Logo NewFemme
Istirahat Sejenak dari Media Sosial

Istirahat Sejenak dari Media Sosial

Gaya Hidup 114

Tak dapat disangkal lagi, internet dan media sosial telah mempengaruhi sebagian besar kehidupan kita. Mulai dari kegiatan pribadi, kebutuhan sehari-hari sampai sekolah dan pekerjaan. Awalnya ditujukan untuk hiburan dan komunikasi, media sosial kini memegang peran paling besar di dalam kehidupan.

Apalagi selama pandemi dua tahun terakhir yang mengakibatkan orang-orang mempunyai waktu luang yang lebih banyak dari sebelumnya. Walau mendatangkan banyak manfaat, tak ayal, media sosial juga mendatangkan banyak kerugian. Salah satunya menjadi resah apabila jauh dari media sosial bahkan hanya sejenak. Hal tersebut tentu merupakan dampak yang buruk bagi kehidupan apalagi jika dibiarkan berlangsung lama.

Kemudian, melihat fenomena kecanduan media sosial semenjak era evolusi teknologi ini, banyak ahli dari berbagai bidang dari mulai kesehatan fisik, kesehatan mental sampai ahli teknologi dan informatika menyarankan untuk melakukan rehat atau istirahat sejenak dari bermain media sosial. Memang bisa dikatakan sulit. Kita akan merasakan risau atau rasa bosan datang dengan kuat hingga menggoda kita untuk membuka kembali media sosial. Namun jangan khawatir. Hal tersebut merupakan fase awal saja. Jika kamu berkomitmen meneruskan program ini, kamu akan mendapatkan banyak manfaat.

Dengan berpuasa dari media sosial, kamu bisa meningkatkan produktivitas. Joane Cantor, Ph.D, seorang profesor emerita komunikasi di Universitas Winconsin-Madison dan juga merupakan penulis buku Conquer CyberOverload mengatakan bahwa media sosial akan terus-menerus mengganggu kita. Apabila kita berhenti memainkan, memantau atau memeriksa media sosial, kita bisa lebih fokus tanpa adanya gangguan yang tidak perlu. American Psychological Association juga menyatakan bahwa memeriksa media sosial membuat kita seperti melakukan multitasking. Sedangkan multitasking atau melakukan banyak pekerjaan sekaligus akan mengurangi waktu kita untuk produktif sebanyak 40%.

Mengurangi atau menghindari media sosial artinya kita juga sedang mengurangi tingkat kecemasan dan stres yang kita alami. Karena media sosial memberikan kemudahan akses untuk melihat apapun, di manapun dan kapanpun pada timeline akan menyebabkan efek adiktif. David Greenfield, Ph.D, seorang asisten profesor klinis psikiatri di Universitas Connecticut School of Medicine dan merupakan pendiri Center for Internet and Technology Addiction mengatakan bahwa menggunakan media sosial sampai ketagihan akan menyebabkan peningkatan kadar dopamine yang jika berhenti melakukannya (mengecek media sosial) akan ada efek semacam kecanduan. Kemudian ia juga mengatakan dorongan untuk mencari tahu apa yang terjadi secara online akan meningkatkan hormon stres atau kortisol.

Maka, sangat perlu menyadari apakah kita sudah berada di tahap kecanduan terhadap media sosial. Jika sudah menyadari tanda-tandanya, sebaiknya langsung rehat dari media sosial. Perasaan adiktif tadi akan membuat kita gelisah jika tidak menengok akun media sosial kita. Untungnya, perasaan tersebut hanya berlangsung beberapa hari saja. Jadi, berusahalah untuk konsisten melakukannya. Jika sudah dapat mengontrol waktu dan kebiasaan untuk menggunakan media sosial, sebaiknya pertahankan. Jangan sampai sifat kecanduan tersebut terulang. Dengan begitu kamu bisa hidup lebih sehat secara fisik dan mental. Kemudian manfaat lainnya akan kamu dapatkan seperti lebih percaya diri, waktu dan kualitas tidur meningkat hingga mempunyai waktu untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.

Internet dan media sosial sama sekali bukanlah hal yang buruk. Terlalu banyak menggunakannya dan tidak terkontrol lah yang membuatnya menjadi sesuatu yang negatif.