Mitos Tentang Selaput Dara

Mitos Tentang Selaput Dara

Kesehatan 43

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa selaput dara yang robek menandakan bahwa wanita sudah tidak lagi perawan, banyak pula yang menggunakan asumsi ini untuk menilai riwayat aktivitas seksual. Umum disebut dengan tes keperawanan atau virginity test, mungkin sudah tidak asing lagi ya Ladies? Beberapa kondisi juga menggunakan tes ini untuk mengetahui apakah seseorang telah mengalami kekerasan seksual atau tidak.

Ada banyak miskonsepsi mengenai selaput dara sebagai organ yang dituju dalam tes keperawan, sering dipahami bahwa bertujuan untuk mengetahui apakah seseorang sudah pernah berhubungan seks atau tidak. Kenyataannya, satu-satunya cara adalah dengan bertanya. Kegiatan tersebut sering dianggap tidak etis, tidak tepat secara medis, dan traumatis bagi wanita. Ada beberapa mitos terkait hymen yang sering ditemui, berikut penjelasannya ya.

Mitos 1: Selaput dara adalah jaringan membran yang menutupi seluruh lubang vagina.

Faktanya, selaput dara adalah jaringan membran yang mengelilingi lubang vagina. Jadi bukan menutupi ya, itu salah. Dia secara alami ada saat perempuan lahir. Ukuran dan bentuknya bervariasi dan tidak ada standar untuk usia gadis, remaja, atau wanita dewasa. Meskipun begitu, bentuk yang paling umum dimiliki oleh wanita adalah annular, bulan sabit, dan fimbria (seperti jari). 

Bentuknya dapat berubah seiring bertambahnya usia. Saat lahir, hymen menebal, berwarna merah muda pucat, dan berlebihan sehingga bisa saja menonjol. Empat tahun berikutnya hymen dapat berubah menjadi lebih tipis, kemudian menebal lagi saat pubertas. Perubahan-perubahan ini terjadi karena adanya fluktuasi hormon (saat kehamilan, persalinan, penuaan, dan menopause). 

Mitos 2: Ada atau tidaknya selaput dara dapat digunakan untuk menentukan apakah perempuan sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Faktanya, perubahan pada bentuk selaput dara bukan menandakan telah dilakukannya hubungan seks. Indonesia mungkin termasuk negara yang masih menganut budaya bahwa perempuan akan dihargai ketika selaput daranya masih “utuh” atau dalam artian lain adanya selaput dara tersebut menandakan bahwa ia masih perawan. Sudah banyak penelitian yang membantah pernyataan tersebut, bahwa tidak ada hubungan antara penampilan selaput dara dengan riwayat hubungan seksual.

Selaput dara tidak selalu robek dan berdarah setelah berhubungan seks. Kenyataannya adalah hymen merupakan organ yang dapat meregang, sehingga bisa saja bentuknya tetap seperti itu meskipun telah terjadi penetrasi (masuknya organ reproduksi pria ke wanita). Sebanyak 52% remaja yang mengaku telah berhubungan seks tidak memiliki perubahan selaput dara. Sebab lain mengapa hymen berubah adalah karena memasukkan sesuatu seperti benda, jari, kecelakaan, atau pembedahan.

Selaput Dara Robek Tidak Berarti Sudah Berhubungan Seksual

Mitos 3: Pemeriksaan selaput dara dapat menentukan apakah telah terjadi kekerasan seksual

Faktanya, perubahan selaput dara tidak terjadi secara spesifik, sehingga kekerasan seksual tidak dapat disimpulkan begitu saja dengan hanya melihat selaput dara. Bahkan diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang jelas pada anak dengan kekerasan seksual. Pemeriksaan ukuran, lebar, dan laserasi hymen terbukti memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang kurang untuk mengonfirmasi telah terjadi penetrasi vagina.

Pemeriksaan Hymen Tidak Dapat Digunakan Untuk Mengetahui Riwayat Kekerasan Seksual

Oleh karena itu, tidak ada bukti bahwa pemeriksaan selaput dara dapat dijadikan tes yang akurat untuk mengetahui riwayat aktivitas seksual, termasuk kekerasan seksual pada perempuan. Pun karena hymen dapat berubah seiring waktu. Ada banyak faktor yang memengaruhi selain hubungan seks, yaitu kecelakaan, pembedahan, atau memasukkan benda ke dalam vagina. Jadi jangan salah paham lagi ya, Ladies. Baca artikel lainnya di Newfemme yuk!

 

Sumber: 

Mishori, R., Ferdowsian, H., Naimer, K., Volpellier, M., & McHale, T. (2019). The little tissue that couldn’t–dispelling myths about the Hymen’s role in determining sexual history and assault. Reproductive health, 16(1), 1-9.