Logo NewFemme
Mioma Uteri atau Uterin Fibroids: Gejala, Penyebab, dan Cara Pengobatan

Mioma Uteri atau Uterin Fibroids: Gejala, Penyebab, dan Cara Pengobatan

Kesehatan 98

Mioma uteri atau uterin fibroids merupakan tumor jinak yang tidak bersifat kanker dan dapat tumbuh di dalam atau luar rahim. Kondisi ini terjadi karena adanya pertumbuhan otot dan jaringan ikat dari dinding rahim.

 

Ukuran, jumlah, dan lokasi mioma bisa bervariasi. Mioma ditemukan dapat tumbuh hanya satu ataupun lebih sehingga membentuk klaster. Ukurannya bisa mencapai sebesar semangka. Pertumbuhannya dapat terjadi di dalam dinding rahim, dan bentuknya menonjol ke rongga endometrium atau permukaan rahim.

 

Kasus mioma biasanya muncul pada wanita usia subur dan sebanyak 40-50% di antaranya tidak bergejala ditemukan pada wanita usia 35 tahun. Tidak jarang juga mioma ditemukan tidak sengaja saat pengecekan panggul atau USG.

 

Lokasi pertumbuhan mioma uteri

Mioma diklasifikasikan berdasarkan lokasinya menjadi empat kategori berbeda. Tipe berikut ini tidak hanya mendeskripsikan lokasi petumubuhan, namun juga bagaimana mioma menempel. Lokasi spesifik mioma dapat tumbuh meliputi:

  1. Submucusal fibroids: Mioma tumbuh di dalam rongga rahim tempat janin tumbuh selama kehamilan.
  2. Intramural fibroids: Mioma tertanam dan tumbuh di dalam otot dinding rahim.
  3. Subserosal fibroids: Mioma tumbuh di luar rahim dan berikatan dekat dengan dinding rahim.
  4. Pedunculated fibroids: Mioma tumbuh di luar rahim dan berikatan dengan rahim. Tipe ini paling jarang terjadi dan biasanya berbentuk mirip jamur karena memiliki tangkai dengan bagian atas yang lebih lebar.

 

Gejala mioma uteri

Memang banyak wanita dengan mioma tidak mengalami gejala. Namun gejala tetap bisa muncul dipengaruhi oleh lokasi, ukuran, dan jumlah mioma. Beberapa gejala yang tampak pada wanita dengan mioma antara lain:

  • Perdarahan hebat saat menstruasi
  • Periode menstruasi berlangsung lebih dari seminggu
  • Nyeri di bagian panggul berkepanjangan dan tak kunjung sembuh
  • Frekuensi pipis yang sering
  • Gangguan berkemih
  • Penimbunan cairan di rongga perut
  • Konstipasi
  • Sakit di bagian punggung bawah
  • Keputihan kronis
  • Rasa sakit saat berhubungan seksual

 

Penyebab mioma uteri

Hingga kini dokter tidak dapat memastikan penyebab mioma uteri, namun riset menunjukkan empat faktor ini dapat berkontribusi:

  1. Hormon. Estrogen dan progesteron adalah dua hormon yang dapat memicu pertumbuhan mioma. Mioma memiliki lebih banyak reseptor dua hormon ini dibanding sel otot rahim rainnya. Mioma biasanya akan menghilang seiring dengan menurunnya produksi hormon saat menopause.
  2. Extracellular matrix (ECM). ECM adalah zat yang menyebabkan sel saling berikatan. Pada mioma, ECM meningkat sehingga membuat mioma berserabut.
  3. Perubahan genetik.
  4. Faktor pertumbuhan lainnya, seperti insulin-like growth factor

 

Adapun beberapa faktor risiko yang turut berperan terhadap pembentukan mioma, antara lain:

  1. Obesitas
  2. Riwayat keluarga
  3. Periode menstruasi yang terjadi terlalu dini
  4. Menopause yang terlambat

 

Cara pengobatan mioma uteri

Penanganan awal pada kasus mioma dapat dilakukan sesuai dengan gejala yang dirasakan, seperti pemberian antinyeri berupa parasetamol. Apabila mengalami perdarahan yang sangat banyak, jangan tunda untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat. Dokter akan memberikan beberapa pilihan pengobatan untuk mioma, yaitu:

1. USG

Pemeriksaan fisik dan USG harus diulangi setiap 6-8 minggu untuk mengawasi pertumbuhan mioma, baik ukuran maupun jumlah. Jika pertumbuhan stabil maka pasien akan diobservasi setiap 3-4 bulan.

 

2. Terapi hormonal

Pengobatan terapi hormonal dapat ditempuh dengan menggunakan preparat progestin atau gonadotropin-releasing hormone (GnRH). Preparat tersebut akan memproduksi efek hipoestogen yang mampu mengatasi mioma.

 

3. Miektomi

Cara lainnya adalah melalui miektomi yaitu operasi pengambilan mioma. Miektomi akan direkomendasikan dokter kepada seorang wanita yang masih berusia muda dan masih ingin memiliki anak lagi. Namun mioma masih memiliki kemungkinan 20-25% untuk tumbuh lagi setelah miomektomi.

Setelah operasi, pasien disarankan untuk menunda kehamilan selama 4-6 bulan, karena rahim masih dalam keadaan rapuh setelah dioperasi. Sayangnya, terkadang ada komplikasi dari operasi tersebut, yakni berupa risiko perdarahan.

 

4. Histerektomi

Histerektomi akan dipertimbangkan pada wanita yang sudah tidak menginginkan anak lagi, nyeri yang tidak kunjung sembuh, dan mengalami pertumbuhan mioma yang berulang (meski sudah melakukan operasi).

 

Mioma dapat tumbuh atau hilang sewaktu-waktu. Perubahan ukuran dapat terjadi dalam waktu yang panjang. Biasanya peruabahan ukuran berkaitan dengan kadar hormon di tubuh. Ketika kadar hormon tinggi, seperti saat kehamilan, mioma dapat tumbuh lebih besar. Untuk mencegah mioma terjadi, sebaiknya berolahraga secara rutin, terapkan pola makan sehat, dan hindari merokok.

Sumber: Pexels

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum Anda memutuskan untuk menjalankan pengobatan mioma. Diskusikan dengan dokter tentang kekhawatian dan keluhan yang anda alami di Newfemme.