Logo NewFemme
Benarkah Alpukat Merupakan Makanan yang Baik untuk Diet?

Benarkah Alpukat Merupakan Makanan yang Baik untuk Diet?

Kesehatan 99

Alpukat merupakan buah yang memiliki beragam manfaat untuk kesehatan. Baru-baru ini, alpukat menjadi buah bibir karena dianggap baik untuk dikonsumsi saat diet. Popularitas penggunaan alpukat sebagai makanan diet sangat meningkat, bahkan sudah ada diet khusus dimana alpukat menjadi makanan utama yang dikonsumsi saat diet. Namun, apakah benar konsumsi alpukat dapat menurunkan berat badan? Bukankah alpukat merupakan buah yang tinggi akan kandungan lemak? Yuk, simak faktanya!

  1. Alpukat Merupakan Sumber Lemak Sehat

Alpukat merupakan buah yang digolongkan pada kelompok bahan pangan sumber lemak. Menurut Data Konsumsi Pangan Indonesia (TKPI), alpukat mengandung 6.5 gram lemak pada setiap 100 gram daging buah yang dikonsumsi. Jika dikonversikan, kalori yang kita dapatkan dari lemak pada alpukat sekitar 58.5 kkal. Padahal, 100 gram alpukat mengandung 84.3 kkal. Artinya, sekitar 70% kalori yang kita dapatkan ketika mengkonsumsi alpukat kita dapatkan dari lemak.

Namun, lemak yang terkandung dalam alpukat merupakan lemak tidak jenuh rantai tunggal. Jenis lemak ini merupakan lemak yang dianggap baik untuk tubuh. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Wang, dkk dan telah dipublikasikan melalui Journal of the American Heart Association pada tahun 2015, diketahui bahwa orang yang mengkonsumsi alpukat dalam diet memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok diet rendah lemak maupun diet lemak sedang yang tidak mengkonsumsi alpukat.

  1. Alpukat Mampu Mempertahankan Rasa Kenyang

Keunggulan alpukat dalam diet adalah alpukat mampu memberikan rasa kenyang dalam waktu lama. Hal ini menyebabkan kita tidak akan dengan mudah tergoda untuk nyemil atau mengkonsumsi makanan lain. Rasa kenyang ini disebabkan karena alpukat memiliki kandungan serat tinggi. Makanan yang mengandung serat memiliki efek mengenyangkan karena kepadatan dan kemampuan cecapnya rendah. Artinya, tubuh kita memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna serat, karena serat dapat memperlambat pelepasan makanan dari lambung. Akibatnya, tubuh akan membatasi asupan lain untuk masuk dengan menahan pengeluaran sinyal lapar.

  1. Alpukat Mampu Memperbaiki Komposisi Lemak Tubuh Wanita

Pada sebuah studi yang dilakukan pada Fulgoni, dkk yang telah diterbitkan di Jurnal of Nutrition pada tahun 2012, diketahui bahwa wanita yang mengkonsumasi satu buah alpukat setiap hari mengalami penurunan lemak dalam rongga perut. Penurunan lemak perut dapat berpengaruh pada penurunan resiko diabetes, sindrom metabolik, jantung, hingga stroke. Menurut Kementerian Kesehatan RI, batas aman lingkar perut pada wanita memang memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Untuk wanita, batas amannya adalah 80 cm, sedangkan pada laki-laki, batas amannya ada di angka 90 cm. Lingkar perut dapat kita ukur secara mandiri menggunakan pita pengukur.

  1. Hati-hati: Alpukat Merupakan Makanan Padat Kalori

Dibalik keunggulan alpukat yang telah dipaparkan, perlu diketahui bahwa alpukat merupakan makanan padat kalori. Pada umumnya, makanan tinggi lemak memang memiliki kalori yang juga tinggi, karena 1 gram lemak sama dengan 9 kkal, sedangkan 1 gram protein atau karbohidrat setara dengan 4 kkal. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak mengkonsumsi alpukat secara berlebihan. Apabila kita mengkonsumsi makanan padat kalori dalam jumlah besar, kemungkinan terjadinya kelebihan kalori juga akan semakin besar. Tetapi, makanan apapun yang berlebihan tidak baik, bukan?

Jadi, jika Anda merupakan pecinta alpukat, anda bisa memasukkan buah tersebut ke dalam diet sehari-hari Anda dalam porsi kecil. Mau tau makanan apa lagi yang bermanfaat untuk dietmu? Yuk, baca artikel gizi dan kesehatan lain dari Newfemme!

 

Sumber:

Després J. P. (2007). Cardiovascular disease under the influence of excess visceral fat. Critical pathways in cardiology, 6(2), 51–59.

Fulgoni, V. L., Dreher, M. & Davenport, A. J. (2013). Avocado consumption is associated with better diet quality and nutrient intake, and lower metabolic syndrome risk in US adults: results from the National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 2001–2008. Journal of Nutrition, 12(1).

Jung, S. H., Ha, K. H., & Kim, D. J. (2016). Visceral Fat Mass Has Stronger Associations with Diabetes and Prediabetes than Other Anthropometric Obesity Indicators among Korean Adults. Yonsei medical journal, 57(3), 674–680.

Kementerian Kesehatan RI. (2017). Data Konsumsi Pangan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Pereira M. A., Ludwig D. S. (2001). Dietary Fiber and Body-Weight Regulation. Pediatric Clinics of North America, 969-980.

Wang, L., Bordi, P. L., Fleming, J. A., Hill, A. M., & Kris-Etherton, P. M. (2015). Effect of a moderate fat diet with and without avocados on lipoprotein particle number, size and subclasses in overweight and obese adults: a randomized, controlled trial. Journal of the American Heart Association, 4(1).