Claustrophobia, Takut Terhadap Ruang Sempit

Claustrophobia, Takut Terhadap Ruang Sempit

Kesehatan 350

Claustrophobia adalah ketakutan luar biasa dan intens terhadap ruang sempit atau kondisi keramaian. Fobia ini bersifat situasional dan cukup umum dialami oleh banyak orang. Contoh claustrophobia diantaranya yaitu saat terkunci di ruangan kecil tanpa jendela, terjebak di dalam lift yang penuh, atau mengemudi di jalan raya yang padat kendaraan. 

Shop with Me

Sendok
IDR 3.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Slingbag W 62
IDR 99.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Bluye
IDR 29.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang
Handuk Grosir Murah Berkualitas (Ukuran 70x140)
IDR 85.000
Gratis Ongkir NewFemme
Beli Sekarang

Fobia yang dialami seseorang bersifat irasional, di mana biasanya ketakutan ekstrem muncul ketika sebenarnya situasi yang terjadi tidak seberbahaya yang dipikirkan. Mereka menjadi sulit berkonsentrasi dan berfungsi. Hal tersebut dapat menyebabkan aktivitas sehari-hari terganggu, sehingga membatasi kemampuan seseorang dalam bekerja, berhubungan, atau tidak percaya diri.

Gejala Claustrophobia

Beberapa faktor pemicu gejala claustrophobia muncul diantaranya adalah berada di ruangan kecil (bilik toilet, pintu putar, ruang ganti, terowongan), naik mobil kecil, naik lift, menjalani CT scan, atau berdiri di ruangan besar tetapi ramai (konser atau pesta). Biasanya, ketika ketakutan itu muncul, seseorang akan merasakan serangan panik.

Selain itu, gejala lain yang mungkin dirasakan adalah:

  • Gemetaran

  • Berkeringat

  • Darah hangat terasa mengalir di tubuh

  • Takut dan panik ekstrem

  • Cemas tak berujung

  • Sesak napas

  • Hiperventilasi

  • Jantung berdebar-debar

  • Nyeri dada

  • Mual

  • Pusing atau pingsan

  • Disorientasi 

  • Mati rasa

  • Dering di telinga

Salah satu gejala claustrophobia adalah berkeringat

Penyebab

Lingkungan mungkin berkontribusi cukup besar terhadap kondisi claustrophobia, terutama pada masa kanak-kanak atau remaja. Fobia ini juga lebih mungkin terjadi pada wanita daripada pria. Jika dikaitkan dengan fungsi otak, mungkin dapat terjadi karena adanya disfungsi amigdala (bagian otak yang mengatur cara kita memproses rasa takut).

Claustrophobia juga bisa disebabkan oleh beberapa pengalaman, seperti:

  • Terjebak di ruang sempit atau keramaian dalam waktu lama

  • Mengalami turbulensi dalam pesawat

  • Mendapatkan claustrophobia karena orang tua juga mengalami hal yang sama

Diagnosis

Dikarenakan claustrophobia biasanya mengganggu fungsi kerja sehari-hari, maka biasanya seseorang akan ditanyakan terkait seberapa kuat rasa takutnya, seberapa sering gejala muncul, bagaimana hal tersebut memengaruhi interaksi sosial, dan bagaimana cara mengatasinya. Selanjutnya akan ditanyakan terkait perubahan hidup yang baru-baru ini terjadi, tingkat stres, atau konsumsi obat dan suplemen tertentu. 

Pengobatan

Exposure therapy dan cognitive behavioral therapy merupakan 2 pengobatan utama yang biasa digunakan untuk menangani claustrophobia. Exposure therapy (terapi pemaparan) dilakukan dengan cara sengaja dibuat dalam situasi yang memicu fobia muncul, seperti mengingat pengalaman yang ditakuti atau dengan melihat gambar yang mendekati pengalaman nyata. 

Cognitive behavioral therapy berfokus untuk membantu seseorang dalam mengelola rasa takutnya dengan cara berpikir, merasakan, dan berperilaku. Selain kedua perawatan tersebut, seseorang mungkin juga diajarkan untuk melakukan teknik relaksasi, yaitu dengan menghitung mundur atau membayangkan tempat yang lebih aman. Cara ini akan mampu menenangkan dan meredakan kepanikan.

Salah satu terapi untuk menangani claustrophobia adalah dengan terapi pemaparan

Jadi, claustrophobia diartikan sebagai ketakutan ekstrem dan intens terhadap ruang sempit atau berada dalam kondisi keramaian tetapi dalam kondisi sesak. Gejalanya mulai dari gemetar, berkeringat, bahkan bisa pingsan. Cara untuk menanganinya adalah dengan melakukan terapi. Jika Ladies masih punya banyak pertanyaan lain, yuk konsultasikan saja di aplikasi Newfemme!