Waspada Chorioamnionitis Saat Hamil

Waspada Chorioamnionitis Saat Hamil

Kesehatan 387

Chorioamnionitis termasuk ke dalam infeksi serius yang terjadi selama kehamilan, di mana bakteri masuk ke salah satu jaringan atau selaput yang berada di sekitar janin seperti korion (membran luar), amnion (membran dalam), plasenta, atau cairan ketuban. Banyak ibu hamil yang mengalami kondisi ini harus melahirkan secara prematur.

Gejala

Gejala chorioamnionitis paling sering ditemui adalah demam, detak jantung ibu cepat (>100/menit), dan detak jantung janin cepat (>160/menit). Sementara itu gejala lainnya adalah nyeri rahim saat ditekan tetapi bisa diatasi dengan pemberian analgesik, bau busuk pada cairan ketuban yang seringkali terjadi ketika ada infeksi yang lebih parah, serta keputihan abnormal.

Gejala chorioamnionitis yang paling sering adalah demam dan detak jantung cepat

Penyebab

Chorioamnionitis bisa terjadi melalui dua cara. Pertama yaitu bakteri masuk melalui vagina atau anus lalu naik dan menyebar ke rahim. Kedua yaitu cairan ketuban pecah sehingga menginfeksi janin. Kondisi ini seringkali diakibatkan oleh infeksi mikroorganisme yang ada di area alat vital dan cairan ketuban seperti Mycoplasma genital dan Ureaplasma urealyticum.

Selain itu, ada juga mikroorganisme lainnya seperti Gardnerella vaginalis, bacteroides, Streptococcus grup B, serta Escherichia coli. Maka dari itu, penting sekali untuk segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan jika cairan ketuban sudah pecah. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya chorioamnionitis, yaitu:

  • Ketuban pecah jauh sebelum waktu persalinan

  • Memiliki waktu kontraksi yang panjang

  • Mengalami infeksi menular seksual atau infeksi vagina

  • Melakukan pemeriksaan vagina setelah cairan ketuban pecah

  • Melakukan pemeriksaan rahim secara internal

  • Mengalami infeksi bakteri grup B

  • Mendapatkan anestesi epidural selama persalinan

  • Merokok dan konsumsi alkohol

Faktor risiko yang masih berada di bawah kendali dapat dicegah, misalnya dengan cara mengonsumsi antibiotik jika terjadi pecah ketuban lebih awal, membatasi pemeriksan vagina setelah cairan ketuban pecah karena bakteri bisa saja menyebar melalui prosedur tersebut, atau melakukan skrining bakteri pada trimester 3 kehamilan.

Kelahiran prematur seringkali harus dilakukan pada kondisi chorioamnionitis

Diagnosis Chorioamnionitis

Untuk menegakkan diagnosis chorioamnionitis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengkaji riwayat kesehatan. Jika perlu, bisa dilakukan tes darah, tes urin, dan pemeriksaan kultur vagina. Ada pula tes yang disebut dengan amniosentesis, yang mengambil sedikit cairan ketuban menggunakan jarum untuk dilakukan pengujian. Meskipun begitu, pemeriksaan ini tidak selalu dilakukan untuk mendiagnosis chorioamnionitis.

Ketuban yang sudah pecah adalah pertanda bagi ibu hamil untuk mawas diri. Hal ini karena janin tidak dapat bertahan hidup tanpa cairan ketuban yang fungsinya adalah untuk melindungi janin dari infeksi dan komplikasi lain yang mengancam nyawa. Mayoritas ibu hamil hamil melahirkan bayinya dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah.

Pengobatan

Pengobatan chorioamnionitis dilakukan dengan pemberian antibiotik. Jika tidak diobati dengan segera, maka ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi. Pada ibu, komplikasinya berupa bakteremia, infeksi area panggul atau perut, endometritis, penggumpalan darah di panggul atau paru-paru, atau sepsis. Sementara pada bayi komplikasinya adalah meningitis, pneumonia, kerusakan otak, atau kematian.  

Jadi, chorioamnionitis adalah infeksi bakteri yang terjadi pada cairan ketuban, plasenta, atau selaput korioamnion. Gejala utama dari kondisi ini adalah demam serta detak jantung yang cepat pada ibu dan janinnya. Dampak dari chorioamnionitis adalah ibu harus melahirkan secara prematur. Jika masih punya banyak pertanyaan, yuk boleh banget manfaatkan layanan konsultasi online di Newfemme!