi godaan yang sulit untuk dihindari. Harga yang lebih murah atau bonus barang tambahan dapat mendorong seseorang untuk membeli lebih banyak daripada yang awalnya direncanakan.

3. Tekanan Sosial

Tekanan sosial, terutama di media sosial, dapat memicu dorongan untuk tampilan yang selalu segar dan tren. Ini bisa mendorong seseorang untuk berbelanja lebih banyak guna memenuhi ekspektasi atau citra diri yang diinginkan.

4. Belanja Impulsif

Keputusan belanja seringkali dipengaruhi oleh impuls dan tanpa perencanaan yang matang. Membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya dapat menjadi pemicu kekalapan belanja.

Lebih Boros Belanja Offline atau Belanja Online?

Belanja Offline:

  • Interaksi Sosial: Belanja offline memberikan pengalaman interaksi sosial yang tidak dapat ditemui dalam belanja online. Interaksi dengan penjual atau teman-teman belanja dapat memberikan pengaruh positif atau negatif terhadap keputusan pembelian.

  • Lebih Mudah untuk Membandingkan: Dalam toko fisik, konsumen dapat dengan mudah membandingkan produk secara langsung sebelum memutuskan untuk membeli. Ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih bijak.

  • Impulsif Lebih Sulit Terjadi: Meskipun belanja impulsif masih mungkin terjadi di toko fisik, namun adanya proses perjalanan ke toko, mencari barang, dan berinteraksi dapat membantu mengurangi kemungkinan belanja impulsif.

Baca juga :

5 Cara Menghabiskan Waktu Libur Akhir Tahun Dengan Produktif Bersama Keluarga di Rumah

Belanja Online:

  • Kemudahan dan Kenyamanan: Belanja online memberikan kemudahan dan kenyamanan yang tidak dapat diikuti oleh belanja offline. Proses belanja dapat dilakukan dari kenyamanan rumah, dan pengiriman langsung ke pintu membuatnya sangat praktis.

  • Promosi dan Diskon Online: Dunia belanja online penuh dengan promosi dan diskon yang menggiurkan. Situs web e-commerce sering menawarkan penawaran eksklusif yang sulit untuk diabaikan.

  • Rentan terhadap Belanja Impulsif: Keberadaan iklan yang canggih dan saran pembelian yang disesuaikan secara individual dapat membuat konsumen rentan terhadap belanja impulsif saat berada di dunia online.

Sebenarnya, apakah belanja offline atau online lebih boros tergantung pada kebiasaan konsumen dan kontrol diri masing-masing. Penting untuk memiliki kesadaran diri yang baik terkait motivasi di balik keinginan untuk berbelanja secara berlebihan dan melibatkan diri dalam praktik-praktik pengelolaan keuangan yang bijak, seperti membuat anggaran dan menetapkan batas belanja. Apapun cara belanjanya, penting untuk tetap mengedepankan kebutuhan daripada keinginan dan menjaga keseimbangan yang sehat dalam pengelolaan keuangan pribadi.

Yuk, Download aplikasi Newfemme sekarang untuk mendapatkan tips dan info menarik lainnya !