Efek Stress Terhadap Tubuh Kita

Efek Stress Terhadap Tubuh Kita

Kesehatan 58

Stres merupakan salah satu bentuk reaksi alami dari fisik dan mental terhadap pengalaman hidup sehari-hari. Semua orang pasti akan mengalami stres dari waktu ke waktu. Stres dapat disebabkan oleh kegiatan harian, seperti pekerjaan dan urusan rumah tangga, hingga situasi yang lebih serius lainnya.

Untuk paparan jangka pendek dan terbatas, stres bahkan dapat bermanfaat untuk kesehatan kita. Tubuh akan merespon stres dengan melepaskan hormon yang dapat meningkatkan laju napas dan detak jantung, sehingga otot akan lebih sigap untuk bereaksi. 

Jika tak kunjung reda, atau bahkan tingkat keparahannya makin meningkat, stres bisa memberi dampaknya yang buruk bagi kesehatan. Stres yang sudah bersifat kronis dapat menyebabkan munculnya berbagai gejala, seperti gampang marah, anxiety, depresi, sakit kepala, dan insomnia.

Pada artikel ini akan dibahas terkait stres dan dampaknya terhadap masing-masing sistem penyusun tubuh manusia.

Sistem Muskuloskeletal

Sistem muskuloskeletal adalah sistem pada tubuh yang terdiri dari otot, jaringan ikat, saraf, serta tulang dan sendi. Sistem ini berperan penting dalam pergerakan tubuh. Otot secara refleks akan mengencang saat kita sedang menghadapi stres sebagai bentuk mekanisme pertahanan terhadap sakit dan cedera. Otot kemudian akan melepaskan ketegangannya setelah stres berlalu. 

Kondisi stres yang bersifat kronis menyebabkan otot-otot tubuh berada dalam mode terjaga selama periode waktu tertentu. Otot yang tegang dalam jangka waktu panjang dapat memicu reaksi lain dari tubuh, bahkan meningkatkan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan stres. Contohnya, sakit kepala kerap dikaitkan dengan adanya ketegangan otot di area bahu, leher, dan kepala. Sakit punggung juga kerap dikaitkan dengan stres, utamanya stres akibat pekerjaan. 

Sistem Pernapasan 

Sistem pernapasan manusia bertugas untuk memastikan ketersediaan pasokan oksigen dan membersihkan limbah karbondioksida dari tubuh. Udara yang masuk dari hidung dan melalui laring di tenggorokan akan dikirim menuju bronkiolus pada paru-paru untuk dipindahkan menuju sel darah merah. Sel darah merah kaya akan oksigen tersebut nantinya akan disalurkan menuju seluruh tubuh oleh jantung.

Stres dan emosi yang kuat dapat memicu munculnya gejala gangguan pernapasan, seperti sesak napas dan napas cepat. Hal ini disebabkan oleh menyempitnya saluran udara sepanjang hidung dan paru-paru.

Meskipun secara umum tidak akan menjadi masalah untuk orang tanpa gangguan pernapasan, akan tetapi stres dapat memperburuk masalah pernapasan pada orang yang sebelumnya telah memiliki penyakit tertentu, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). 

Alveolus, yang ada di bronkiolus, merupakan tempat terjadinya pertukaran udara dengan karbondioksida

Sistem Kardiovaskular

Jantung dan pembuluh darah merupakan dua elemen pembentuk sistem kardiovaskular yang bekerjasama mendistribusikan oksigen dan nutrisi untuk seluruh organ pada tubuh. Aktivitas dari jantung dan pembuluh darah juga dipengaruhi oleh respon tubuh terhadap stres. Hormon stres, termasuk adrenalin dan kortisol, berperan sebagai perantara dari efek stres akut dengan meningkatkan kekuatan kontraksi otot dan laju detak jantung. 

Pembuluh darah yang mengarahkan darah ke otot besar dan jantung akan membesar, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah darah yang dipompa pada organ tersebut dan peningkatan tekanan darah.

Stres kronis, stres yang berulang dan bertahan dalam waktu lama, juga dapat berkontribusi pada masalah jangka panjang pada jantung dan pembuluh darah, seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke. 

Selain dapat meningkatkan kesehatan sistem kardiovaskular, olahraga juga dapat memperbaiki mood seseorang

Namun, terdapat perbedaan risiko penyakit jantung terkait stres pada wanita yang telah memasuki fase menopause. Tingkat hormon estrogen pada wanita yang belum memasuki fase menopause tampaknya dapat membantu pembuluh untuk bereaksi lebih baik terhadap stres.

Sedangkan pada wanita yang telah memasuki fase menopause kehilangan perlindungan ini bersamaan dengan menurunnya kadar hormon estrogen dalam tubuh, sehingga menempatkan mereka pada risiko penyakit jantung yang lebih besar. 

Selain memberikan efek negatif pada sistem muskuloskeletal, pernapasan, dan kardiovaskular seperti yang telah disebutkan di atas, stres yang berlebih juga dapat berpengaruh terhadap sistem pencernaan hingga sistem reproduksi wanita. Memilih lingkungan yang suportif, melakukan aktivitas fisik secara rutin, dan memastikan tidur cukup merupakan beberapa contoh strategi pengelolaan stres yang dapat dilakukan.

Jangan lupa baca artikel menarik lainnya hanya di Newfemme!