Tes Kesehatan yang Harus Dilakukan Sebelum Menikah

Tes Kesehatan yang Harus Dilakukan Sebelum Menikah

Kehamilan 48

Sebelum menikah memang banyak yang harus dipersiapkan. Dimulai dari dokumen untuk mendaftarkan pernikahan hingga persiapan serta resepsi. Tapi Ladies dan pasangan juga harus tahu kalau melakukan tes kesehatan sebelum menikah adalah wajib! Tes kesehatan ini disebut juga premarital check-up.

Mengapa Premarital Check-up itu Wajib?

Premarital check-up adalah serangkaian tes kesehatan yang harus dilakukan pasangan sebelum menikah. Tujuannya untuk memeriksa dan mengenali kondisi dan riwayat masalah kesehatan kesehatan masing-masing dari pasangan secara menyeluruh guna menghindari resiko yang akan ditimbulkan kedepannya baik untuk pasangan maupun jika mempunyai anak kelak.

Pentingnya tes kesehatan sebelum menikah ini juga membantu Ladies mengenali serta memiliki gambaran tentang kondisi kesehatan pasangan sehingga turut serta membantu untuk membuat perencanaan yang lebih matang. Manfaat dari rangkaian tes kesehatan sebelum menikah juga ada banyak. Diantaranya adalah mengetahui status kesehatan pasangan, mendeteksi penyakit menular serta mendeteksi penyakit dan kelainan genetik seperti anemia sel sabit, thalasemia dan hemofilia.

Thalassemia adalah salah satu penyakit genetik yang bisa dicegah kalau Ladies melakukan tes pranikah.Thalasemia terjadi saat sel darah merah tidak bisa membawa oksigen ke seluruh tubuh dengan baik. Akibatnya, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan hati dan jantung. Karena berhubungan dengan darah, bayi yang terlahir dari orang tua dengan masalah pada hemoglobinnya bisa memiliki risiko yang cukup besar untuk terkena thalasemia.

Rangkaian Pemeriksaan Kesehatan Pranikah

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memaparkan beberapa jenis pemeriksaan yang akan dilakukan dalam rangkaian premarital check-up yang harus dilakukan pasangan sebelum menikah:

1. Pemeriksaan darah lengkap

Biasa juga disebut complete blood count (CBC). pemeriksaan ini akan melihat komponen yang ada di dalam darah untuk mengetahui kesehatan seseorang secara umum. Kondisi yang bisa dideteksi dari pemeriksaan darah diantaranya adalah anemia, leukemia, reaksi inflamasi serta infeksi, penanda sel darah tepi tingkat hidrasi dan dehidrasi serta polisitemia pada individu. Pemeriksaan darah tentunya juga bisa melihat apakah calon orangtua beresiko melahirkan anak dengan thalasemia atau hemofilia.

2. Pemeriksaan golongan darah dan rhesus

Kecocokan rhesus pasangan akan berefek pada ibu dan bayi. Karena jika calon pasangan memiliki rhesus yang berbeda akan membahayakan bagi ibu ataupun calon bayi. Misal calon pasangan memiliki rhesus positif sedangkan Ladies memiliki rhesus negatif, kemungkinan Ladies aka mengandung rhesus yang berbeda. Darah ibu dapat merusak sel darah janin dan bisa menyebabkan gangguan atau gangguan organ vital janin yang lain.

3. Pemeriksaan gula darah

Tes ini bisa mengetahui risiko kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia). Gunanya mengetahui gula darah pada calon ibu dan ayah adalah untuk mencegah timbulnya komplikasi diabetes selama kehamilan, kelahiran prematur, keguguran dan juga bayi lahir mati atau stillbirth.

4. Pemeriksaan urin (urinalisis)

Urinalisis diperlukan untuk mendeteksi penyakit metabolik maupun sistemik. Urinalisis juga dapat mendeteksi gangguan pada ginjal. Nantinya urin akan dilihat berdasarkan warna, tingkat kejernihan, jumlah serta kandungan zat kimia yang terkandung dalam urin.

5. Pemeriksaan HIV/AIDS

Tentunya tes ini menjadi wajib karena HIV/AIDS rentan sekali untuk diturunkan pada janin. Makanya perlu cari tahu jika salah satu di antara pasangan memiliki HIV/AIDS. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel darah.

6. Pemeriksaan infeksi menular seksual

Pemeriksaan IMS (Infeksi Menular Seksual) dilakukan dengan uji VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) atau RPR (Rapid Plasma Reagin). Sampel darah yang diambil nantinya akan diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi antibodi yang bereaksi terhadap bakteri penyakit sifilis. Tapi perlu diketahui VDRL dapat memberikan hasil positif yang salah terhadap sifilis bila seseorang ternyata memiliki penyakit infeksi lain seperti HIV, malaria atau pneumonia. Maka perlu pemeriksaan lebih lanjut.

7. Pemeriksaan hepatitis B

Cara mendeteksi infeksi hepatitis B adalah dengan menjalankan tes HBsAg (hepatitis B surface antigen). Jika HBsAg menetap dalam darah lebih dari 6 bulan, artinya mengalami infeksi kronis. Pemeriksaan ini nantinya bisa mencegah penularan virus hepatitis B, baik pasangan atau calon anak karena hepatitis B bisa menyebabkan cacat atau kematian selama kehamilan.

8. Pemeriksaan TORCH

TORCH atau toxoplasma, rubella, cytomegalovirus dan herpes simplex yang merujuk pada beberapa penyakit yang menyebabkan kelainan serta gangguan saat hamil. Infeksi TORCH saat hamil atau di atas empat bulan sebelum hamil berisiko keguguran, bayi lahir prematur dan juga cacat bawaan pada bayi.

Nah, Ladies, berikut rangkaian tes kesehatan sebelum menikah. Ingat ya kalau tes kesehatan sebelum menikah itu penting dan hasil dari tes kesehatan ini bisa membantu pengambilan keputusan.

 

Referensi:

https://www.moh.gov.sa/en/HealthAwareness/Beforemarriage/Pages/default.aspx

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3915444/

https://promkes.kemkes.go.id/7-jenis-tes-dalam-cek-pra-nikah-yang-akan-dijalani-calon-pengantin