Logo NewFemme
Baca Ini Sebelum Menjalankan Diet Ketogenik

Baca Ini Sebelum Menjalankan Diet Ketogenik

Kesehatan 110

Salah satu diet paling populer yang kerap menuai kontroversi adalah diet ketogenik. Diet ketogenik atau diet rendah karbohidrat pada awalnya digunakan sejak tahun 1920 sebagai terapi untuk pasien epilepsi kemudian berkembang seiring dengan banyaknya penelitian yang menemukan manfaat lain untuk penyakit diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, dan efek terhadap penurunan berat badan.

 

Mengenal Diet Ketogenik

Hingga kini tampaknya diet ketogenik masih menjadi metode diet favorit di kalangan masyarakat. Diet ini dilakukan dengan cara memangkas konsumsi karbohidrat hingga sangat rendah dan disertai dengan asupan protein rendah dan lemak yang tinggi.

 

Rendahnya asupan karbohidrat ini akan membuat tubuh kekurangan glukosa sebagai sumber energi utama dan kemudian masuk ke dalam kondisi ketosis. Dalam kondisi ketosis, terjadi pemecahan lemak sebagai sumber energi alternatif yang menghasilkan senyawa keton.

 

Seseorang biasanya menjalankan diet ketogenik dengan membatasi konsumsi karbohidrat hingga di bawah 50 gram per hari. Adapun beberapa jenis diet ketogenik yang dibedakan berdasarkan asupan proporsi makronutrien, yaitu :

  1. Diet ketogenik standar (SKD).

Diet ini dilakukan dengan proporsi 75% lemak, 20% protein, dan hanya 5% karbohidrat.

  1. Diet Atkins modifikasi

Diet ini dilakukan dengan proporsi karbohidrat 6%, lemak 65%, dan karbohidrat 30%.

  1. Very low carbohydrate ketogenic diet (VLCKD)

Diet ini dilakukan dengan membatasi asupan karbohidrat <30 gram per hari.

 

Efektifitas diet ketogenik

Tidak sedikit masyarakat yang telah membuktikan penurunan berat badannya berkat diet ketogenik. Karenanya hasilnya yang cepat, diet ini juga digandrungi masyarakat.

 

Meskipun begitu, diet ketogenik sesungguhnya bukanlah diet yang baik untuk diterapkan dalam jangka panjang. Melalui beberapa penelitian, para penganut diet ini cenderung mengalami kenaikan berat badan yang melampaui hasil diet awal. Efek ini disebut efek “yo-yo”, dimana naik kembalinya berat badan terjadi lagi setelah sebelumnya berhasil menjalankan diet.

 

Terlebih, memangkas karbohidrat bukanlah hal yang tepat. Pasalnya tubuh membutuhkan asupan karbohidrat sebagai sumber energi utama. Lantas jika tubuh tidak mendapat karbohidrat, maka tubuh tidak dapat menjalankan fungsi fisiologis secara baik.

 

Selain itu, diet ketogenik dapat menimbulkan berbagai efek samping seperti kelaparan, mual, konstipasi, sakit kepala, kelelahan, batu ginjal, hingga defisiensi vitamin dan mineral. Diet ini juga tidak dianjurkan terhadap orang yang menderita penyakit diabetes tipe 1, gangguan empedu, dan gangguan makan.

 

Anjuran diet yang sehat dan aman

Sebelum menjalankan diet ketogenik, ada baiknya untuk mempertimbangkan berbagai efek kesehatan yang dapat terjadi dalam jangka panjang. Diet yang baik adalah diet yang dilakukan secara konsisten. Mulailah dengan membuat target penurunan berat badan yang ideal yaitu 0,5-1 kg per minggu.

 

Jangan lupa untuk mencatat total kalori yang masuk tiap harinya. Menurut World Health Organization, panduan asupan untuk mencegah kenaikan berat badan yang tidak sehat dilakukan dengan mengonsumsi lemak kurang dari 30% dan gula kurang dari 10%.

 

Memasang target yang masuk akal adalah faktor terpenting mencapai keberhasilan diet. Jangan pasang target terlalu tinggi jika Anda masih pemula. Anda akan kesulitan mempertahankan perubahan pola makan jika target penurunan berat badan tidak masuk akal.

 

Berikut adalah beberapa pola makan yang perlu Anda terapkan secara konsisten ketika menjalankan diet:

  1. Jangan lewatkan sarapan
  2. Hindari makanan dan minuman manis
  3. Konsumsi air putih sebelum makan
  4. Perbanyak konsumsi makanan mengandung serat
  5. Hindari makanan olahan dan cepat saji
  6. Makan secara perlahan
  7. Berolahraga secara rutin
  8. Beristirahat yang cukup

 

Diet adalah perjalanan menuju sehat yang memakan waktu lama. Jika tidak konsisten, diet bisa gagal dan manfaatnya tidak bertahan lama. Oleh karenanya, diet perlu disertai dengan perubahan gaya hidup yang sehat. Salam sehat!