Logo NewFemme
Anak Mengalami Toxic Pertemanan? Selamatkan dengan Hal Ini!

Anak Mengalami Toxic Pertemanan? Selamatkan dengan Hal Ini!

Parenting 136

Toxic pertemanan marak terjadi di lingkungan sekolah hingga komunitas remaja yang sudah lulus sekolah. Toxic pertemanan ini akan membuat seseorang tertekan mentalnya bila parah.

Ketika anak kita mengalami toxic pertemanan, awal mendengar keluhannya pasti ingin marah pada teman-temannya yang melakukan. Namun, sebaiknya tahan dahulu amarahnya jangan dilampiaskan pada mereka. 

Sebelumnya kita harus tahu lebih dulu apa itu toxic pertemanan, apa saja macam dan bagaimana menyelamatkan ketika anak kita mengalami hal tersebut.

Apa Itu Toxic Pertemanan

Toxic pertemanan adalah hubungan pertemanan yang menyebabkan seseorang merasa tidak didukung, selalu disalahkan, direndahkan atau bahkan diserang dan segala hal buruk lainnya. 

Seseorang ini bisa disebut sebagai korban toxic pertemanan, bukan hanya membuatnya sedih atau takut, tapi dapat merusak banyak hal, termasuk kehilangan harga diri.

Macam Toxic Pertemanan

Pertemanan yang merugikan salah satu pihak tersebut diantaranya:

Tekanan langsung 

Misalnya, tekanan dari orang lain pada korban dalam berpakaian, berpenampilan atau bergaya tertentu.

Tekanan tidak langsung 

Misalnya aturan yang dibuat yaitu “jika memainkan game ini atau menonton program ini, maka akan menjadi bagian dari grup pertemanan ini”.

Tekanan negatif 

Tekanan negatif terjadi pada seorang anak yang terkadang ditantang untuk berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan moral etika atau nilai-nilai keluarga mereka, seperti memperlakukan seseorang dengan buruk, mengintimidasi atau mengutil.

Tekanan positif 

Ketika seorang anak dipengaruhi untuk melakukan hal-hal yang sehat, sesuai usia dan dapat diterima secara sosial. Misalnya, bergabung dengan klub atau menyelesaikan pekerjaan rumah.

Menyelamatkan Anak dari Toxic Pertemanan

Toxic pertemanan diterima secara langsung maupun di dunia maya melalui media sosial. Tekanan di media sosial berupa tulisan komentar atau tanggapan yang meresahkan korban.

Orang tua atau keluarga di rumah sebagai pihak yang siap melindungi bila ada anggota keluarga lain mengalami toxic pertemanan atau perlakuan yang tidak sesuai dari komunitasnya, yaitu dengan cara sebagai berikut:

Yakinkan dukungan keluarga

Meskipun anak memerlukan teman-teman atau komunitasnya, tetapi jika sudah mengalami toxic maka sebaiknya pelan-pelan mengurangi intensitas pertemuan. Bila masih mengalami toxic, keluarga bisa mendukung dengan selalu ada jika dibutuhkan.

Ajari menolak tekanan toxic

Ketegasan dimulai dari kebiasaan kecil di rumah dan bisa diimplementasikan pada pertemanan di luar rumah. Menuruti satu pemaksaan hanya akan berlanjut pada pemaksaan berikutnya dan akan terjadi terus menerus. Kuatkan agar anak berani berkata ‘tidak’ jika tidak sesuai.

Dukung pertemanan sehat anak 

Orang tua yang peduli akan mengenali teman-teman atau komunitas anaknya. Mendukung pertemanan mereka salah satunya dengan sesekali mengajak makan bersama, ngobrol santai bahkan pergi bareng beramai-ramai.

Ajari problem solving

Mengajak diskusi atau ngobrol santai untuk membuka peluang menggali pendapat mereka tentang suatu masalah sekaligus cara menyelesaikannya. Masalah itu sebagai pemantik untuk semakin mendewasakan cara berpikir anak.

Terbuka pada anak

Bersifat terbuka pada anak akan membantunya tumbuh menjadi sosok yang kuat dan mandiri. Pertebal empati sehingga tahu apa yang dialami anak, dengan tetap punya batasan sebagai orang tua. 

Pahami era anak

Masa kehidupan anak pasti berbeda dengan yang sudah dialami orang tua. Orang tua perlu tahu meski tidak masuk di dalamnya guna antisipasi sejak dini bila terjadi penyimpangan dan juga menjadi tahu kesulitan apa yang dihadapi anak di era-nya.