Stockholm Syndrome: Malah Suka dengan Pelaku Kejahatan?

Stockholm Syndrome: Malah Suka dengan Pelaku Kejahatan?

Kesehatan 130

Stockholm syndrome merupakan sebutan untuk sebuah respon psikologis terhadap penahanan dan pelecehan. Maksudnya bagaimana? Seseorang dengan stockholm syndrome akan membangun hubungan yang positif dengan penculik, penahan, atau pelaku kekerasan. Kondisi ini terjadi karena seseorang mendapatkan ancaman, baik secara fisik maupun psikologis.

Shop with Me

QV Baby Gentle Wash & Shampoo 250ml
IDR 81.500
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Manik Mote Pasir in Box - FantasiaDream 8
IDR 39.500
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Buku Tulis Murah YOU (Produk KIKY) 38 Lembar
IDR 25.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Torenda Renda Prada - Flower Silver Black / Meter (KI.10700)
IDR 175.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Orang dengan sindrom ini akan bertindak dan berbicara dalam mode yang dapat membantu menetralisir emosi dan perilaku jahat dari pelakunya. Mereka berpikir bahwa dengan cara seperti itu, situasi dapat mereda dan tindakan buruk lainnya akan berhenti mereka dapatkan. Kemungkinannya, kondisi ini muncul sebagai bentuk penanggulangan trauma.

Kemungkinan lainnya adalah dalam kondisi seperti ini, bekerja sama dengan si pelaku adalah pilihan terbaik untuk menjaga keselamatannya. Contoh sederhananya adalah orang yang diculik membangun hubungan baik dengan penculiknya. Ia akan merasa bersyukur ketika dirinya tidak mendapatkan kekerasan fisik seperti sebelumnya.

Stockholm syndrome terjadi ketika seorang korban mulai membangun hubungan positif dengan pelaku

Tanda-Tanda Stockholm Syndrome

Stockholm syndrome lebih banyak terjadi pada orang yang berada dalam situasi penyanderaan. Orang-orang yang teraniaya menjadi terikat secara emosional terhadap pelaku  penganiayaan. Sayangnya, si korban seringkali tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami stockholm syndrome. Tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

  • Merasa tertarik, mulai mendukung, dan membela perilaku si pelaku

  • Mulai merasa mendapatkan kasih sayang dan kebaikan dari pelaku

  • Mulai mengasihani pelaku dan merasa bahwa mereka memiliki tujuan yang sama

  • Merasa ingin menyelamatkan pelaku dan tidak berusaha untuk melarikan diri ketika kesempatan itu ada

  • Memiliki persepsi negatif terhadap orang selain pelaku (polisi, orang tua, teman, kerabat) yang mencoba untuk mengeluarkan mereka dari situasi penyanderaan, penculikan, atau pelecehan

  • Menolak bekerja sama dengan penegak hukum dan aparat untuk mengadili pelaku

  • Mengadopsi tujuan, perspektif, dan ideologi yang sama dengan pelaku

Orang dengan stockholm syndrome juga mengembangkan disonansi kognitif, yaitu ketika ia berperilaku bertentangan dengan keyakinan intinya, karena muncul konflik antara pikiran dan perasaan. Salah satu bentuknya adalah mereka menciptakan versi pengalamannya sendiri yang lebih bersimpati dengan pelaku.

Penyebab

Belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya stockholm syndrome, tetapi kondisi ini dapat berkembang ketika:

  • Pelaku memperlakukan korban secara manusiawi, tidak seperti sebelumnya

  • Pelaku dan korban memiliki interaksi tatap muka yang signifikan, sehingga mulai terjalin sebuah ikatan

  • Korban merasa penegak hukum tidak melakukan tugasnya dengan baik

  • Korban merasa polisi dan pihak berwenang lainnya tidak memikirkan kepentingan terbaiknya

Tatapan muka yang signifikan atau perlakuan manusiawi dapat memicu stockholm syndrome terjadi

Pengobatan

Diagnosis stockholm syndrome tidak tercantum di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima. Maka dari itu, tidak ada rekomendasi pengobatan resmi untuk kondisinya. Namun banyak korban selamat yang pada akhirnya mengalami depresi, kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).

Maka dari itu, pilihan pengobatannya adalah dengan psikoterapi (misalnya trauma-focused cognitive behavioral therapy, prolonged exposure therapy, dan cognitive processing therapy) serta konsumsi beberapa obat untuk membantu meringankan gejala dan gangguan suasana hati. Mereka juga perlu berada di hubungan yang aman bersama keluarga dan teman yang dapat dipercayai.

Jadi, stockholm syndrome terjadi ketika seorang korban tindakan penculikan, kekerasan, atau pelecehan membangun hubungan positif dengan pelakunya. Ini kemungkinan menjadi salah satu bentuk penanggulangan dari trauma, di mana mereka merasa bekerja sama dengan pelaku menjadi pilihan yang terbaik demi menjaga keselamatannya.

 

Yuk, Download aplikasi Newfemme sekarang untuk mendapatkan tips dan info menarik lainnya!