Logo NewFemme
Thrift Shopping dan Kelestarian Lingkungan

Thrift Shopping dan Kelestarian Lingkungan

Fesyen 100

Hobi belanja memang menyenangkan. Untuk sebagian orang, esensi dari melihat deretan serta tumpukan pakaian, memilih-milih merek, desain, warna dan model serta membayangkan mix and match outfit menjadi keasyikan tersendiri. Makanya, tidak aneh kalau ada orang yang bilang hobinya adalah belanja.

Kegiatan belanja bukan berarti harus mengeluarkan banyak uang dan membeli barang mahal. Kalau katanya belanja itu butuh seni, hal tersebut memang benar. Apalagi kalau kamu belanja thrifting yang belakangan lagi tren. Thrifting merupakan kegiatan membeli atau berbelanja produk bekas dengan kualitas yang masih bagus. Seni dalam berbelanja benar-benar diuji di sini. Lebih menantang kalau kamu datang langsung ke tempat yang menjual barang-barang bekas. Bukan hanya barang rumahan, ternyata thirfting pakaian bekas juga tidak kalah asik.

Bagi orang yang pernah mencoba belanja thrifting pakaian sebagian akan mengatakan kalau mereka menemukan harta karun. Harta di sini bisa berwujud baju mahal yang dijual tidak sampai separuh harga aslinya, merek terkenal yang sudah tidak produksi lagi, desain musiman yang sulit untuk dibeli atau hal-hal menarik lainnya. Tapi tentu saja belanja baju menggunakan teknik thrifting ini butuh kesabaran dan ketelitian. Sebelum kamu memutuskan untuk membelinya, pastikan kamu telah mengecek keseluruhan kondisi pakaian. Dari mulai bahan, warna, jahitan dan lain-lain. Pastikan kamu tidak menyesal saat sudah sampai rumah karena terlewat satu kecacatan. Keseruan thrifting baju akhirnya terdengar oleh banyak pihak yang mungkin belum pernah mendengar ini sebelumnya.

Tidak menyangkal, belakangan yang ramai melakukan thrifting adalah generasi muda yang biasa netizen sebut generasi Z. Mereka yang sudah melek akan teknologi dan banyak membaca berita dan awas pada kelestarian lingkungan, merasa bahwa thrifting adalah solusi yang bagus terhadap kegemaran mereka ini.

Menurut mereka, thrifting adalah salah satu solusi bagi masalah limbah pakaian. Namun nyatanya lapangan tak berkata demikian. Dilansir dari Fashion Revolution, siklus thrifting justru dimulai dari tempat daur ulang pakaian yang nantinya akan dijual ke supplier, supplier dalam hal ini berarti penjual pakaian bekas. Kemudian pihak penjual akan mensortir ulang pakaian yang sekiranya masih bisa dijual kembali dan mana yang tidak. Pakaian yang tidak terpilih untuk dijual di thrift shop tersebut tetap akan berakhir ke dalam pembuangan dan tentunya tetap meninggalkan jejak karbon. Khususnya terkait dengan transportasi dalam proses memilahnya. Walau jika dibandingkan dengan fast fashion, thrift fashion akan jauh lebih ramah lingkungan karena tidak lagi memerlukan bahan baku produksi. Jika kamu termasuk orang yang beralih pada fashion thrifting atau membeli pakaian bekas, kamu juga harus memperhatikan bahan dan perawatannya agar jangka waktu pemakaian baju tersebut bisa bertahan lama sehingga tidak melakukan pembelian baju baru dalam waktu dekat.