Cara Penularan HIV, Mulai dari Paling Umum Hingga Jarang

Cara Penularan HIV, Mulai dari Paling Umum Hingga Jarang

Kesehatan 800

1. Seks Lewat Vagina atau Anus

ODHA yang melakukan hubungan seks lewat vagina atau anus tanpa menggunakan kondom dengan cara yang tepat atau tidak mengonsumsi obat dapat menularkan HIV. Seks anal lebih berisiko daripada seks vagina untuk penularannya. Seseorang yang berada di posisi bawah lebih berisiko daripada di atas karena lapisan rektum lebih tipis. 

Seks lewat vagina atau anus paling sering menyebabkan penularan HIV

2. Jarum Suntik

Tinggi resikonya penularan HIV melalui jarum suntik yang dipakai oleh lebih dari satu orang. Tidak hanya yang dipakai saat perawatan medis, tetapi juga saat membuat tato, tindik, suntik hormon, suntik steroid, atau suntik silikon. Hal ini terjadi karena jarum tersebut kemungkinan sudah tercemar oleh darah ODHA.

3. Kehamilan, Kelahiran, atau Menyusui

Penularannya disebut dengan penularan perinatal atau penularan dari ibu ke anak. Cara ini adalah yang paling umum terjadi ketika ditemukan seorang anak tertular HIV. Maka dari itu, ibu hamil selalu disarankan untuk melakukan pemeriksaan agar mendapatkan obat jika benar telah terdeteksi dan demi menekan risiko bayi lahir tertular. 

Ibu hamil harus lakukan pemeriksaan HIV untuk cegah risiko bayi tertular

4. Terpapar Jarum Bekas Perawatan Orang dengan HIV

Cara penularan ini kemungkinan terjadi pada seseorang yang bekerja sebagai perawat medis, misalnya dengan tidak sengaja mencederai jari ketika sedang bekerja. Perlu diingat juga kalau orang yang donor darah tidak akan tertular ya, Ladies. Hal ini karena prosedurnya telah diatur seketat mungkin dan terjamin keamanannya.

5. Seks Oral

Mulut yang diletakkan pada penis, vagina, atau anus dapat tercemar HIV, misalnya saat melakukan ejakulasi di mulut. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV lewat seks oral adalah sariawan, gusi berdarah, atau luka kelamin, dan mengidap penyakit menular seksual lainnya. Meskipun begitu, risikonya masih jauh lebih rendah daripada seks lewat vagina atau anus.

6. Transfusi Darah, Produk Darah, Jaringan, atau Organ

Menerima transfusi darah, produk darah, atau transplantasi organ/jaringan yang terkontaminasi HIV dapat menyebabkan adanya risiko penularan, meskipun masih sangat kecil karena saat ini pengujian terkait suplai darah atau organ/jaringan sudah diperketat.

7. Digigit oleh Orang dengan HIV

Orang yang digigit oleh ODHA sangat jarang mengalami penularan HIV, terutama ketika orang dengan HIV tersebut tidak sedang mengalami kerusakan jaringan atau berdarah. Penularan yang terjadi biasanya karena ada kontak antara kulit yang rusak, luka, selaput lendir, darah, atau cairan. Penyebaran tidak terjadi melalui air liur. 

8. Ciuman Dalam

Penularan HIV pada pasangan yang melakukan ciuman dalam saat mulut terbuka dengan luka atau gusi berdarah sangat jarang terjadi. Lebih lanjut, jika yang dilakukan hanyalah ciuman “sosial” atau mulutnya masih tertutup pada ODHA, HIV tidak dapat ditularkan. Lagi-lagi, hal ini karena HIV tidak menyebar melalui air liur.

9. Kontaminasi Pada Makanan

Mengonsumsi makanan yang telah dikunyah sebelumnya oleh ODHA memunculkan risiko terjadinya penularan. Satu-satunya kasus yang pernah ditemui adalah di antara bayi. Kontaminasi terjadi ketika darah dari mulut pengasuh bercampur dengan makanan yang sudah dikunyahnya dan kemudian dimakan oleh bayi. Penyebaran tidak terjadi ketika ODHA hanya mengolah makanannya.

Itulah 9 cara penularan HIV yang mungkin diantaranya masih belum banyak diketahui. Meskipun begitu, sebenarnya jika Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mengonsumsi obat sesuai resep dan dapat mempertahankan kadar viral load-nya, mereka akan lebih sehat, hidup lebih lama, dan tidak akan menularkan HIV ke pasangannya yang sehat meskipun melakukan seks. Baca artikel Newfemme lainnya yuk!