Logo NewFemme
Berkenalan Dengan Tipe dan Faktor Resiko Diabetes

Berkenalan Dengan Tipe dan Faktor Resiko Diabetes

Kesehatan 102

Diabetes merupakan salah satu penyakit tidak menular yang paling sering ditemui saat ini. Pada tahun 2019, Organisasi International Diabetes Federation memperkirakan bahwa 463 juta orang berusia 20-79 tahun di seluruh dunia menderita diabetes. Angka ini diprediksi masih akan terus meningkat hingga mencapai 578 juta di tahun 2030. Hal ini karena diabetes berhubungan erat dengan gaya hidup sedenter (jarang bergerak) dan pola makan tinggi gula dan lemak, dimana menjadi suatu hal yang biasa pada masyarakat masa kini. Yuk, kenali Diabetes lebih lanjut!

Apa itu Diabetes?

Diabetes merupakan penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal.

Apa Saja Tipe-Tipe Diabetes?

Penyebab kenaikan kadar gula darah menjadi landasan pengelompokkan jenis Diabetes Melitus berikut:

  1. Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes melitus tipe ini disebabkan oleh kenaikan kadar gula darah karena kerusakan sel beta pankreas sehingga produksi insulin tidak ada sama sekali. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh pankreas untuk mencerna gula dalam darah. Penderita diabetes tipe ini membutuhkan asupan insulin dari luar tubuhnya untuk memproses glukosa karena tidak adanya produksi insulin tadi.

Bagaimana mekanismenya?

Karbohidrat dari makanan yang kita konsumsi akan diubah oleh enzim amilase menjadi glukosa di dalam tubuh kita. Glukosa kemudian masuk ke dalam aliran darah. Namun, karena pankreas menghasilkan sedikit atau bahkan tidak sama sekali insulin, hanya sedikit pula insulin yang masuk ke dalam aliran darah. Akibatnya, gula atau glukosa akan menumpuk di dalam darah karena tidak bisa diolah menjadi energi akibat kekurangan insulin tadi.

  1. Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes melitus tipe 2 disebabkan oleh kenaikan gula darah karena penurunan sekresi insulin yang rendah oleh kelenjar pankreas.

Bagaimana mekanismenya?

Pada diabetes melitus tipe 2, obesitas, faktor hereditas dan faktor lainnya akan menyebabkan resistensi insulin. Akibatnya, otot tidak mampu menggunakan glukosa. Sekresi insulin yang dikeluarkan oleh pankreas ke peredaran darah juga menurun, sehingga memperparah keadaan resistensi insulin pada otot.

  1. Diabetes Melitus Tipe Gestasional

Diabetes melitus tipe gestasional ditandai dengan kenaikan gula darah pada masa kehamilan. Gangguan ini biasanya terjadi pada minggu ke 24 kehamilan dan kadar gula darah akan kembali normal setelah persalinan.

Apa Faktor Resiko Diabetes Melitus?

Seperti penyakit tidak menular lainnya diabetes mellitus juga memiliki faktor risiko atau faktor pencetus yang berkontribusi terhadap kejadian penyakit. Upaya pengendalian faktor risiko dapat mencegah diabetes melitus dan menurunkan tingkat fatalitas atau keparahan penyakit. Faktor resiko diabetes terdiri dari faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi.

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah ras, etnik, umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan diabetes melitus, riwayat melahirkan bayi >4000 gram, riwayat lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR atau <2500 gram). Sementara itu, faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu berat badan lebih, obesitas abdominal/sentral, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia, diet yang tidak sehat dan tidak seimbang atau diet tinggi kalori, kondisi pradiabetes, dan kebiasaan merokok. Berikut penjelasannya:

  1. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi diabetes melitus lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki dengan perbandingan 1, 78% dibandingkan dengan 1,21%. Jika dibandingkan dengan data tahun 2013, prevalensi pada perempuan menunjukkan peningkatan sedangkan prevalensi pada laki-laki menunjukkan penurunan.
  2. Prevalensi diabetes melitus menunjukkan peningkatan seiring dengan bertambahnya usia penderita. Pola ini mencapai puncaknya pada umur 55-64 tahun dan menurun setelah melewati rentang umur tersebut. Pola peningkatan ini terjadi baik pada Riskesdas 2013 maupun 2018. Peningkatan prevalensi dari tahun 2013 ke 2018 terjadi pada kelompok umur 45 sampai dengan >75 tahun.
  3. Responden dengan tingkat pendidikan tamat akademi/universitas memiliki proporsi tertinggi diabetes melitus pada Riskesdas tahun 2013 dan 2018. Hal ini diasumsikan terkait dengan gaya hidup dan akses terhadap deteksi kasus di pelayanan kesehatan.
  4. Penderita diabetes melitus yang tinggal di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan yang tinggal di pedesaan. Hal ini dapat diasumsikan adanya akses yang lebih baik terhadap deteksi kasus di pelayanan kesehatan pada wilayah perkotaan, sehingga deteksi diabetes melitus lebih mudah dilakukan.

Berikut sedikit pengenalan mengenai diabetes melitus yang perlu kamu ketahui, Ladies. Jika kamu memiliki faktor-faktor resiko diabetes mellitus, ada baiknya kamu menjaga pola makan dan olahraga sejak dini. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Yuk, terus ikuti informasi-informasi kesehatan di Newfemme!

 

Sumber:

Pusat Data dan Informasi. (2020). InfoDATIN: Tetap Produktif, Cegah, dan Atasi Dibetes Melitus. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI