Space Race: Ketika Dua Raksasa Berebut Angkasa

Space Race: Ketika Dua Raksasa Berebut Angkasa

Teknologi 79

Ratusan tahun lalu, siapa yang nyangka kalo umat manusia bisa menjelajah luar angkasa? Terbang ke area yang luasnya tak terkira itu mungkin cuma dianggap mimpi di siang bolong.

Shop with Me

O'Sweet Singapore | Ginger Hair Fall | Shampoo Anti Rontok Shampoo | Hair Tonic | Mempercepat Pertumbuhan Rambut
IDR 1.260.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Kaos Beautee
IDR 154.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Jepitan Rambut Imut
IDR 50.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Botol Minum keren kustom
IDR 65.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Sampai tiba-tiba… boom!

Umat manusia menciptakan sejarah: menginjakkan kaki di bulan buat pertama kalinya. 

Ironisnya, sejarah itu nggak bakal tercipta kalo Uni Soviet—sebelum menjadi Rusia—dan Amerika Serikat (AS) nggak terlibat dalam Perang Dingin yang mempercepat lahirnya teknologi-teknologi canggih, termasuk satelit, pesawat ulang-alik, dan roket hipersonik.

Dikenal dengan “Space Race”, periode ini menjadi tonggak penting yang bikin kita hari ini nggak lagi menganggap penjelajahan luar angkasa adalah kemustahilan.

Gimana kisah lengkapnya? Yuk, simak bahasan berikut!

Babak I: Uni Soviet Memimpin

Berakhirnya Perang Dunia II menyisakan Uni Soviet dan AS sebagai dua kekuatan global yang saling berebut pengaruh di bidang teknologi, militer, politik, ekonomi, dan budaya.

Pada 1951, rivalitas ini mencapai titik baru ketika seorang pengarang Uni Soviet menerbitkan tulisan berjudul “Flight to the Moon”, yang menggambarkan secara detail teknologi pesawat ulang-alik masa depan. AS membalas dengan seri tulisan “Man Will Conquer Space Soon!” yang menceritakan penjelajahan manusia ke luar angkasa.

Kejutan terjadi pada Oktober 1957 ketika Uni Soviet meluncurkan Sputnik 1, satelit buatan pertama yang berhasil mengorbit di angkasa, alias cuma enam tahun setelah tulisan tadi dibuat. Diluncurkan dari wilayah Kazakhstan, Sputnik 1 mengorbit dengan kecepatan 29 ribu km/jam dan berhasil menempuh 1440 orbit dalam waktu tiga bulan sebelum terbakar di atmosfer bumi.

Sejarawan bilang, peluncuran Sputnik 1 inilah cikal-bakal dari adu kuat dua negara adidaya itu untuk menaklukkan angkasa.

Nggak mau kalah, AS langsung merespons dengan meluncurkan Explorer 1, satelit pertama mereka yang berhasil menempuh 58 ribu orbit. Di tahun yang sama, AS mendirikan NASA (National Aeronautics and Space Administration), badan aeronautika yang jadi rujukan penting buat foto-foto luar angkasa hari ini.

Tapi, Uni Soviet lagi-lagi memimpin setelah mereka sukses menerbangkan Yuri Gagarin, manusia pertama yang berhasil pergi ke luar angkasa lewat pesawat ulang-alik Vostok 1 yang bentuknya mirip kapsul.

Babak II: AS Menyalip

Tapi, bukan AS namanya kalo cuma diem gitu aja. Beberapa bulan setelah penerbangan Yuri Gagarin, Presiden AS John F. Kennedy menyampaikan ambisinya di depan Kongres: “Kita akan mendaratkan manusia di bulan dan kembali ke bumi dengan selamat sebelum akhir dekade ini”.

Ambisi itu ternyata benar terjadi pada 20 Juli 1969. Roket Apollo 11 menjadi saksi bisu ketika umat manusia tidak lagi menganggap bulan sebagai benda langit misterius yang tak terjangkau. Setelah menempuh penerbangan selama tiga hari, dua astronot yang mengawaki Apollo 11, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, berhasil menginjakkan kaki di bulan.

Tapi, gimana caranya Apollo 11 sampai ke bulan?

Jadi, setiap pesawat ulang-alik pasti disertai dengan roket sebagai tenaga pendorong. Pada Apollo 11, roket ini bernama Saturn V, roket terbesar dan paling powerful ketika itu yang membantu Apollo 11 memasuki orbit bulan.

Struktur Apollo 11 terdiri dari dua komponen utama: command module yang dilengkapi dengan kabin tempat tinggal para awak dan lunar module yang membantu pendaratan awak di bulan.

Sesampainya di orbit bulan, lunar module melepaskan diri dari command module dan membutuhkan waktu 6 jam untuk mendaratkan Armstrong dan Aldrin di permukaan bulan.

Canggih banget, ya, teknologi di zaman itu?

Nggak kurang dari 650 juta pasang mata menyaksikan capaian bersejarah ini di layar kaca. Pendaratan manusia di bulan bukan cuma bikin AS jauh melampaui Uni Soviet, tapi juga menandai era baru penjelajahan manusia ke luar angkasa. 

Babak Akhir: Kolaborasi

Pendaratan manusia di bulan dinilai sebagai kemenangan mutlak AS atas Uni Soviet dalam Space Race. Namun, menjelang akhir era Perang Dingin, kedua negara menganggap kolaborasi dan kerja sama di bidang teknologi dan aeronautika jauh lebih bermanfaat bagi umat manusia.

Hal ini dibuktikan dengan peluncuran Apollo-Soyuz, misi bersama kedua negara di mana AS menyumbang pesawat ulang-alik Apollo 18, sementara Uni Soviet menyumbang stasiun ruang angkasa Soyuz 19.

Bertemunya astronot, kosmonot, dan kru dari kedua negara di luar angkasa ini secara simbolis menandai akhir dari Space Race, sekaligus mengubah mindset dari kompetisi menjadi kolaborasi.

Tapi, repot banget nggak, sih, kalo mesti ke luar angkasa dulu buat bisa kolaborasi?

Tenang aja, Ladies nggak mesti ke luar angkasa dulu, kok. Download Newfemme sekarang dan mulai kolaborasi bareng jutaan pengguna!