Logo NewFemme
Makeup di Zaman Peradaban Kuno

Makeup di Zaman Peradaban Kuno

Kecantikan 101

Bersolek memang terkait erat hubungannya dengan wanita. Banyak alasan kenapa wanita suka sekali menggunakan riasan pada wajahnya dan selalu ingin tampil cantik. Membicarakan makeup dan wanita tentu seperti menjelaskan dua hal yang berkaitan erat sejak zaman dahulu bahkan era kuno. Makeup yang mudah digunakan sehari-hari dan diproduksi besar-besaran baru ada di sekitar tahun 1800-an. Tapi bukan berarti wanita pada sebelum abad tersebut tidak bersolek dengan riasan wajah seperti yang manusia modern lakukan. Nyatanya, makeup sudah ditemukan sejak 6000 tahun yang lalu. Berbagai sumber menyebutkan terdapat beberapa tempat yang menjadi pemicu awal munculnya konsep kosmetik. Namun yang paling populer adalah Mesir. Pada kepercayaan Mesir Kuno, kosmetik adalah simbol dari kekayaan seseorang dan dipercaya dapat memikat para dewa. Pada tahun 4000 SM, riasan di Mesir Kuno yang khas dan populer saat itu adalah eyeliner dengan tarikan garis yang unik dan terbilang rumit. Selain itu, kosmetik lain seperti perona pipi dan juga pewarna kelopak mata sudah ditemukan. Jika melihat beberapa ilustrasi sejarah Mesir Kuno, sering kali digambarakan baik wanita maupun pria di negara tersebut memiliki riasan maa yang tegas. Itu karena mereka sudah mengenal kohl. Kohl ini adalah kosmetik yang terbuat dari stibnite atau bisa juga dari almond yang dibakar, yang kemudian nantinya digunakan sebagai mascara dan juga eyeliner. Mereka juga membuat bedak dengan berbahan dasar kapur dan tanah liat.

 

Sebelum teknologi berkembang, bahan-bahan untuk membuat makeup sangat beragam dan terbuat dari bahan alami. Pada zaman Yunani Kuno, timah putih dan gandum digunakan untuk menjadi bahan dasar pembuatan bedak. Di Tiongkok, bedak terbuat dari beras. Berbeda dengan peradaban Mesir Kuno yang merias mata dengan dandanan yang mencolok dan khas sebagai lambang dari kecantikan para bangsawan yang kemudian diikuti oleh rakyat. Pada saat itu, peradaban Yunani Kuno dan juga daratan Asia Timur sangat mempercayai kulit putih bersih dan mulus sebagai tolok ukur kecantikan. Untuk menyeimbangkan kulit putih tersebut, peradaban Yunani Kuno menghancurkan buah mulberry untuk dijadikan perona pipi.

Sedangkan untuk pewarna bibir, dikatakan kosmetik tersebut pertama kali digunakan oleh wanita dari Mesopotamia pada zaman Mesir Kuno. Pada saat itu, bahan dasar pembuatan pewarna bibir adalah tanah liat yang berwarna cokelat pasir, biasa disebut orche clay dan red iron untuk memberikan warna merah pada bibir. Namun, penggunaan lipstik pada zaman tersebut dinilai berbahaya karena bahan dasarnya kasar dan beresiko untuk merusak bibir.

Semakin berkembangnya zaman, manusia semakin banyak mengeksplor bahan alami yang dinilai tidak terlalu bahaya untuk mengembangkan pembuatan kosmetik. Misalnya memanfaatkan tumbuhan, minyak zaitun, lilin lebah dan bahan lain yang menghasilkan warna merah untuk digunakan sebagai pewarna bibir. Kemudian pada tahun 1800-an lipstik semakin berkembang menjadi salah satu produk kosmetik yang mudah didapat dan digunakan. Pada tahun 1870, Guerlain, sebuah bisnis keluarga yang memproduksi parfum akhirnya meluncurkan produk lipstik pertama yang dijual secara massal. Pada tahun-tahun berikutnya, tidak hanya lipstik, namun semua produk kosmetik juga ikut berkembang dan mudah didapat.

 

Kini wanita tidak perlu khawatir lagi dalam menemukan kosmetik dan menyalurkan hasrat bersoleknya. Sudah ratusan produk kosmetik yang bisa ditemukan bahkan sekarang sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya disesuaikan dengan ketahanan, tipe kulit, fungsi pemakaian bahkan sampai kemasan pun bisa dengan mudah dicari.