Logo NewFemme
Sejarah High Heels

Sejarah High Heels

Fesyen 106

Salah satu cara penunjang penampilan kaki adalah dengan memakai sepatu hak tinggi. Banyak alasan kenapa wanita suka memakai high heels untuk penampilannya. Ada yang ingin membuat seolah kakinya tampil lebih jenjang, ada yang karena pekerjaan, karena modelnya lucu atau cantik, ada juga yang memang dia lebih senang memakai sepatu hak dibanding dengan sepatu datar biasa.

 

Ternyata, berdasarkan catatan sejarah sepatu high heels sudah ada sejak tahun 3500 SM di peradaban Mesir Kuno yang digunakan oleh tukang jagal hewan dengan tujuan agar kaki mereka tidak kotor terkena darah hewan yang bercucuran di tanah. Walau kini target market dari sepatu high heels utamanya adalah perempuan, tapi di abad ke-9 sepatu hak tinggi justru diperuntukkan bagi laki-laki loh! Itu karena prajurit bangsa Persia yang berkuda di abad itu menggunakan hak tinggi agar saat berperang dengan menunggangi kuda, kaki mereka dapat mengunci pijakan sadel kuda dan mendukung untuk bertempur lebih efisien di atas kuda.

Di akhir abad ke-15, pemimpin Persia yang bernama Shah Abbas I mendatangi Eropa untuk menjalin hubungan politik dengan pemimpin di sana sekaligus mencari sekutu untuk melawan Kekaisan Ottoman. Shah Abbas mengenakkan sepatu dengan hak tinggi dan sukses membuat bangsawan Eropa yang melihatnya menjadi terpukau. Menurut mereka, alas kaki dengan hak tinggi yang dipakai Shah Abbas tersebut memunculkan kesan yang kuat, penuh dominasi dan maskulin dari pemakainnya. Kemudian pada abad ke-17 awal, Raja Louis XIV seorang bangsawan Prancis yang mempunyai tinggi hanya sekitar 163 cm sangat terkenal akan kecintaannya terhadap sepatu hak tinggi. Karena kesukaannya tersebut, Raja Louis XIV bahkan mempunyai model high heels tersendiri. Sepatu hak tinggi tersebut memiliki sol yang berwarna merah dan dibuat dari bahan pewarna yang mahal, sehingga membuat tampilan Raja Louis XIV semakin mewah dan disegani oleh banyak orang.

Walau pada beberapa abad tersebut high heels populer di kalangan pria, khususnya bangsawan, ternyata ada juga loh, seorang wanita pertama yang dijuluki wanita pertama pemakai high heels. Beliau adalah Ratu Catherine de Medici, ratu Prancis pada abad ke-15. Karena beliau hanya memiliki tubuh setinggi 150 cm, Ratu Catherine meminta pengrajin sepatu dari Florensia untuk membuatkannya sepatu hak tinggi. Sebenarnya desain sepatu yang ia miliki terinspirasi dari Chopine yang digunakan wanita di Venisia. Namun pada saat itu, sepatu hak tinggi bukan digunakan wanita Venisia untuk menunjang penampilan, melainkan untuk menghindari gaunnya kotor terkena lumpur di jalanan. Karena alasan fungsional tersebutlah, Ratu Catherine dinobatkan sebagai wanita pertama yang menggunakan high heels.

 

Tren sepatu tinggi bagi bangsawan laki-laki ikut pudar seiring dengan terjadinya Renaissance, masa yang dikenal sebagai masa peralihan juga kejayaan sains dan seni di Eropa. Karena masa peralihan ini, orang-orang Eropa tidak lagi berorientasi pada status juga kekayaan dan tidak lagi berlomba-lomba tampil untuk mendominasi. Sehingga kian waktu bertambah, trend sepatu hak tinggi bagi pria juga ditinggalkan. Beberapa dekade setelah sepatu hak tinggi mulai ditinggalkan oleh laki-laki, para wanita mulai mengembangkan trend memakai sepatu hak tinggi yang sebelumnya memang sudah ada tapi tidak populer karena menciptakan kesan maskulin. Karena marak digunakan oleh wanita juga dengan desain yang disesuaikan, sepatu hak tinggi pun berubah citranya dari yang menampilkan maskulinitas menjadi feminin karena memberi ilusi kaki yang tampak jenjang dan melambangkan kecantikan. Pada abad 19, Christian Dior mulai membuat sepatu hak tinggi dengan gaya yang lebih modern dengan menambahkan permata sebagai perhiasannya. Kemudian sepatu hak tinggi semakin berkembang jenis dan modelnya seiring bertambahnya waktu, zaman dan popularitasnya di kalangan wanita hingga kini.