Serba-Serbi Acrophobia, Ketakutan akan Ketinggian

Serba-Serbi Acrophobia, Ketakutan akan Ketinggian

Kesehatan 359

Acrophobia atau fobia ketinggian adalah ketakutan berlebihan terhadap ketinggian. Kondisi ini termasuk ke dalam jenis fobia spesifik karena ketakutannya berdasarkan atas situasi tertentu. Orang yang fobia ketinggian akan mengalami ketakutan dan kecemasan yang intens saat berada di posisi atau bahkan hanya dengan memikirkan dirinya berada di ketinggian.

Normalnya, setiap orang pasti akan merasakan sedikit gemetar saat berada di suatu ketinggian, misalnya saat melihat ke bawah dari jembatan. Namun pada orang dengan acrophobia, mereka merasakan ketakutan serta kecemasan berlebihan yang tidak masuk akal, misalnya saat berada di balkon rumah atau menaiki tangga. 

Fobia ini merupakan jenis yang paling sering terjadi, biasanya mulai berkembang pada anak-anak, berlanjut hingga remaja, dan semakin jelas saat dewasa muda. Wanita mungkin lebih rentang mengalami fobia yang spesifik seperti ini. Mereka biasanya akan menghindari berada pada situasi tertentu, sehingga memilih untuk membatasi kemana mereka akan pergi atau lakukan, seperti:

  • Menaiki atau berhenti di tangga

  • Parkir di tempat bertingkat

  • Berada di jembatan penyebrangan

  • Menaiki wahana roller coaster

  • Berdiri di dekat balkon atau di atas gedung

  • Memandang keluar jendela dari gedung tinggi

Acrophobia adalah ketakutan berlebihan terhadap ketinggian

Gejala

Tanda-tanda yang sudah pasti terlihat pada orang dengan acrophobia adalah merasakan ketakutan berlebihan, baik itu pada ketinggian rendah maupun lebih tinggi. Dari sisi gejala fisik, mereka mungkin akan mengalami detak jantung cepat, pusing, mual, gemetaran, berkeringat, dan sesak napas. Sementara gejala psikologis yang mungkin terjadi adalah:

  • Takut dan cemas berlebihan saat memikirkan, melihat, berbicara, atau berada di tempat tinggi

  • Khawatir akan terjadi suatu hal negatif di tempat tinggi, seperti jatuh atau terjebak

  • Selalu berusaha menghindar dari situasi yang mengharuskan mereka berada di tempat tinggi

Penyebab

Tidak diketahui penyebab pasti acrophobia, tetapi banyak yang percaya bahwa ini terjadi akibat dari kekhawatiran alami manusia untuk jatuh dari tempat tinggi. Memikirkan dan mengkhawatirkan dampak jatuh dari ketinggian tersebut dapat berkontribusi terhadap perkembangan acrophobia.

Ketakutan tersebut juga bisa semakin intens ketika seorang anak mengamati orang tua atau orang disekitarnya mengalami ketakutan di sekitar ketinggian. Lebih lanjut, acrophobia mungkin terjadi akibat trauma masa lampau di mana seseorang pernah melihat orang lain mengalami pengalaman buruk dengan ketinggian.

Ketakutan bisa muncul secara alami akibat dari kekhawatiran jatuh dari ketinggian

Diagnosis Acrophobia

Untuk menegakkan diagnosis acrophobia, biasanya seseorang harus setidaknya mengalami hal tersebut selama minimal 6 bulan secara terus-menerus. Riwayat, pengalaman, serta gejala yang dialami akan dikaji untuk mendapatkan data-data untuk mendukung diagnosis. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition, fobia setidaknya memiliki 4 kriteria diagnosis, yaitu:

  1. Ketakutan yang intens dan tidak masuk akal, misal pada objek atau situasi tertentu di mana rasa takutnya tidak proporsional dengan keadaan sebenarnya

  2. Cenderung takut hanya dengan memikirkan objek atau situasi yang ditakut

  3. Menghindari objek atau situasi yang menyebabkan rasa takut muncul

  4. Fobia mengganggu aktivitas sehari-hari

Pengobatan

Dikarenakan acrophobia termasuk ke dalam salah satu gangguan kecemasan, maka pengobatan lini pertama untuk mengatasi kondisinya adalah dengan psikoterapi dan kadang-kadang obat untuk meredakan takut serta cemas sementara waktu. Contoh bentuk terapi yang dapat dijalankan yaitu:

1. Exposure therapy

Seseorang secara bertahap diperkenalkan kepada situasi atau objek yang menyebabkan ketakutannya muncul kemudian mereka dibantu untuk beradaptasi demi menghadapi ketakutannya.

2. Virtual reality exposure therapy

Ienis terapi ini melibatkan penggunaan teknologi untuk menciptakan situasi palsu di mana seseorang sedang berada pada situasi yang mereka takuti. Melalui cara ini, seseorang dapat benar-benar mengalami kejadian yang nyata, tetapi sebenarnya tidak. 

3. Cognitive behavioral therapy

Seseorang akan dibantu untuk memahami dan mengubah cara berpikirnya untuk menghadapi suatu situasi.

4. Hipnoterapi

Menggunakan teknik sugestif untuk membantu seseorang melupakan respon ketakutannya terhadap fobia dengan cara membuat seseorang memasuki keadaan yang sangat rileks.

Jadi, acrophobia adalah fobia akan ketinggian. Ketakutan tersebut bisa muncul hanya dengan membayangkan, memikirkan, membicarakan, atau benar-benar ada di situasi ketinggian. Untuk mengatasinya, seseorang perlu melakukan beberapa kali sesi psikoterapi. Ada banyak artikel menarik lainnya di Newfemme, yuk kunjungi website atau download aplikasinya!