Moebius Syndrome: Ingin Tersenyum tetapi Tak Bisa

Moebius Syndrome: Ingin Tersenyum tetapi Tak Bisa

Kesehatan 135

Moebius syndrome adalah gangguan neurologis yang terjadi sejak lahir dan bersifat langka. Hal ini disebabkan oleh ketidaknormalan perkembangan saraf tengkorak selama kehamilan. Sindrom ini utamanya menyebabkan otot wajah mengalami kelemahan atau lumpuh, yang pada akhirnya memengaruhi ekspresi wajah dan gerakan mata. 

Shop with Me

Handuk Grosir Murah Berkualitas (Ukuran 70x140)
IDR 85.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Sepatu Wanita Sneakers Sidney Roulfine S15 Korean Style
IDR 40.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
ALOHILOHI PAKET SET BRIGHTENING GLOWING BPOM
IDR 190.500
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Wardah UV Shield Essential Sunscreen Gel SPF 30 PA +++ 40 ml
IDR 35.500
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Gejala

Moebius syndrome memiliki umum yaitu kelemahan pada otot-otot wajah yang mengontrol ekspresi wajah, gerakan mata, menghisap, dan menelan. Pada bayi yang lahir dengan kondisi ini, mereka akan mengalami kesulitan mendapatkan ASI karena tidak dapat menyusui dengan baik maupun minum dari botol. 

Selain itu, mereka juga tidak dapat tersenyum, mengerutkan kening, atau mengangkat alis matanya. Lebih lanjut, moebius syndrome juga menyebabkan kelopak mata tidak dapat tertutup, bahkan saat tidur. Disamping gejala umum dan penting tersebut, ada beberapa gejala lain yang mungkin menyertai, seperti berikut ini:

  • Langit-langit mulut sumbing

  • Mata menyilang (strabismus)

  • Cacat pada tangan dan kaki (kaki kuda, jari-jari terhubung, kehilangan jari)

  • Keterlambatan dalam perkembangan

  • Kehilangan pendengaran

  • Penurunan kemampuan otot tubuh (hipotonia)

  • Tidak dapat menggerakkan mata dari sisi ke sisi

  • Micrognathia (rahang kecil)

Catatan lainnya, orang dengan moebius syndrome mungkin mendapatkan penolakan dari lingkungan sosialnya karena penampilan mereka yang berbeda dan karena adanya kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Ekspresi pada wajah yang tidak dapat tersalurkan dengan baik menyebabkan mereka terlihat acuh tak acuh terhadap emosi orang lain, sehingga sering disalahartikan.

Tak hanya karena ekspresi wajah, komunikasi atau hubungan mereka dengan orang lain juga menjadi sulit untuk dibangun karena penderitanya mungkin disalahpahami memiliki kecacatan intelektual. Pada akhirnya, orang dengan sindrom ini cenderung mengisolasi diri, mengalami depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya.

Gejala umumnya yaitu hilangnya ekspresi wajah, kesulitan untuk menggerakkan mata, serta menyusui

Penyebab

Moebius syndrome terjadi karena saraf kranial tidak berkembang dengan normal selama janin berkembang. Padahal, saraf-saraf tersebut memengaruhi kemampuan gerakan mata dan ekspresi wajah. Tidak diketahui secara pasti penyebabnya, tetapi terdapat 2 kemungkinannya, seperti mutasi genetik atau kerusakan pada batang otak karena kurangnya oksigen atau aliran darah selama kehamilan.

Diagnosis

Diagnosis moebius syndrome ditegakkan melalui beberapa pemeriksaan gejala. Mulai dari ada atau tidaknya kelemahan atau kelumpuhan wajah sejak lahir (yang tidak memburuk seiring berjalannya waktu) dan  pergerakan mata (tidak dapat digerakkan pada salah satu atau keduanya ke arah luar atau dari sisi ke sisi). Selain itu, untuk menyingkirkan kondisi lain, mungkin perlu dilakukan beberapa tes tambahan.

Pengobatan

Pengobatan untuk moebius syndrome tergantung pada kondisi anak. Meskipun tidak dapat disembuhkan, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan, seperti operasi (untuk langit-langit sumbing, untuk dapat tersenyum, untuk dapat menggerakkan mata lebih baik), terapi fisik (berjalan dan kemampuan otot lain), terapi wicara (menyusu dan berbicara), dan dukungan kesehatan mental. Orang dengan kondisi tetap dapat hidup normal.

Moebius syndrome tidak dapat disembuhkan, tetapi dibantu dengan operasi, terapi fisik, terapi wicara, dan dukungan kesehatan mental

Moebius syndrome mungkin menjadi sebuah tantangan bagi seseorang yang mengalaminya, baik dalam hal ekspresi wajah yang sering disalahartikan maupun dalam hubungan sosial. Meskipun tidak dapat disembuhkan, dengan dukungan medis dan terapi yang tepat, penderitanya masih dapat hidup dengan normal dan produktif.