Logo NewFemme
Hadapi Tangisan Anak dengan Bijak

Hadapi Tangisan Anak dengan Bijak

Parenting 269

Banyak sekali alasan yang menyebabkan si kecil tantrum, merengek, dan menangis. Bahkan hal-hal yang dianggap kecil bisa membuatnya menangis.

Menangis adalah bahasa pertama yang dimiliki anak sejak lahir.

Umumnya bayi menangis untuk menyampaikan kebutuhan fisiknya. Namun, saat anak mulai bisa berkomunikasi dengan orang lain, menangis menjadi cara bagi si kecil untuk menyampaikan emosinya kepada orang lain. Menangis untuk menunjukkan rasa marah, frustasi, sedih, takut, dan lain-lain. Perbendaharaan kosakata yang masih terbatas, sehingga mereka belum mampu menceritakan secara detail apa dirasakannya. Menangis merupakan cara yang anak gunakan secara refleks dengan harapan orang tua dapat memahami kebutuhannya.

Seringkali kita menanggapi tangisan anak dengan berkata “Jangan menangis! Jangan cengeng!” dengan harapan anak akan berhenti. Namun, bukannya berhenti justru anak akan semakin kencang menangis. Mereka merasa kita tidak berusaha memahami perasaannya. Hal ini dapat berpengaruh buruk pada perkembangan kemampuan regulasi emosi anak loh ladies.

Apa yang harus diucapkan untuk menenangkan si kecil saat menangis?

 

Pertama, berikan ruang untuk anak menuangkan emosinya

sumber: unsplash.com/Arwan Sutanto

Nggak apa-apa kalau kamu mau nangis dulu.”

Jika si kecil belum bisa menceritakan apa yang terjadi, berikanlah waktu agar ia meluapkan emosinya terlebih dahulu. Dekatilah anak saat menangis, tataplah matanya dengan penuh kehangatan dan biarkan ia menyelesaikan tangisannya. Lalu, coba bacalah kembali perasan hatinya.

 

Kedua, Jadilah pelindung bagi anak

sumber: unspalsh.com/Jordan Whitt

Sayang, Bunda ada di sini terus kok!

Membuat si kecil merasa aman dengan mengatakan kita akan selalu berada di sampingnya dapat membantunya merasakan bahwa ia tidak sendiri. Anak pun merasa aman dan dapat meredakan emosinya dengan baik. Ucapan ini juga dapat meningkatkan rasa kepercayaan si kecil kepada kita.

 

Baca Juga: Cara Menolak Keinginan Anak dengan Halus

 

Ketiga, ajaklah ia untuk menceritakan apa yang terjadi

sumber: pexels

“Kenapa, sayang? Coba cerita dulu sama Bunda

Bunda siap mendengarkan ceritamu, sayang

Berusahalah memahami perasaan hati si kecil dan juga situasi yang terjadi. Di saat emosi anak telah mereda berikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan alasan mengapa ia menangis. Cobalah untuk mengerti apa yang ia rasakan. Sampaikanlah bahwa kita dengan senang hati mendengarkan segala keluh kesah, perasan bahagia, dan semua pengalaman yang dilalui oleh anak kita.

 

Keempat, ajaklah anak untuk menyelesaikan masalah bersama

sumber: pexels

 “Ada yang bisa Bunda bantu sayang?”

Setelah anak merasa lebih tenang, tawarkanlah untuk mencari solusi masalah bersama-sama. Tapi, bukan berarti menyelesaikannya demi si kecil. Kita dapat berperan sebagai penasehat atau memberikan saran-saran yang dapat dilakukan si kecil untuk menghadapi masalahnya. Sehingga anak belajar mandiri dalam menyelesaikan masalahnya.

Saat menenangkan si kecil menangis adalah pastikan kita sudah menenangkan hati kita sebelum membantu si kecil meredakan tangisannya. Jika kita sudah siap, tataplah mata anak, berikan senyuman dan pelukan hangat, lantas berbicaralah dengan nada suara lembut. Anak pun akan merasa tenang dana man sehingga ia dapat mengontrol kembali tangisannya.

 

 

Oleh: Sahabat Pena Newfemme, Munasiroh