Mengekspresikan Mimpi Saat Tidur, Sebenarnya Kenapa Ya?

Mengekspresikan Mimpi Saat Tidur, Sebenarnya Kenapa Ya?

Kesehatan 379

Selama fase tidur REM, seseorang akan mengalami kelumpuhan, sedangkan otak sedang aktif dan saat itulah terjadi mimpi yang terasa nyata. Pada fase tersebut, tekanan darah meningkat, pernapasan tidak teratur, dan mata melesat ke segala arah dengan cepat, maka disebutlah dengan rapid eye movement (REM). 

Jika mengalami REM sleep behavior disorder (RBD), alih-alih bermimpi dengan nyaman, tubuh dan suara justru mengekspresikan mimpi tersebut. Hal ini karena otot tidak mengalami kelumpuhan yang seharusnya.

Gejala

Gangguan tidur REM biasanya tidak disadari dan merupakan suatu gangguan tidur yang tidak biasa. Gejala yang muncul bisa terjadi sekali atau beberapa kali dalam satu siklus tidur, atau sekali setiap tidur. Ketika mengalami mimpi buruk yang kejam, RBD cenderung lebih parah. Gejalanya dapat bervariasi dilihat dari tingkat keparahannya karena terlihat seperti sedang bermimpi buruk atau:

  • Gerakan kecil anggota badan atau kedutan

  • Gerakan tubuh yang lebih kuat seperti meninju, memukul, menendang, atau duduk di tempat tidur, terkadang bisa sampai cedera

  • Vokalisasi seperti berbicara atau berteriak, bahkan terkadang dengan bahasa yang tidak sopan

Orang yang mengalami kondisi ini biasanya mengetahui perilaku tersebut setelah orang lain memberitahu mereka, seperti pasangan atau teman sekamar atau ketika mereka bangun dengan cedera. Saat RBD terjadi, orang dapat dibangunkan dengan mudah, tetapi biasanya mereka akan terbangun dengan kondisi waspada serta masih dapat mengingat kembali isi mimpinya.

Orang yang mengidap RBD akan mudah dibangunkan dan akan berada dalam kondisi waspada

Penyebab

Hingga saat ini, masih belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya RBD karena ada banyak jalur saraf yang terlibat saat tidur fase REM. Berikut ini penyebab yang mungkin mendasarinya:

1. RBD Terisolasi (Idiopatik)

Pada kondisi ini, terjadi masalah di bagian batang otak yang disebut dengan pons, sehingga seseorang tidak mengalami atonia saat tidur REM. Pons bertugas untuk mengontrol kelumpuhan otot selama tidur REM. Lesi yang terjadi pada pons, juga terkait dengan kondisi neurologis lain seperti penyakit Parkinson, Lewy Body Dementia, atau Multiple System Atrophy.

Baik RBD dan kondisi neurologis tersebut sering terjadi secara berdampingan. Hal ini karena sudah banyak studi yang mengkonfirmasi bahwa seseorang yang mengalami RBD akan mengidap penyakit Parkinson, Lewy Body Dementia, atau Multiple System Atrophy dalam beberapa tahun ke depan. Maka dari itu, RBD diyakini terjadi karena adanya masalah pada pons.

2. RBD Sekunder (Simtomatik)

Orang yang mengidap narcolepsy lack orexin, yaitu gangguan tidur yang menyebabkan rasa kantuk berlebih di siang hari karena kekurangan zat kimia orang yang bernama orexin. Tugas orexin adalah untuk mengatur tidur, terjaga, dan nafsu makan. Kekurangan zat tersebut mungkin menyebabkan tidur REM normal jadi terganggu, sehingga terjadilah RBD. 

3. RBD Terinduksi Obat

Konsumsi obat seperti antidepresan tertentu, seperti antidepresan trisiklik atau SSRIs mungkin bisa menyebabkan REM sleep behavior disorder karena menyebabkan ketidakseimbangan antara dopamin dan serotonin, yang mana terlihat dalam tidur REM seseorang.

Diagnosis

Awalnya akan dilakukan pemeriksaan polysomnogram, yaitu penelitian tidur semalam yang bertujuan untuk mengetahui kerja pernapasan, gerakan mata, lengan, kaki, aktivitas otak dan jantung, serta kadar oksigen darah. Selanjutnya, pemeriksaan riwayat gejala dan riwayat medis, jika bisa juga ikut mengundang pasangan atau teman sekamar untuk menanyakan terkait perilaku tidurnya.

Berdasarkan Klasifikasi Gangguan Tidur Internasional oleh the American Academy of Sleep Medicine, terdapat 4 kriteria yang harus terpenuhi agar diagnosis RBD dapat ditegakkan, yaitu:

  1. Mengalami berulang kali episode mengekspresikan dengan vokal atau gerakan sesuai dengan apa yang terjadi dalam mimpi.

  2. Episode terjadi selama tidur REM, yang sebelumnya dikonfirmasi oleh polysomnogram di laboratorium atau riwayat klinis.

  3. Episode termasuk tidur tanpa atonia, sebagaimana dikonfirmasi oleh polysomnogram.

  4. Episode tidak berkaitan dengan hal lain seperti gangguan tidur, masalah kesehatan  mental, efek samping obat, atau penyalahgunaan zat terlarang.

Penanganan

Tujuan dari penanganan RBD adalah untuk menciptakan lingkungan tidur yang nyaman bagi penderitanya. Ketika upaya yang sudah dilakukan tidak juga meringankan gejala RBD, datanglah ke pelayanan layanan kesehatan untuk mendapatkan obat berdasarkan resep dokter, biasanya dimulai dari dosis dasar kemudian ditingkatkan hingga gejala membaik. Berhenti minum alkohol juga diperlukan jika itu juga membuat gejala semakin parah. 

Penanganan RBD ditujukan untuk menciptakan lingkungan tidur  yang nyaman

Jangan ragu untuk datang ke pelayanan kesehatan jika orang lain memberitahu bahwa kamu mengalami seperti itu ya. Baca artikel informatif lainnya dari Newfemme yuk!