Logo NewFemme
3 Fakta Tentang Sejarah Peringatan Hari Ibu Sebagai Hari Nasional

3 Fakta Tentang Sejarah Peringatan Hari Ibu Sebagai Hari Nasional

Gaya Hidup 91

Tanggal 22 Desember diperingati secara nasional sebagai Hari Ibu. Peringatan ini telah dikukuhkan menjadi Hari Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 316 pada 16 Desember 1959. Begitu luar biasanya jasa para Ibu sehingga seluruh Indonesia turut memperingati momen ini.

 

Hari istimewa ini diperingati untuk mengenang jasa para pahlawan perempuan yang telah berhasil mengangkat derajat perempuan. Adapun makna lainnya yaitu sebagai ungkapan terima kasih tehadap peran Ibu yang telah berjuang membawakan calon-calon pemimpin ke dunia. Sudah tahukah kamu awal mula dicetuskannya peringatan Hari Ibu?

 

  1. Kongres perempuan pertama bertepatan pada tanggal 22 Desember

Tanggal 22-25 Desember 1928 merupakan momen pertama organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekita 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera antara lain Wanita Utomo, Wanita Khatolik, dan Jong Java bagian perempuan.

Kongres Perempuan Pertama (Sumber : Voi)

Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai awal mula perjuangan kaum perempuan di Indonesia. Melalui kongres tersebut, berbagai pemimpin dari organisasi perempuan se-Indonesia berkumpul untuk memperjuangkan kemerdekaan serta perbaikan nasib perempuan.

 

Hari kedua kongres diisi oleh Moega Roemah yang membawakan topik perkawinan anak. Jauh sebelum kemerdekaan, nasib perempuan ditentukan oleh status perkawinan. Bahkan di umur yang masih belia, sudah banyak perempuan yang dikawinkan. Hampir seluruh agenda di kongres ini dituangkan untuk menuntuk hak-hak perempuan

 

  1. Mengenang jasa pahlawan wanita selain R.A. Kartini

Hari Ibu ditetapkan oleh Presiden Soekarno setelah banyaknya protes dari warag Indonesia terhadap kebijakan presiden menetapkan Hari Kartini. Mereka menganggap bahwa Kartini tidak merepresentasikan perjuangan wanita mengingat Ia hanya berjuang di daerah Jepang dan Rembang.

R.A. Kartini (Sumber : Kompas)

Kartini juga dianggap lebih pro terhadap Belanda. Demi menghindari protes terhadap peringatan Hari Kartini yang terlanjut ditetapkan Presiden Soekarno, akhirnya beliau menetapkan Hari Ibu untuk mengenang para pahlawan perempuan pejuang daerah lainnya.

 

Para pahlawan perempuan seperti Rohana Koedoes, Kartini, dan juga Dewi Sartika adalah sosok penting dibalik pembangunan sekolah-sekolah untuk perempuan di Indonesia. Berkatnya, kini perempuan Indonesia dapat mengakses pendidikan setinggi-tingginya.

 

  1. Pidato berjudul “iboe” oleh Djami (Organisasi Darmo Laksmi)

Pidato berjudul “iboe” oleh Djami (Sumber : Idntimes)

Dahulu di zaman kolonial, hanya anak laki-laki yang diperbolehkan mengakses pendidikan. Anggapan bahwa tugas perempuan adalah berkutat dalam urusan rumah tangga masih melekat erat di zaman itu. Tetapi Djami membantah stigma tersebut dengan mengatakan :

 

“Tak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya.”

 

Ucapan yang tertuang dalam pidato tersebut bermakna bahwa seorang anak tidak akan berhasil jika ibunya tidak memiliki pengetahuan dan budi yang baik.