Logo NewFemme
Fakta Di Balik Gaun Indah Ala Victoria Di Abad Ke-19

Fakta Di Balik Gaun Indah Ala Victoria Di Abad Ke-19

Fesyen 129

Tidak hanya sekarang, dari zaman dulu pun wanita selalu ingin tampil cantik dan berusaha melakukan berbagai upaya yang bisa ia lakukan untuk tampil mempesona. Hal tersebut tidak berbeda dengan wanita di era Victoria di abad ke-18. Para wanita di abad itu memakai gaun yang terbilang cukup unik karena susunan dan ukurannya. Gaun tersebut bisa populer karena dipercaya dapat menambah penampilan wanita semakin cantik dan elegant.

Gaun yang memperlihatkan pinggang ramping dan bawahan yang megar ini didasari oleh stereotip bahwa wanita cantik adalah wanita yang memiliki pinggang ramping. Oleh karena itu, gaun yang mengharuskan pemakainya menggunakan korset yang sangat ketat dan lapisan untuk membuat bawah gaun terlihat mekar menjadi populer terutama di kalangan para elit seperti bangsawan atau orang kaya. Biasanya gaun ini dipakai pada acara dan pertemuan penting, jamuan makan malam atau pesta dansa.

 

Tapi ternyata di balik cantik dan megahnya, gaun ini memiliki fakta yang cukup mengerikan loh! Karena stereotip pinggang kecil pada saat itu mewabah dan diyakini sebagai salah satu simbol kecantikan, maka para wanita yang memakai gaun ini berlomba-lomba untuk memakai korset atau pengikat pinggang seketat mungkin. Guna menampilkan kecantikan yang hakiki, mereka mengabaikan rasa nyaman dan menahan rasa sakit karena efek memakai korset yang terlalu ketat dan kencang.

Kemudian untuk membuat gaun bagian bawah mengembang dengan lebar, mereka memakai lapisan yang bernama crinoline, yaitu lapisan yang terbuat dari baja pegas ringan dan dibuat melingkar mengikuti bagian bawah gaun. Crinoline adalah pengembangan model dari farthingale di abad ke-16 yang lebih berat karena terbuat dari rotan dan linen. Pada awal kemunculannya, crinoline membuat wanita Eropa lega karena lebih ringan, lebih lentur dan lebih nyaman digunakan untuk beraktifitas. Crinoline juga memiliki berbagai lebar dan ukuran. Untuk kegiatan sehari-hari, para wanita biasanya menggunakan crinoline yang lebih kecil.

Walau memiliki kelebihan, nyatanya penggunaan crinoline bukanlah solusi yang bagus. Lebih tepatnya, gaun yang terlalu mekar ini menimbulkan berbagai masalah pada wanita yang memakainya. Mereka tidak bisa memakai gaun tersebut pada musim panas atau hari di mana suhu mencapai lebih dari 30 derajat celcius karena sama saja seperti bunuh diri. Apalagi, lapisan gaun yang bertumpuk pada saat itu tidak hanya lapisan crinoline, tapi juga lapisan gaun dalam lainnya seperti kamisol dan lain-lain. Kebayang gak tuh berat dan panasnya kayak gimana?

Kemudian, gaun yang terlalu lebar ini mempersulit pergerakan wanita yang memakainya hingga menyebabkan beberapa bencana pada dirinya dan terkadang berdampak pada lingkungan sekitarnya. Seperti misalnya saat mereka turun dari kereta kuda, bagian bawah gaun lebar ini akan tersangkut di roda kereta. Pada tahun 1858 di Boston, seorang wanita yang memakai gaun lebar ini berdiri terlalu dekat dengan perapian dan akhirnya api menyambar gaun yang dipakainya. Hanya butuh beberapa menit bagi tubuhnya untuk ikut terbakar habis. Kemudian di tahun 1863, seorang pelayan dapur muda bernama Margaret Davey meninggal pada umur 14 tahun karena gaunnya terbakar api tungku. Ia meninggal karena luka bakar yang dideritanya. Pada abad ke-19 di Inggris, banyak kasus kematian disebabkan oleh crinoline yang terbakar. Orang yang melihat peristiwa-peristiwa tadi tidak segera bertindak untuk menolong karena mereka takut gaun atau pakaiannya ikut terbakar. Lagi pula pergerakan mereka juga terbatas dan sulit untuk melakukan pertolongan tanpa meninggalkan resiko api menyambar. Crinoline yang berlapis dan berat itu juga susah dilepaskan jadi seakan korban hanya bisa menunggu kematian saja saat sudah terbakar.

 

Berkat beberapa kejadian naas tersebut, gaun yang dianggap menunjang kecantikan di zaman itu jadi terkenal berbahaya dan bisa ‘membunuh’. Sejarah mencatat, crinoline telah memicu kematian lebih dari 3.000 wanita pada era tersebut. Ternyata istilah ‘beauty is pain’ sudah berlaku sejak dulu, ya…