Perilaku Impulsif, Baik atau Buruk?

Perilaku Impulsif, Baik atau Buruk?

Kesehatan 467

Perilaku impulsif umumnya diartikan sebagai tindakan tanpa didahului oleh pemikiran yang matang. Tindakannya dilakukan secara cepat, cenderung berisiko, dan tidak sesuai dengan kondisi. Seseorang yang mengalami impulsif seringkali membuat keputusan dengan tergesa-gesa, terlibat dalam pertengkaran, dan perilakunya cenderung berisiko bagi diri sendiri maupun orang lain.

Shop with Me

Posh Hijab body spray 150ml
IDR 18.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Handuk Grosir Murah Berkualitas (Ukuran 70x140)
IDR 85.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Poise Facial Foam
IDR 15.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Zinc Zink Capsule Tiens Original Suplemen Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak Peninggi Penggemuk Badan Dewasa Anak Kecerdasan Otak Permanen ampuh Obat herbal Alami Termurah Isi 60 Kapsul
IDR 152.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Karakteristik Impulsif

Impulsif dapat didefinisikan dengan cara yang berbeda-beda, tetapi semuanya kurang lebih akan menggambarkan perilaku negatif atau antisosial yang dilakukan oleh seseorang. Perilakunya bisa dideskripsikan atau diekspresikan melalui aktivitas motorik, kognitif, maupun tanpa direncanakan. Secara umum, terdapat 4 faktor yang terlibat dapat perilaku impulsif, yaitu:

  1. Kurangnya perencanaan alias bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya

  2. Mencari sensasi alias melakukan suatu hal baru meskipun itu berisiko bagi diri sendiri

  3. Kurangnya ketekunan alias berhenti melakukan sesuatu hal menantang sebelum menyelesaikannya

  4. Urgensi alias bertindak negatif dalam selama ledakan emosi

Impulsif kerap dikaitkan dengan tindakan tanpa perencanaan yang matang

Apakah Impulsif adalah Gangguan?

Sebenarnya, perilaku impulsif merupakan tindakan yang terjadi secara spontan dan sesekali. Namun bagi beberapa orang, impulsif bisa menjadi pertanda dari gangguan kesehatan mental. Tanda-tandanya yaitu frekuensi impulsif lebih sering, tidak dapat dikendalikan, dan ditambah dengan gejala lain dari gangguan kesehatan mental yang mendasarinya.

Perhatikan contohnya berikut ini:

1. Binging

Terlalu berlebihan melakukan sesuatu, seperti berbelanja, berjudi, dan makan

2. Penghancuran benda

Memporak-porandakan benda di sekitar saat marah

3. Memperbesar masalah

Menganggap hal sepele menjadi penting dan menjadikannya sebagai hal mendesak yang perlu dilakukan

4. Gampang meledak

Terlalu sering kehilangan kontrol atas diri sendiri bahkan ketika tahu bahwa itu jelas tidak pantas

5. Sering mengulang sesuatu

Menghapus sebuah tulisan dan memulainya kembali

6. Oversharing

Bercerita terlalu banyak

7. Reaksi berlebihan

Bereaksi terlalu berlebih ketika mendapatkan gangguan fisik

8. Melakukan seks dengan risiko tinggi

Hubungan intim tanpa kondom atau metode penghalang lainnya, terutama dengan seseorang yang tidak diketahui mengidap infeksi menular seksual atau tidak

9. Self-harm

Menyakiti diri sendiri karena marah, sedih, atau kecewa

Jadi, perilaku impulsif yang perlu diwaspadai adalah ketika tindakannya cenderung tidak masuk akal dan berpotensi menyakiti orang lain. Ketika sudah masuk ke tahap tersebut, sangat mungkin sekali bagi seseorang untuk mengalami banyak gangguan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dipecat dari pekerjaan, dihindari teman, atau diputuskan pasangan. 

Impulsif dianggap sebagai gangguan ketika terjadi terus-menerus

Penyebab

Ada bagian di otak yang bertanggung jawab untuk kontrol impuls, yaitu korteks prefrontal. Impulsif ini akan terjadi ketika bagian otak tersebut bereaksi terhadap beberapa obat, seperti kokain, methamphetamine, levodopa, dan abilify. Gangguan paling umum yang berkaitan dengan impulsif diantaranya yaitu:

  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)

  • Autism

  • Bipolar disorder

  • Antisocial personality disorder

  • Borderline personality disorder

  • Intermittent explosive disorder

  • Post-traumatic stress disorder (PTSD)

  • Parkinson’s disease 

Pengobatan

Perilaku impulsif dapat diobati dengan cognitive behavioral therapy. Tujuannya adalah untuk mengajarkan perilaku baru yang lebih sehat. Di sisi lain, jika diperlukan, seseorang dapat diresepkan obat-obatan oleh dokter, seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), selective noradrenergic reuptake inhibitors (SNRIs), opioid antagonists,glutamatergic agents, atypical antipsychotics, dan lithium.

Jadi, perilaku impulsif adalah sebuah tindakan tanpa didahului oleh pemikiran yang matang. Jika terjadi hanya sesekali, itu adalah hal yang umum. Namun ketika terus-menerus, hingga menyebabkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain, itulah pertanda bahwa perilakunya perlu mendapat perhatian lebih. Yuk baca artikel lainnya di Newfemme!