Logo NewFemme
Sakit Perut Setelah Makan? Cek Kemungkinan Penyebabnya!

Sakit Perut Setelah Makan? Cek Kemungkinan Penyebabnya!

Kesehatan 59

Sakit perut tentu tidak menyenangkan, apalagi jika terjadi setelah makan. Terkadang, sakit perut ini disebabkan alergi makanan tertentu. Namun, sebetulnya alergi makanan ini sangat jarang terjadi pada orang dewasa.

Penyebab paling umum sakit perut setelah makan adalah gangguan pencernaan yang dalam bahasa medis disebut dengan dispepsia. Dispepsia menyebabkan sakit perut, kembung, dan perasaan terlalu kenyang setelah makan. Secara umum, gangguan makan ini akan hilang dengan sendirinya.

Jika sakit perut ini terus berlangsung, bahkan dalam waktu lama setalah makan, atau sakit perut ini berulang, mungkin ada kondisi lain yang mendasarinya. Berikut beberapa alasan yang mungkin terjadi.

  1. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Kondisi ini terjadi ketika asam lambung mengiritasi lapisan kerongkongan, yang mana menyebabkan mulas dan sakit perut. Kemungkinan mengalami GERD lebih besar ketika seseorang cenderung makan berlebihan atau menyukai makanan pedas. Jika kamu memiliki GERD, cobalah mengurangi makanan pedas, kafein, dan alkohol, dan minum antasida yang dijual bebas untuk membantu mengatasi gejalanya.

  1. Irritable Bowel Syndrome (IBS) atau Sindrom iritasi usus besar

Irritable bowel syndrome (IBS) adalah gangguan usus besar yang dapat menyebabkan rasa sakit di perut, begah karena terlalu banyak gas, diare, dan sembelit, yang mana efek yang dirasakan ini dapat berbeda-beda. Yang jelas, IBS menyebabkan sakit perut setelah makan. Jika sakit perut terus berlangsung setelah makan dan disertai dengan sembelit atau diare, konsultasikan dengan dokter untuk menjalani tes IBS.

  1. Penyakit celiac

Penyakit celiac adalah reaksi kekebalan terhadap makan gluten yang dapat memberikan dampak yang berbeda-beda pada setiap penderitanya. Salah satu dampaknya adalah sakit perut setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung gluten. Meskipun begitu, sakit perut juga bisa disebabkan intoleransi gluten ringan, dimana tubuh kesulitan mencerna gluten.

Intoleransi gluten ini berbeda dengan penyakit celiac. Pada penyakit celiac, usus kecil seseorang menjadi rusak ketika mengkonsumsi gluten; sedangkan pada intoleransi gluten, seseorang hanya mengalami reaksi fisik seperti diare atau perut bergas setelah makan gluten.

  1. Maag

Jika kamu mengalami rasa sakit kronis setelah makan sekaligus mengalami penurunan berat badan, anemia, muntah, kesulitan menelan, atau adanya darah pada feses, bisa jadi kamu memiliki penyakit maag. Maag biasanya diobati dengan obat penurun asam dan antibiotik. Namun, dalam beberapa kasus, maag dapat menjadi semakin parah dan mengganggu sehingga membutuhkan konsultasi lebih lanjut dengan dokter.

  1. Gastroparesis

Gastroparesis juga dikenal sebagai "perut lambat". Hal ini karena gastroparesis menyebabkan kelumpuhan sebagian otot perut dan mencegah kerja pencernaan pada waktu tepat. Karena itu, makanan berada di perut lebih lama. Akibatnya, perut tidak dapat menampung dan mencerna lebih banyak makanan, yang kemudian menyebabkan kram dan/atau kejang pada perut. Hal ini juga dapat disertai dengan mual atau muntah.

  1. Batu empedu

Batu empedu sangat umum di kalangan wanita berusia 40-an dan biasanya menyebabkan rasa sakit di kuadran tengah hingga kanan atas perut dan di sekitar punggung. Karena kerja kantong empedu dirangsang oleh lemak, nyeri perut ringan hingga parah dapat terjadi setelah makan makanan berminyak seperti gorengan, keju, sosis, keripik kentang, dan mentega. Orang dengan permasalahan pada kantung empedu mungkin akan sering bangun di tengah malam karena sakit perut yang parah.

  1. Penyakit Crohn

Penyakit Crohn termasuk ke dalam penyakit radang usus yang dapat memengaruhi setiap bagian saluran pencernaan mulai dari mulut hingga anus. Penyakit Crohn dapat menyebabkan gejala ringan hingga berat, termasuk muntah, diare, kelelahan, sakit perut, kram, nafsu makan berkurang, dan darah dalam feses. Untuk mengontrol penyakit ini, diperlukan pengobatan, perubahan pola makan, hingga pembedahan tergantung pada keadaan pasien.

  1. Kolitis ulserativa

Kolitis ulserativa adalah jenis lain dari penyakit radang usus yang menyebabkan borok kecil di seluruh usus besar atau rektum. Gejala penyakit ini biasanya berkembang dari waktu ke waktu dan termasuk sakit perut atau anus, diare berdarah, pendarahan pada anus, urgensi berlebih untuk menggunakan kamar mandi, kelelahan, dan penurunan berat badan. Sakit perut yang dirasakan dapat diperparah oleh makanan tinggi gula atau lemak jenuh seperti kue, mentega, minyak kelapa, dan bacon.

  1. Pankreatitis

Pankreatitis adalah peradangan pankreas yang menyebabkan rasa sakit di perut bagian atas dan menyebar hingga ke belakang. Pankreas menghasilkan enzim yang membantu pencernaan, sehingga pankreatitis terjadi ketika enzim tersebut dilepaskan terlalu cepat dan menyerang pankreas alih-alih makanan di perut. Rasa sakit bisa muncul tiba-tiba, atau bisa menjadi kondisi kronis yang berhubungan dengan batu empedu, batu pankreas, atau alkoholisme.

Pada akhirnya, alasan sakit perut terkadang hanya sekedar gangguan pencernaan ringan atau makan berlebihan. Tetapi, kamu perlu berkonsultasi dengan dokter jika rasa sakitnya berlebihan, terjadi dalam waktu lama, dan terjadi berulang kali.

Baca juga artikel menarik alinnya hanya di Newfemme!

 

Sumber:

Miller, K. & Breitowich, A. (2022). 10 Reasons Your Stomach Hurts So Much After You Eat, According To Doctors. Women’s Health. [online]. https://www.womenshealthmag.com/health/a19964592/stomach-hurts-after-eating/