Logo NewFemme
Bagaimana Cara Mendeteksi Kanker Kolorektal?

Bagaimana Cara Mendeteksi Kanker Kolorektal?

Kesehatan 81

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas sedikit mengenai kanker kolorektal. Kanker kolorektal terjadi akibat adanya pertumbuhan sel yang tidak ganas atau adenoma, dimana sebenarnya sel tersebut masih berbentuk polip dan dapat diangkat, namun jika tidak ditangani dan terus dibiarkan dalam waktu yang lama dapat berpotensi menjadi suatu keganasan atau kanker. Jika sudah menjadi kanker, maka dapat muncul berbagai gejala seperti adanya darah ketika buang air besar, diare, sembelit tanpa penyebab yang jelas dengan berlangsung lebih dari enam minggu. Oleh karena itu, kita perlu tau gejala dari kanker kolorektal ini.

Lebih lanjut, kanker kolorektal ini merupakan tiga besar penyakit kanker yang paling banyak diderita oleh masyarakat di Indonesia. Banyak orang yang belum mengetahui, bahwa kanker kolorektal ini sebenarnya dapat dicegah, salah satu cara yang terbaik dengan deteksi dini kanker kolorektal. Semakin dini ditemukannya kanker kolorektal, semakin besar kemungkinan untuk sembuh. Jika kanker kolorektal dideteksi saat masih stadium awal, maka harapan hidup lima tahun dapat mencapai 92%, berbeda jika ditemukan pada stadium IV atau lanjut, dimana harapan hidup pasien lima tahun hanya 12%. Maka, selain gejala kanker kolorektal, kita juga harus memahami cara-cara yang dapat mendeteksi terjadinya kanker kolorektal.

Yuk, kita bahas satu persatu!

Sebelum dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi, maka harus mengetahui dulu apakah ada gejala kanker kolorektal. Berikut adalah beberapa tanda terjadinya kanker kolorektal, yaitu:

  1. Buang air besar berdarah
  2. Diare atau sembelit yang bergantian
  3. Sakit perut yang terus berulang
  4. Berat badan menurun
  5. Terlihat pucat tanpa sebab yang jelas
  6. Jika diraba maka akan terasa benjolan di perut

Nah, jika terdapat gejala yang dicuriga adanya kanker kolorektal, dapat dilakukan pemeriksaan berupa kolonoskopi yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat adanya gangguan atau kelainan pada kolon dan rektum, atau dapat pula melakukan rontgen atau CT scan untuk mengecek langsung struktur dari usus dan rektum, dimana disarankan dilakukan tiap 5-10 tahun sekali.

Adapula deteksi dini yang dapat dilakukan minimal setahun dan lebih mudah dilakukan sekali adalah:

  1. Colok dubur yang dilakukan dengan cara memasukkan jari ke dalam anus secara perlahan untuk evaluasi langsung kondisi rektum dan organ di sekitarnya
  2. Pemeriksaan kadar CEA sebagai petanda tumor dalam darah dan pemeriksaan DNA feses
  3. Tes darah samar (melihat kandungan pada darah) pada feses menggunakan tes feses FIT dan FOBT
  4. Penapis tumor PK-M2 untuk mendeteksi adanya polip, tumor atau kanker pada usus besar (jika tidak ada tumor maka tidak terdapat PK-M2).

Deteksi dini kanker kolorektal dapat mencegah terjadinya kanker usus besar karena polip, selain itu pertumbuhan pra kanker juga dapat ditemukan sehingga dapat diangkat sebelum terlambat dan menjadi kanker.

Pada awalnya, mungkin deteksi dini kanker kolorektal terasa risih dan kurang nyaman dilakukan. Namun, ada baiknya kita tetap melakukannya secara rutin, terutama jika terdapat gejala terkait kanker kolorektal yang kita rasakan. Lagipula, mencegah lebih baik daripada mengobati bukan, Ladies?

 

Sumber:

Info Sehat FKUI. (2022). Deteksi Dini Kanker Usus Besar, Harapan Hidup Pasien Meningkat. Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia

P2PTM Kemenkes RI. (2020). Bagaimana cara mendeteksi dini Kanker Kolorektal?. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular.

P2PTM Kemenkes RI. (2016). Kenali dan Cegah Kanker Kolorektal. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular.