Plasenta Previa, Hati-Hati Pendarahan Hebat

Plasenta Previa, Hati-Hati Pendarahan Hebat

Kesehatan 600

Plasenta previa terjadi ketika plasenta menutupi pembukaan serviks ibu hamil selama bulan-bulan akhir kehamilan. Jika terjadi, ibu bisa mengalami pendarahan yang hebat baik sebelum atau selama persalinan. Normalnya pada trimester 3, plasenta harus bergerak ke bagian yang menjauhi lubang serviks, yaitu ke dekat bagian atas rahim. Tujuannya adalah agar bayi memiliki jalur yang jelas ke arah vagina untuk dilahirkan.

Pada kondisi ini, plasenta malah menempel pada bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh lubang bagian dalam (os serviks). Ibu hamil yang mengalami ini diharuskan untuk mengistirahatkan panggulnya, dengan cara tidak berhubungan seksual, membatasi prosedur pemeriksaan kandungan, hingga aktivitas apapun yang membebani dasar panggul. Ada beberapa jenis plasenta previa, yaitu:

  • Plasenta previa parsial: menutupi sebagian serviks

  • Plasenta previa total: menutupi keseluruhan serviks, sehingga terhalang akses ke vagina

Selain pendarahan, juga ada risiko tekanan darah tinggi, sehingga mayoritas membutuhkan operasi caesar. Plasenta previa biasanya didiagnosis pada saat kehamilan semester 2 selama pemeriksaan USG. Plasenta previa tidak sama dengan plasenta anterior. Plasenta bisa menempel dan tumbuh di mana saja di dalam rahim, tetapi plasenta anterior terjadi ketika plasenta telah tertanam di bagian depan tubuh. 

Plasenta previa terjadi ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh pembukaan serviks 

Gejala

Gejala utama plasenta previa adalah pendarahan hebat secara tiba-tiba dari vagina, warnanya merah terang dan seringkali tidak disertai rasa sakit. Maka dari itu, jika mengalaminya, ibu hamil harus memeriksakan kondisinya ke dokter untuk memastikan apa penyebab hal ini terjadi. Gejala lain yang juga mungkin dialami diantaranya adalah:

  • Kram atau nyeri yang luar biasa

  • Pendarahan pada beberapa waktu selama kehamilan, bisa terjadi lebih dari satu kali, dan berlanjut lagi beberapa hari kemudian

  • Pendarahan setelah berhubungan seksual

  • Pendarahan selama paruh kedua kehamilan

Penyebab dan Komplikasi

Tidak ada penyebab pasti mengapa plasenta previa bisa terjadi, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya, seperti posisi bayi sungsang atau melintang, pernah keguguran, bentuk rahim tidak normal, merokok, usia lebih dari 35 tahun, sudah pernah hamil beberapa kali, kehamilan ganda atau lebih, memiliki riwayat operasi rahim (termasuk caesar dan kuretase), dan riwayat uterine fibroids.

Jika mengalami kondisi ini, ibu dan bayi masing-masing memiliki risiko. Bagi ibu, bisa terjadi pendarahan, melahirkan belum cukup waktu, kehilangan darah sehingga anemia, plasenta akreta (tumbuh terlalu dalam di dinding rahim), dan solusio plasenta (plasenta terpisah dari rahim sebelum bayi lahir sehingga mengurangi asupan nutrisi dan suplai oksigen). 

Sementara itu, risikonya bagi bayi adalah dilahirkan prematur, masalah pernapasan, dan berat badan lahir rendah (BBLR). Kenapa bisa menyebabkan pendarahan? Pertama adalah karena plasenta menyentuh serviks yang kian menipis pada trimester tiga. Kedua adalah karena robeknya pembuluh darah yang menghubungkan plasenta ke rahim.

Diagnosis

Tanda-tanda awal plasenta previa biasanya muncul saat USG rutin selama kehamilan 20 minggu. Pada waktu ini, letak plasenta memang masih rendah, sehingga belum menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan, karena normalnya plasenta akan berubah posisi pada minggu selanjutnya. 

Ciri-ciri plasenta previa juga dapat ditunjukkan ketika ibu hamil mengalami pendarahan selama paruh kedua kehamilan. Maka dari itu, dokter biasanya akan memantau posisi plasenta dengan berbagai metode seperti USG transvagina, USG transabdominal, atau MRI untuk memastikan lokasinya secara lebih jelas.

Kondisinya bisa di diagnosis mulai dari usia kehamilan 20 minggu

Pengobatan

Perawatan yang dilakukan untuk kondisi ini ditentukan berdasarkan jumlah pendarahan, bulan kehamilan, kesehatan bayi dan ibu, dan posisi plasenta. Jika pendarahan minimal atau sama sekali tidak terjadi, maka disarankan untuk istirahat panggul (tidak memasukkan apapun ke dalam vagina, seks, dan mungkin olahraga).

Pada pendarahan berat, maka ibu hamil harus bedrest di rumah sakit, dan dokter akan merekomendasikan untuk dilakukan operasi caesar segera setelah usia kandungan telah aman untuk dilahirkan (minimal 36 minggu). Namun jika harus dilakukan lebih cepat dari waktu tersebut, bayi mungkin diberikan suntik kortikosteroid untuk mempercepat pertumbuhan paru-parunya.

Apabila pendarahan tidak terkendali, maka persalinan caesar harus segera dilakukan. Jika plasenta previa ditemukan pada trimester kedua, maka kondisinya akan hilang dengan sendirinya karena plasenta akan bergerak semakin ke atas rahim. Dokter pasti akan memantau terlebih dahulu posisi plasenta sebelum melahirkan.

Itulah penjelasan mengenai plasenta previa, yaitu ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh lubang serviks sehingga sering kali menyebabkan pendarahan. Perawatan yang dilakukan ditentukan berdasarkan pendarahan, bulan kehamilan, kesehatan ibu dan bayi, serta posisi plasenta. Ada banyak artikel kehamilan di Newfemme, yuk baca!