Intermittent Explosive Disorder, Ledakan Amarah Tidak Sesuai Situasi

Intermittent Explosive Disorder, Ledakan Amarah Tidak Sesuai Situasi

Kesehatan 94

Intermittent explosive disorder (IED) adalah salah satu kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan ledakan amarah secara impulsif. Seringkali terjadi tanpa pemicu karena mereka memiliki toleransi yang rendah jika dihadapkan dengan kesulitan atau sesuatu hal yang membuat frustasi. Episode ledakan amarah ini bisa berupa amukan, argumen verbal, agresi, atau perkelahian fisik.

Intermittent explosive disorder dapat terjadi pada anak-anak atau orang dewasa, serta lebih sering dialami oleh pria daripada wanita. Sebanyak 80% orang dengan IED diketahui juga memiliki kondisi kesehatan mental lain, seperti anxiety disorders, externalizing disorders, intellectual disabilities, autisme, dan bipolar disorders. Contoh tindakan sederhana dari kondisi ini yaitu:

  • Memberhentikan seseorang yang memotong kendaraan kita di jalan

  • Memukul atau menghentakkan meja ketika kita mendapatkan kritikan

  • Berteriak kepada rekan kerja ketika dikoreksi selama rapat

  • Meninju dinding ketika seseorang membangunkan kita dari tidur

Intermittent explosive disorder ditandai ketika seseorang mengalami ledakan amarah secara impulsif

Gejala Intermittent Explosive Disorder

Tanda-tanda utama orang dengan IED adalah ledakan amarah yang cenderung tidak sesuai dengan situasi atau peristiwa pemicunya. Mereka tahu bahwa apa yang dilakukan itu tidak pantas, tetapi sayangnya tidak bisa mengontrol tindakan tersebut selama episodenya masih berlangsung. 

Ledakan amarah tersebut biasanya terjadi secara tidak terencana, sesaat setelah diprovokasi, berlangsung tidak lebih dari 30 menit, menyebabkan stres, dan terganggunya aktivitas di sekolah, kantor, atau rumah. Beberapa contoh bentuk ekspresi ledakan amarah yang terjadi adalah sebagai berikut:

  • Amarah membara

  • Berteriak atau mengancam orang lain

  • Menyerang orang atau hewan secara fisik

  • Merusak benda di sekitar

  • Tindakan kekerasan dalam rumah tangga

  • Luapan kemarahan di jalanan

Penyebab

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan seseorang menderita intermittent explosive disorder adalah keturunan, biologis, dan lingkungan. Orang dengan IED cenderung memiliki anggota keluarga lain dengan kondisi yang sama. Di sisi lain, jika dilihat dari aspek biologis, ditemukan adanya perbedaan dari fungsi amigdala serta tingkat serotonin dalam tubuh. 

Seperti yang kita tahu juga, pengalaman traumatis masa lalu dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang. Orang dengan IED mungkin pernah mengalami atau melihat pelecehan di masa kanak-kanaknya, baik secara fisik maupun verbal. TIdak hanya pelecehan, namun juga termasuk peristiwa traumatis lainnya.

IED bisa disebabkan oleh faktor keturunan, biologis, dan lingkungan

Diagnosis

Seorang profesional kesehatan mental akan mendiagnosis IED berdasarkan pengkajian gejala, termasuk riwayat medis pribadi dan keluarga, hubungan masa lalu, riwayat sekolah atau pekerjaan, dan kontrol impuls. Seseorang harus menunjukkan bahwa mereka gagal untuk mengontrol impuls agresif, di mana syaratnya adalah:

1. Frekuensi tinggi dengan intensitas rendah

Kemunculan agresi secara verbal atau agresi fisik, termasuk marah atau bertengkar, yang terjadi dua kali seminggu selama periode 3 bulan.

2. Frekuensi rendah dengan intensitas tinggi

Merusak benda atau penyerangan fisik pada orang atau hewan, termasuk memukul, menendang, menampar, mendorong, atau menggunakan senjata, yang terjadi tiga kali selama periode 12 bulan.

Selain itu, syarat lainnya yang juga harus dipenuhi adalah kemunculan episode agresi tidak selaras dengan situasi sebenarnya, terjadi secara spontan tanpa direncanakan, dan minimalnya seseorang harus berusia 6 tahun untuk mendapatkan diagnosis intermittent explosive disorder.

Pengobatan

Intermittent explosive disorder biasanya diobati dengan psikoterapi, terutama dengan cognitive behavioral therapy. Tujuannya adalah agar seseorang dapat menerapkan pola dan perilaku yang lebih sehat dari sebelumnya. Mereka mungkin juga akan mendapatkan beberapa resep obat untuk meningkatkan toleransi terhadap pemicunya, seperti antidepresan, antipsikotik, antikonvulsan, anti kecemasan, dan pengatur suasana hati. 

Jadi, intermittent explosive disorder ditandai dengan ledakan amarah secara berlebihan. Kondisi terjadi karena seseorang memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap pemicu amarahnya dan tidak mampu mengendalikan dirinya ketika itu terjadi. Mengubah pola pikir adalah cara terbaik untuk mengatasi masalah ini. Yuk baca artikel Newfemme lainnya!