Logo NewFemme
Serba-serbi HIV: Penyakit Menular yang Belum Ada Obatnya

Serba-serbi HIV: Penyakit Menular yang Belum Ada Obatnya

Kesehatan 91

Ladies, sudahkah kamu mengenal HIV dan AIDS? Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel darah putih, sehingga tingkat kekebalan tubuh manusia dapat menurun. Sedangkan, Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh akibat infeksi HIV, atau kondisi di mana HIV sudah pada tahap infeksi akhir. Ketika seseorang sudah mengalami AIDS, maka tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan.

Dewasa ini, kasus HIV/AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kementerian Kesehatan mengatakan jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia mencapai 543.100 jiwa pada tahun 2020. Kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi yaitu orang yang melakukan hubungan intim tanpa kondom, baik hubungan sesama jenis maupun heteroseksual, orang yang sering membuat tato atau melakukan tindik, orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain, dan pengguna narkotika suntik.

Bagaimana Cara Penularan HIV?

Penularan HIV dapat terjadi melalui pertukaran berbagai cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, seperti darah, ASI ibu, semen dan cairan vagina. HIV juga dapat ditularkan dari seorang ibu ke anaknya selama kehamilan dan persalinan. Orang tidak dapat terinfeksi melalui kontak sehari-hari seperti mencium, berpelukan, berjabat tangan, atau berbagi benda pribadi, makanan, dan air (WHO, 2019).

Apa Saja Gejala HIV?

Gejala dari HIV dan AIDS terdiri dari 3 tahap, yaitu:

  1. Pada tahap pertama pengidap akan mengalami gejala yang cukup ringan dan tidak spesifik berupa demam, gejala seperti flu dan ruam-ruam.Kemudian, keluhan akan berkurang dan bertahan tanpa gejala yang mengganggu.
  2. Selanjutnya pada tahap kedua umumnya tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun. Namun, virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh dan hal ini dapat berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.
  3. Pada tahap ketiga, daya tahan pengidap rentan, sehingga mudah sakit, dan akan berlanjut menjadi AIDS.

Bagaimana Cara Mendeteksi HIV?

Untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi HIV, dokter akan melakukan tes HIV. Skrining dilakukan dengan mengambil sampel darah atau urine pasien untuk diteliti di laboratorium. Tes HIV sebaiknya dilakukan oleh setiap individu, terutama yang berusia antara 13–64 tahun. Dokter juga menganjurkan tes HIV dilakukan lebih rutin setiap 3 atau 6 bulan sekali pada orang yang berisiko tinggi terpapar virus HIV, seperti pasangan penderita HIV, homoseksual yang aktif secara seksual, dan pekerja seks komersial.

Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, tetapi ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus, mengurangi risiko penularan, dan mengurangi risiko kematian akibat komplikasi penyakit AIDS. Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV). Tetapi ingat, jangan jauhi penderita HIV ya, Ladies! Jauhi penyakitnya, bukan orangnya ?

 

Referensi :

World Health Organization, HIV/AIDS. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids

Medscape, HIV Infection and AIDS. https://www.medscape.com/hiv

Kementerian Kesehatan RI (2020). InfoDATIN. HIV dan AIDS 2020. https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-2020-HIV.pdf

Centers for Disease Control and Prevention (2020). HIV Basics. About HIV. https://www.cdc.gov/hiv/basics/whatishiv.html