Misofonia: Rendahnya Toleransi terhadap Suara Tertentu

Misofonia: Rendahnya Toleransi terhadap Suara Tertentu

Kesehatan 169

Misofonia adalah gangguan di mana seseorang memiliki toleransi yang rendah terhadap suara-suara tertentu. Mereka biasanya terpicu untuk mengalami kemarahan, kecemasan, atau rasa jijik yang intens. Gangguan ini memengaruhi orang pada tingkat yang berbeda-beda, di mana ada yang hanya terpengaruh oleh satu suara "pemicu" dan yang lain dapat memiliki beberapa suara pemicu. 

Shop with Me

LegoriS
IDR 35.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Eteris Spray #WFHedition | Spray Anti Nyamuk Alami | Aromaterapi (2 Pcs)
IDR 27.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Kemeja salur pria dan wanita lengan panjang up to big size atasan pria kemeja garis kerah chiang'i
IDR 135.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Bitzen Topi Wanita Star Summer Hat Korean Fashion Knit Visor Sports Baseball Cap Topi Olahraga Rajut Katun
IDR 20.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Reaksi yang dihasilkan juga bisa bervariasi mulai dari ringan hingga parah. Ada yang mampu mengontrol dan mengendalikan respons, tetapi ada pula yang merasa sulit mengendalikan emosinya. Misofonia dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih umum terjadi pada perempuan, di mana kebanyakan kasus muncul pada usia remaja awal.  

Gejala

Gejala misofonia berkaitan dengan bagaimana seseorang bereaksi terhadap suara-suara pemicu. Umumnya akan cenderung terjadi dalam respon “fight or flight”, yang artinya sebuah respon tersebut dapat mencakup dari 3 aspek di bawah ini:

1. Emosional

Perasaan yang intens atau mendominasi diri, seperti kemarahan, kecemasan, atau rasa jijik. Reaksi emosional dapat meningkat dengan cepat, mulai dari hanya sebuah gangguan biasa menjadi sebuah kemarahan atau bahkan amarah

2. Fisik

Proses-proses yang secara otomatis terjadi, seperti peningkatan tekanan darah dan detak jantung, ketegangan di dada, atau berkeringat

3. Perilaku

Tindakan yang terjadi sebagai respons terhadap suara pemicu, biasanya berupa impuls atau insting, seperti menghindari situasi di mana suara pemicu dapat terdengar, meninggalkan sebuah area ketika suara pemicu muncul, atau sebuah reaksi verbal atau non-verbal untuk menghentikan suara tersebut

Dalam kasus yang sangat parah, seseorang mungkin bereaksi begitu kuat sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk berpikir sebelum bertindak, sehingga apa yang dilakukan dapat mengganggu orang lain tanpa disadari. Pada akhirnya, mereka hanya bisa menyadari dan menyesali tindakannya. Meskipun begitu, reaksi serupa tetap bisa terjadi di masa depan.

Seseorang dapat mengalami perubahan emosional, fisik, dan perilaku ketika suara pemicunya muncul

Suara Pemicu

Berikut adalah beberapa jenis suara yang umumnya menjadi pemicu misofonia:

  • Makanan atau minuman: suara mengunyah, menelan, atau minum dengan keras, terutama dengan mulut terbuka

  • Bernapas: suara mengorok, mengendus, menghirup hidung, atau bernapas berat

  • Aktivitas atau gerakan: mengetuk jari, mengklik pulpen, mengetik keras, atau suara alat makan

  • Mulut atau tenggorokan: suara bersin, batuk, atau berciuman dengan keras

  • Lainnya: suara ticking dari jam atau telepon, bunyi flash kloset, tetesan air, suara binatang, dan gesekan kertas atau plastik

Penyebab

Tidak diketahui secara pasti penyebab misofonia, tetapi mungkin diakibatkan oleh kombinasi beberapa faktor seperti perbedaan struktur otak yang membuat individu lebih sensitif terhadap suara, kondisi gangguan saraf, kesehatan mental, atau pendengaran, serta kemungkinan adanya riwayat dalam keluarga.

Pengobatan

Terapi kesehatan mental seperti psikoterapi dapat membantu orang dengan misofonia untuk mengidentifikasi pemicu, menemukan cara untuk mengurangi atau mencegah suara pemicu muncul, mengembangkan strategi penanganan dan teknik untuk menghindari reaksi impulsif, serta mengurangi sensitivitas terhadap pemicu yang sudah ada. 

Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan misofonia, pendekatan yang efektif untuk pengelolaan misofonia mungkin mirip dengan penanganan kondisi terkait, misalnya kecemasan. Selain terapi, strategi lainnya dalam menangani misofonia adalah dengan penggunaan penutup telinga atau headphone noise-canceling serta adaptasi terhadap lingkungan.

Pengobatan misofonia meliputi psikoterapi, hingga strategi tambahan misalnya dengan menggunakan headphone noise cancelling

Misofonia ditandai ketika seseorang memiliki toleransi yang rendah terhadap suara-suara tertentu, misalnya yang berhubungan dengan kegiatan makan atau minum, pernapasan, serta aktivitas atau gerakan. Suara-suara ini sangat mungkin menyebabkan munculnya amarah, perubahan tanda-tanda vital, hingga tindakan yang salah. Kira-kira ketidaksukaan Ladies masih dalam batas wajar atau tidak nih?

Yuk, Download aplikasi Newfemme sekarang untuk mendapatkan tips dan info menarik lainnya!