Logo NewFemme
Penyebab, Faktor Resiko, dan Gejala Hipertensi

Penyebab, Faktor Resiko, dan Gejala Hipertensi

Kesehatan 126

Ladies, tahukah kamu apa saja penyebab, gejala, faktor resiko hipertensi? Yuk, simak artikel ini untuk mendapatkan informasi lebih lengkap!

Penyebab Hipertensi

Berdasarkan penyebab, hipertensi terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Hipertensi esensial atau primer yang tidak diketahui penyebabnya.
  2. Hipertensi sekunder yang penyebabnya dapat ditentukan melalui tanda-tanda di antaranya kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), dan penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme).

Gejala Hipertensi

Tidak semua penderita hipertensi merasakan keluhan maupun tanda-tanda penyakit tersebut, namun beberapa hal yang sering menjadi gejala hipertensi diantaranya:

  1. Sakit kepala
  2. Gelisah
  3. Jantung berdebar-debar
  4. Pusing
  5. Pengelihatan kabur
  6. Rasa sakit di dada
  7. Mudah lelah

Ketika hipertensi berkembang dan terjadi komplikasi, terdapat beberapa gejala yang ditunjukkan, yaitu:

  1. Gangguan penglihatan
  2. Gangguan syaraf
  3. Gangguan jantung
  4. Gangguan ginjal

Dapat pula terjadi gangguan serebral (otak) yang dapat mengakibatkan terjadinya  kejang, perdarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran, hingga koma.

Faktor Resiko Hipertensi

Berdasarkan analisis lanjut terhadap hasil RIset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 oleh Ekowati Rahajeng dan Sulistyo Tuminah, hipertensi berhubungan dengan faktor-faktor risiko seperti:

  1. Umur

Semakin tinggi umur seseorang, semakin besar pula resiko orang tersebut untuk mengidap hipertensi. Pola ini juga terlihat pada dua Riskesdas terakhir di tahun 2013 dan 2018.

  1. Jenis kelamin

Berbeda dengan hasil WHO, Riskesdas tahun 2013 dan 2018 memtegas bahwa perempuan memiliki proporsi hipertensi lebih besar dibandingkan laki-laki.

  1. Tingkat pendidikan

Proporsi hipertensi menurut tingkat pendidikan menunjukkan kecenderungan penurunan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Pada Riskesdas 2013 dan 2018, proporsi hipertensi pada kelompok penduduk tidak/belum pernah sekolah sebesar 42% dan 51,6%, sedangkan pada kelompok yang tamat pendidikan tinggi sebesar 22,1% dan 28,3%.

  1. Pekerjaan

Kelompok penduduk tidak bekerja memiliki proporsi hipertensi tertinggi diantara kelompok lainnya baik pada Riskesdas 2013 maupun Riskesdas 2018.

  1. Tempat tinggal

Proporsi penderita hipertensi pada penduduk di wilayah perkotaan lebih besar dibandingkan di wilayah perdesaan. Pada tahun 2013 proprosi di kedua wilayah tersebut sebesar 26,1% dan 25,5% dimana kemudian meningkat menjadi 34,4% dan 33,7% di tahun 2018. Pola ini dapat diasumsikan terjadi karena faktor risiko perilaku yang berpotensi menyebabkan hipertensi lebih banyak ditemukan di wilayah perkotaan dibandingkan di wilayah perdesaan.

  1. Gaya hidup dan perilaku

Gaya hidup sedentary yang hanya sedikit mengeluarkan energi, konsumsi makanan instan dengan kandungan bahan kimia, perilaku merokok, konsumsi alkohol, dan rendahnya konsumsi buah dan sayur merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi.

Perilaku kurang konsumsi buah dan sayur memiliki persentase yang sangat tinggi di antara perilaku sedentary lainnya, yaitu 93,5% pada tahun 2013 dan 95,4% pada tahun 2018.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Indonesia sangat kurang mengkonsumsi buah dan sayur. Dibandingkan sayur, produk makanan kemasan dan cepat saji cenderung lebih disukai oleh masyarakat karena kenikmatan rasa dan kemudahan cara memperoleh yang ditawarkan.

              Bagaimana Ladies, apakah ada faktor resiko hipertensi pada kehidupanmu? Atau justru kamu sudah merasakan tanda-tanda hipertensi? Jangan lupa cek tekanan darahmu secara berkala ya, untuk tahu keadaan tekanan darahmu! Jangan lupa juga baca artikel lain dari Newfemme  untuk meningkatkan pengetahuanmu.

 

Sumber:

Kementerian Kesehatan RI. (2009). Hipertensi: Prevalensi dan Determinannya di Indonesia. Jakarta: Ekowati Rahajeng dan Sulistyo Tuminah.

Kementerian Kesehatan RI. (2008). Laporan Riskesdas 2007. Jakarta: Badan Litbangkes, Kemenkes.

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Hipertensi. Jakarta: Ditjen Pengendalian Penyakit, Kemenkes

Kementerian Kesehatan RI. (2014). Laporan Riskesdas 2013. Jakarta: Badan Litbangkes, Kemenkes

Kementerian Kesehatan RI. (2019). Laporan Riskesdas 2018. Jakarta: Badan Litbangkes, Kemenkes

Pusat Data dan Informasi. (2019). InfoDATIN. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI