Logo NewFemme
Hubungan Konsumsi Gula dengan Tingkat Stress dan Tingkat Kesepian

Hubungan Konsumsi Gula dengan Tingkat Stress dan Tingkat Kesepian

Kesehatan 199

Pernahkah Anda merasa stress, kemudian mengkonsumsi makanan atau minuman manis untuk mengurangi rasa stress tersebut? Ketika Anda sedang merasa stress, makanan atau minuman yang mengandung gula memang mampu memberi rasa nyaman. Dengan tingkat stress yang cenderung meningkat selama pandemi, semakin banyak orang yang menjadikan makanan dan minuman manis ini sebagai pelarian dari stress yang dirasakan.

Kebiasaan mengkonsumsi makanan tertentu ketika sedang stress disebut juga stress eating. Pada umumnya, makanan yang dipilih adalah makanan yang tinggi kalori serta mengandung cukup banyak gula, garam, dan lemak. Beberapa contohnya adalah junk food, makanan maupun minuman manis, hingga berbagai keripik. Terlebih, saat ini, kita bisa dengan mudah memesan berbagai makanan maupun minuman tersebut secara online, baik melalui pesan-antar maupun membeli berbagai produk melalui marketplace. Hal ini kemudian menyebabkan munculnya perilaku makan kurang baik.

Yuk, kita bahas lebih lanjut mengenai hubungan konsumsi gula dengan tingkat stress dan tingkat kesepian!

Apakah Benar Konsumsi Gula Mampu Mengurangi Tingkat Stress?

              Untuk mengetahui bagaimana gula mampu mengurangi tingkat stress, kita perlu memahami efek dari konsumsi gula pada darah. Glukosa yang berasal dari makanan dan minuman kita sehari-hari merupakan bentuk utama gula yang beredar pada peredaran darah. Oleh karena itu, glukosa terkadang disebut juga sebagai gula darah. Glukosa merupan salah satu sumber utama dari energi yang diperlukan tubuh untuk aktivitas sehari-hari.

              Ketika kita kadar gula darah turun, kita akan merasa lelah dan capai. Hal ini karena ketika kadar gula darah kita turun, tubuh kita akan kekurangan tubuh akan memompa hormone adrenaline untuk meningkatkan energi dengan cerpat. Akibatnya, tubuh kita akan masuk ke dalam mode fight or flight. Mode ini mengakibatkan prefrontal cortex, bagian otak yang kita gunakan untuk berpikir, akan “dimatikan” sementara. Ini yang kemudian sering kita sebut dengan keadaan hungry, yang mana merupakan akronim dari hunger dan angry. Biasanya nih, keadaan ini terjadi ketika kita marah-marah karena laper.

              Ketika kita mengkonsumsi makanan atau minuman manis, kadar gula darah kita akan naik dengan cepat. Hormon adrenalin yang beredar di tubuh akan kembali dibatasi, tubuh kita akan keluar dari mode fight or flight, dan kita akan kembali tenang. Makanya, terkadang orang yang marah-marah memang butuh asupan gula, terutama dari makanan dan minuman manis. Kalau bos atau tetangga Anda suka marah-marah, mungkin bisa juga dicoba mengambil hatinya dengan memberikan makanan maupun minuman manis!

Bagaimana Hubungan Gula dengan Tingkat Kesepian?

              Selain itu, gula juga mampu memberikan efek pada emosi kita. Contohnya, mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula dapat membantu kita merasa lebih baik ketika kita sedang kesepian. Terlebih, di masa pandemi seperti ini. Pandemi membuat hubungan kita dengan makanan berubah karena hubungan kita dengan orang lain menjadi sangat terbatas, terutama ketika kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sedang diterapkan.

              Social distancing yang mau tidak mau kita terapkan selama pandemi membuat kita tidak bisa bekerja ke kantor atau bertemu teman-teman di sekolah, Kita melakukan aktivitas sehari-hari di rumah saja, dan hanya berhubungan dengan orang lain secara virtual. Sehingga, kita mencari “teman” dan rasa nyaman dari hal lain, salah satunya gula. Es krim atau cokelat bisa membuat kita merasa nyaman, selayaknya teman.

Makanan dan minuman yang mengandung gula memang dapat berfungsi sebagai comfort food, makanan yang membuat kita merasa nyaman dan lebih tenang. Namun konsumsi makanan dan minuman manis yang terlalu banyak dapat meningkatkan resiko terkena penyakit metabolik seperti obesitas dan diabetes mellitus. Padahal, di masa pandemi seperti saat ini, orang yang memiliki penyakit metabolik memiliki tingkat resiko lebih tinggi sehingga masuk ke dalam kelompok rawan. Oleh karena itu, kita tetap harus menjaga konsumsi gula kita sehari-hari agar tidak melebihi batas, ya!

Masih banyak artikel terkait dengan gizi dan kesehatan di Newfemme. Jangan lupa simak terus materi-materi kita ya, khusus dipersembahkan untuk perempuan Indonesia.

 

Sumber:

Cassata, C. (2020). Eating Excess Sugar Is Worse for You During COVID-19: 6 Ways to Cut It. Healthline. November 6, 2020. Available at: https://www.healthline.com/health-news/eating-excess-sugar-is-worse-for-you-during-covid-19-6-ways-to-cut-it