Sleeping Beauty Syndrome, Ternyata Lebih Sering Terjadi Pada Pria!

Sleeping Beauty Syndrome, Ternyata Lebih Sering Terjadi Pada Pria!

Kesehatan 369

Sleeping beauty syndrome atau juga disebut dengan Kleine-Levin Syndrome adalah jenis hipersomnia berulang yang ditunjukkan ketika seseorang tidur dalam waktu lama. Biasanya butuh waktu sekitar 16-20 jam per hari bagi mereka untuk tidur. Uniknya, ternyata sindrom ini lebih sering terjadi pada pria, terutama di usia remaja (4 kali lipat lebih berisiko) dan kondisinya tergolong sangat langka. 

Shop with Me

SPIRO Mixed Fiber Detox Tubuh
IDR 769.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Botol Minum Rainbow 1L
IDR 75.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Sepatu Wanita Sneakers Sidney Roulfine S15 Korean Style
IDR 40.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Wardah UV Shield Essential Sunscreen Gel SPF 30 PA +++ 40 ml
IDR 35.500
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Gejala

Sleeping beauty syndrome ditandai dengan gejala utama yaitu episode rasa kantuk berlebihan dan menyebabkan seseorang sulit untuk tetap terjaga, sehingga tidurnya jauh lebih lama daripada orang normal. Selain jam tidur, gejala lain yang turut menyertai saat kondisi ini sedang kambuh adalah sebagai berikut.

  • Peningkatan nafsu makan, terutama makanan manis

  • Peningkatan dorongan seks, termasuk komentar seksual, masturbasi, dan rayuan seksual yang tidak diinginkan

  • Halusinasi, perasaan seperti terlepas dari dunia sekitar

  • Mudah marah dan kekanak-kananan, termasuk gampang tersinggung, agresif, berkata kasar, dan bertindak ofensif

  • Cemas dan depresi karena menjadi lebih pendiam akibat tidak dapat bersosialisasi seperti biasanya

Episode rasa kantuk berlebihan ini dapat berlangsung selama beberapa hari (2-10 hari) atau bahkan berminggu-minggu, dan setidaknya terjadi sebanyak 20 kali selama hidup. Seseorang bisa bangun hanya untuk makan atau ke kamar mandi, tetapi tidak mengingat secara jelas apa yang terjadi akibat rasa kantuknya. Ketika satu episode telah selesai, seseorang akan kembali ke pola perilaku normalnya. 

Ketika tidak kambuh, seseorang akan memiliki perilaku dan jam tidur yang normal

Penyebab

Penyebab pasti sleeping beauty syndrome tidak diketahui, tetapi ada yang menganggap ini berkaitan dengan kerusakan hipotalamus dan talamus di otak (bagian yang mengatur tidur, rasa lapar, dan perilaku seksual). Beberapa faktor yang dapat memicu gejalanya yaitu infeksi atau flu, trauma fisik, racun, gangguan psikologis, penggunaan narkoba, konsumsi alkohol, atau penggunaan tenaga fisik berlebihan. 

Diagnosis

Tidak ada pemeriksaan khusus yang ditujukan untuk mendiagnosis sleeping beauty syndrome. Sebelum dokter mendiagnosis, biasanya yang dilakukan pertama kali adalah mengesampingkan masalah kesehatan lain dengan gejala serupa dan memastikan tidak ada pengobatan yang memicu gejala.

Kriteria yang harus terpenuhi adalah mengalami hipersomnia berulang yang kriteria-kriterianya yaitu:

  • Episode kantuk berlebihan (2 hari-5 minggu)

  • Episode terjadi setidaknya sekali setiap 18 bulan atau lebih sering

  • Berperilaku normal di antara episode

  • Episode disertai dengan rasa lapar berlebihan dan banyak makan, hiperseksualitas, gangguan kognisi, dan perilaku yang tidak biasa

  • Jika diperlukan, maka bisa dilakukan sleep study untuk mengetahui jumlah waktu yang dihabiskan untuk tidur dan mengukur aktivitas listrik di otak. Selain itu, bisa juga dijalankan tes tambahan, seperti tes memori, tes darah, dan MRI.

Sleeping beauty syndrome harus memenuhi kriteria hipersomnia berulang untuk mendapatkan diagnosis

Perawatan

Selama episode terjadi, seseorang atau anggota keluarganya perlu melakukan beberapa hal, seperti menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan aman, menunda pekerjaan untuk mendapatkan waktu tidur yang sesuai, hindari mengendarai kendaraan, mawas diri terhadap tanda-tanda depresi atau kecemasan, serta mempertahankan rutinitas tidur yang konsisten di antara episode. 

Obat-obatan tidak sepenuhnya mencegah episode sleeping beauty syndrome untuk datang di kemudian hari, tetapi biasanya dipergunakan untuk mengelola gejala atau mengurangi frekuensi kekambuhan, misalnya amfetamin, modafinil, atau antidepresan. Penggunaannya harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Jadi, sleeping beauty syndrome ditunjukkan ketika seseorang tidur dalam waktu lama (16-20 jam per hari). Mereka memiliki rasa kantuk yang berlebihan, sehingga butuh tidur untuk mengatasinya. Kondisi ini sebenarnya tidak berbahaya, tetapi mungkin dapat memengaruhi kegiatan sehari-hari. Ternyata, tidak cuma hanya di dongeng ya, Ladies?