Logo NewFemme
Mengenal Stunting: Mengapa Penting?

Mengenal Stunting: Mengapa Penting?

Kesehatan 117

Stunting kini menjadi agenda yang cukup sering dibahas oleh Kementerian Kesehatan RI. Namun, sudahkah kamu mengetahui apa itu stunting, dan mengapa masalah stunting ini menjadi sering dibahas? Yuk, simak artikel berikut untuk mengenal stunting lebih dalam!

Apa itu Stunting?

Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Standar deviasi adalah jarak antara nilai panjang atau tinggi anak dengan rata-rata panjang atau tinggi anak dengan umur yang sama menurut grafik pertumbuhan World Health Organization (WHO).

Apa Saja Faktor Penyebab Stunting?

Stunting merupakan investasi permasalahan gizi kronis dari makanan yang tidak berkualitas, penyakit infeksi, dan lingkungan. Berdasarkan kerangka penyebab masalah gizi “The Conceptual Framework of the Determinants of Child Undernutrition” dan “The Underlying Drivers of Malnutrition”, penyebab stunting dibagi menjadi penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung mencakup masalah kurangnya asupan gizi dan penyakit infeksi.

Sementara, penyebab tidak langsung mencakup ketahanan pangan (akses pangan bergizi), lingkungan sosial (pemberian makanan bayi dan anak, kebersihan, pendidikan, dan tempat kerja), lingkungan kesehatan (akses pelayanan preventif dan kuratif), dan lingkungan pemukiman (akses air bersih, air minum, dan sarana sanitasi). Keempat faktor tidak langsung tersebut mempengaruhi asupan gizi dan status kesehatan ibu dan anak.

Bagaimana Keadaan Stunting di Indonesia?

Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, angka stunting secara nasional mengalami penurunan dari 37,2% di tahun 2013 menjadi 24,4% pada tahun 2021. Meskipun begitu, angka tersebut masih jauh dari target prevalensi stunting balita tahun 2024 sebesar 19.4%. Target penurunan prevalensi stunting di Indonesia diselaraskan dengan target global, yaitu target World Health Assembly (WHA) untuk menurunkan prevalensi stunting sebanyak 40% pada tahun 2025 dari kondisi tahun 2013.

Mengapa Stunting Harus Diatasi?

Stunting harus ditanggulangi karena dapat menyebabkan tingkat kecerdasan tidak maksimal, perubahan metabolik, hingga depresi sistem imun yang membuat anak lebih rentan terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis. Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK di samping berisiko menghambat pertumbuhan fisik dan kerentanan anak terhadap penyakit, juga menghambat perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan. Stunting dan masalah gizi lain diperkirakan menurunkan produk domestik bruto (PDB) sekitar 3% per tahun.

Bagaimana Usaha Pemerintah dalam Mengatasi Stunting?

Pencegahan stunting memerlukan intervensi gizi yang mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik dilakukan untuk menanggulangi faktor penyebab langsung, sedangkan intervensi gizi sensitif untuk penyebab tidak langsung. Penyelenggaraan intervensi yang berfokus untuk menyasar kelompok prioritas di lokasi prioritas merupakan kunci keberhasilan perbaikan gizi, tumbuh kembang anak, dan pencegahan stunting. Untuk memastikan berjalannya intervensi tersebut, diperlukan komitmen dari pimpinan nasional tertinggi.

Oleh karena itu, pemerintah telah memiliki dasar hukum untuk melakukan perbaikan status gizi dalam rangka percepatan pencegahan stunting yang tercermin dalam berbagai peraturan perundangundangan dan kebijakan serta keterlibatan dalam gerakan global. Selanjutnya, komitmen pemerintah terhadap stunting dimulai dari Rapat Tingkat Menteri pada tanggal 12 Juli 2017. Dalam rapat tersebut, diputuskan bahwa pencegahan stunting penting dilakukan dengan pendekatan multi-sektor melalui sinkronisasi program- program nasional, lokal, dan masyarakat di tingkat pusat maupun daerah.

              Bagaimana Ladies, apakah kamu sudah mendapatkan lebih banyak informasi mengenai stunting? Untuk mengetahui seberapa besar masalah ini, kamu bisa cek juga berapa banyak balita di sekitarmu yang mengalami stunting. Selain itu, kamu juga bisa berkontribusi untuk meningkatkan awareness mengenai stunting, salah satunya dengan membagikan artikel ini ke orang-orang terdekat. Jangan lupa terus baca artikel gizi dan kesehatan dari Newfemme, ya!

 

Sumber:

International Food Policy Research Institute. (2016). From Promise to Impact Ending malnutrition by 2030. IFPRI: Washington DC.

Kementerian Kesehatan RI. Buku Saku SSGBI 2021. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2021.

Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1995/Menkes/XII/2010.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2019.

TNP2K. 100 Kabupaten/Kota Perioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Jakarta: Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, 2017.

UNICEF. (2013). Improving Child Nutrition, The Achievable Imperative for Global Progress. UNICEF: New York.

World Bank. (2014). Better Growth Through Improved Sanitation and Hygiene Practices. WB: Indonesia.