Memahami Sleep Apnea: Berhenti Bernapas Saat Tidur?

Memahami Sleep Apnea: Berhenti Bernapas Saat Tidur?

Kesehatan 499

Sleep apnea terjadi ketika pernapasan seseorang berhenti berulang kali selama tidur. Ini adalah gangguan tidur umum yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia dan bisa menyebabkan sejumlah masalah kesehatan jika tidak diobati. Secara umum, terdapat dua jenis apnea tidur yang dibedakan berdasarkan penyebab terjadinya, yaitu:

1. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Bentuk yang paling umum. Terjadi ketika otot di tenggorokan terlalu rileks selama tidur sehingga menyebabkan penyumbatan saluran udara. Penyumbatan ini mengakibatkan jeda dalam pernapasan, seringkali disertai dengan mendengkur keras.

2. Central Sleep Apnea (CSA)

Bentuk yang lebih jarang. Terjadi ketika otak gagal mengirimkan sinyal yang tepat kepada otot yang bertanggung jawab untuk mengendalikan pernapasan. Berbeda dengan OSA, CSA biasanya tidak dikaitkan dengan mendengkur.

Gejala

Apnea tidur bisa terjadi pada siapa saja. Obstructive sleep apnea cenderung terjadi pada pria <50 tahun, wanita >50 tahun, lansia, serta overweight atau obesitas. Central sleep apnea cenderung terjadi pada usia lebih dari 60 tahun, mengonsumsi obat nyeri opioid, punya kondisi jantung tertentu, tinggal di dataran tinggi, dan punya riwayat OSA.

Apnea tidur dapat memiliki berbagai gejala, yang mungkin termasuk:

  • Mendengkur keras dan kronis (terutama pada OSA)

  • Tersedak atau terengah-engah saat tidur

  • Jeda napas saat tidur (biasanya disadari oleh pasangan)

  • Sering terbangun untuk buang air kecil (nokturia) dan susah kembali tidur

  • Menggertakkan gigi (bruxism)

  • Bangun berulang kali di tengah malam

  • Jantung berdebar kencang di malam hari

  • Berkeringat dan merasa gelisah di malam hari

  • Tenggorokan atau mulut kering saat bangun pagi

  • Sakit kepala di pagi hari

  • Mengantuk di siang hari

  • Kesulitan berkonsentrasi

  • Perubahan suasana hati

Salah satu gejala utama sleep apnea adalah mendengkur dan terengah-engah saat tidur

Penyebab

Sleep apnea biasanya tidak memiliki penyebab yang spesifik, tetapi banyak orang mengalaminya akibat faktor keturunan. Berdasarkan jenis, apnea tidur memiliki beberapa perbedaan dalam perkembangan terjadinya, yaitu:

  • OSA: kelebihan berat badan atau obesitas yang menyebabkan penumpukan lemak di sekitar saluran udara atas, lingkar leher yang lebih tebal, mengonsumsi obat-obatan atau alkohol, bertambahnya usia, tidur telentang, REM, dan merokok.

  • CSA: gagal jantung, stroke, penggunaan obat nyeri opioid.

  • Mixed/Complex: disebabkan oleh kombinasi dari OSA dan CSA

Diagnosis dan Pengobatan

Untuk menegakkan diagnosis apnea tidur, seseorang biasanya harus menjalani tes overnight sleep study (polysomnogram) atau home sleep apnea testing. Kedua tes tersebut dilakukan saat tidur, di mana pernapasan dan tanda-tanda vital lainnya dipantau selama tidur. Pilihan pengobatan untuk kondisi ini mencakup:

  • Perubahan gaya hidup: menurunkan berat badan, meningkatkan aktivitas fisik, menghindari alkohol dan obat penenang, dan mengubah posisi tidur (tidak telentang).

  • Penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP): mesin yang memberikan aliran udara yang stabil untuk menjaga saluran udara tetap terbuka saat tidur.

  • Mouthpieces: alat yang memposisikan rahang atau lidah untuk mengurangi dengkuran.

  • Operasi: jika pengobatan lain tidak efektif, prosedur bedah dapat dipertimbangkan, misalnya dengan mengangkat jaringan di tenggorokan dan memperluas saluran napas.

Salah satu perawatan sleep apnea adalah penggunaan CPAP

Jadi, sleep apnea adalah kondisi di mana pernapasan seseorang berhenti secara berulang kali saat tidur. Jenisnya ada 2 macam yaitu Obstructive Sleep Apnea (OSA) dan Central Sleep Apnea (CSA). Gangguan ini adalah kondisi kronis jangka panjang, namun biasanya bisa diatasi dengan cara menurunkan berat badan atau menjalankan perawatan tertentu.