Logo NewFemme
Konstipasi pada Anak: Bagaimana Cara Menanganinya?

Konstipasi pada Anak: Bagaimana Cara Menanganinya?

Kesehatan 128

Konstipasi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering muncul pada anak-anak. Secara umum, definisi konstipasi menurut the North American Society for Pediatric Gastroenterology and Nutrition (NASPHGAN) adalah kesulitan atau keterlambatan melakukan defekasi selama dua minggu atau lebih, dan mampu menyebabkan stres pada pasien. Sehingga, konstipasi merupakan yang dapat menimbulkan masalah sosial maupun psikologis pada anak-anak.

Di Indonesia, konstipasi juga dikenal sebagai sembelit. Konstipasi adalah ketidakmampuan melakukan pengeluaran tinja secara sempurna yang tercermin dari berkurangnya frekuensi buang air besar (BAB) dari biasanya, tinja lebih keras, lebih besar dan nyeri dibandingkan biasanya, serta pada perabaan perut teraba massa tinja. 

Bagaimana Kita Tahu Jika Anak Mengalami Konstipasi?

Dalam menentukan adanya konstipasi terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan, yaitu frekuensi BAB, konsistensi tinja, dan temuan pada pemeriksaan fisis. Pada anak berusia sama atau kurang dari 4 tahun, adanya konstipasi ditentukan berdasarkan ditemukan minimal salah satu gejala klinis berikut:

  1. BAB kurang dari 3 kali seminggu,
  2. Nyeri saat BAB,
  3. Tubuh tidak dapat mengeluarkan feses melalui anus karena terlalu besar, kering, dan keras, serta
  4. Adanya masa feses di perut.

Kriteria untuk anak berusia di atas 4 tahun agak berbeda, yaitu:

  1. Frekuensi BAB kurang atau sama dengan dua kali seminggu tanpa menggunakan laksatif (obat pencahar atau obat sembelit),
  2. Dua kali atau lebih episode soiling (pengeluaran feses secara tidak sadar dalam jumlah sedikit) dan enkopresis (pengeluaran feses secara tidak sadar dalam jumlah besar) dalam seminggu, serta
  3. Teraba masa feses di perut atau anus pada pemeriksaan fisis.

Bagaimana Cara Menangani Konstipasi?

Dalam menangani konstipasi, kerjasama antara dokter, orang tua, dan anak sangat penting. Dokter berperan dalam memberi bimbingan dan pengobatan, orangtua bertanggung jawab terhadap kepatuhan anak, menyediakan rasa aman bagi anak, serta menyediakan waktu untuk anak BAB dengan nyaman, sedangkan anak sendiri harus mempunyai rasa tanggung jawab untuk menjalankan pengobatan dan harus selalu melakukan usaha untuk BAB. Ada 3 hal yang harus diperhatikan bila menghadapi anak dengan konstipasi yaitu:

  1. Pada tahap awal kita harus mengeluarkan tinja yang sudah menumpuk berhari-hari di dalam usus besar. Bila tinja yang menumpuk tidak terlalu banyak, evakuasi juga bisa dilakukan dirumah dengan cara pemberian obat supositoria (obat untuk melunakkan feses yang dimasukkan lewat anus). Namun, jika tinja susah dikeluarkan, evakuasi perlu dilakukan dengan tindakan di rumah sakit.
  2. Tahap kedua adalah pengobatan rumatan yang bertujuan untuk bertujuan mencegah tinja supaya tidak keras dan memutuskan lingkaran setan yang membuat anak menahan tinjanya. Fase ini dilakukan paling sedikit 2 minggu, bahkan terkadang sampai berbulan-bulan. Pengobatan rumatan ini. Pengobatan rumatan ini dilakukan dengan cara:
  1. Memberikan cairan yang cukup paling tidak 1 liter sehari, jika perlu boleh ditambahkan susu
  2. Pemberian serat yang cukup, bisa dengan buah-buahan selain pusang dan apel. Makanan berserat sangat dianjurkan pada anak yang menderita konstipasi. Serat dapat meningkatkan retensi air sehingga dapat melunakkan tinja, mempercepat waktu singgah di dalam usus besar, dan meningkatkan frekuensi BAB.
  3. Pijatan di perut searah dengan jarum jam untuk merangsang gerakan usus besar dengan minyak telon atau baby oil dari arah kanan bawah ke kanan atas dilanjutkan ke kiri atas lalu kiri bawah, secara rutin 15 kali sehari.
  4. Latih anak untuk BAB dengan toilet training. Minta anak untuk duduk di toilet sedikitnya dua kali sehari, setengah jam setelah makan, selama 5-10 menit setiap kalinya dan sebaiknya diberi pujian untuk setiap usahanya mencoba melakukan BAB. Toilet training juga dapat dilakukan pada mainan yang berbentuk toilet. Pada awalnya anak tidak ditargetkan untuk BAB saat toilet training, karena hal itu malah akan membuat stres si anak, yang penting adalah anak bisa duduk dulu sebentar, dan dilakukan secara teratur setiap hari.
  5. Pemberian obat laksatif (obat pencahar atau sembelit) yang aman diberikan jangka panjang. Diskusikan pada dokter atau tenaga kesehatan lain terkait dengan pemilihan obat ini, ya!

3.​​​​​​​ Tahap ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah mencari penyebab dari konstipasi tersebut.

Sebenarnya, konstipasi lebih merupakan suatu gejala klinis dibanding sebagai suatu penyakit tersendiri. Semoga artikel ini membantumu untuk bertindak ketika anak mengalami konstipasi ya, Ladies!

Simak artikel kesehatan lainnya hanya di Newfemme!

 

Sumber:

Endyarni, B., & Syarif, B. H. (2016). Konstipasi fungsional. Sari Pediatri6(2), 75-80.

Kadim, M. (2015). Sembelit (Konstipasi) pada Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. [online]. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sembelit-konstipasi-pada-ana